(Anggota Komunitas Sahabat Hijrah Banggai Laut, Sulteng)
Seperti diketahui, berbagai krisis telah menimpa Indonesia mulai dari krisis 1998 hingga pandemi Covid-19. Namun Indonesia harus tetap tangguh dan terus tumbuh. Inilah yang menjadi tema HUT Ke-76 RI, "Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh."
Dibalik tema ini, tentu ada pesan optimisme didalamnya yakni harus tangguh menghadapi berbagai krisis. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Kepala Sekretariat Presiden, Heru Budi Hartono.
"Indonesia Tangguh menghadapi berbagai krisis yang selama ini menempa. Dengan ketangguhan dan berbagai upaya yang dilakukan di masa pandemi maka Indonesia akan tumbuh." (Detik.com, 17/06/2021)
Akankah Indonesia Tumbuh dan Bangkit?
Berkaca pada realita yang ada, negeri ini justru berada di bawah bayang-bayang negara adidaya kapitalisme-sekularisme yang mengagungkan materi. Segala tindak tanduk negara penganut sistem ini senantiasa di diukur pada keuntungan, kekayaan, serta kepentingan individu dan kelompok tertentu.
Jaring-jaring kapitalisme inilah yang berhasil membekam negara ini agar tunduk terhadap segala kebijakan yang di bangun atas dalih kerja sama internasional, yang faktanya menguntungkan sebagian pihak.
Outputnya negara akan menyerahkan sebagian SDA negeri ini, peralihan operator jatuh ke tangan negara adidaya. Sehingga pendapatan negara dari sumber kepemilikan umum misalnya tambang, emas, air, gas, minyak bumi, dll, menjadi hak kepemilikan para korporasi dan pemilik modal.
SDM dalam negeri yang memiliki peran penting dalam pembangunan, mampu meluncur di kancah internasional, serta memiliki daya potensi tinggi untuk menjadikan negeri terdepan, kini direnggut dan dimanfaatkan guna mengelolah SDA vital dan bisnis global untuk produksi barang dan jasa korporasi milik mereka.
Selain itu, keterikatan eksistensi negeri penjajah masih terus dirasakan yakni penjajahan pemikiran yang masif digencarkan. Pemikiran masyarakat disetir untuk menerima segala emotif para kapital yang beranak pinak di negeri zamrud khatulistiwa. Pembentukan pemikiran masyarakat yang berada di wilayah jajahan akan direlasikan sesuai kepentingan para korporasi dan pemilik modal.
Memang benar, secara fisik, merdeka, namun tidak secara batin; kesusahan, keterpurukan, tekanan, intimidasi, ketidakadilan, dan kezaliman makin mendongkrak negeri ini. Pendidikan mahal, layanan kesehatan yang tidak merata, kemiskinan yang semakin meningkat, tatanan ekonomi yang kapitalistik, tingkat sosial yang individual dan egoistik. Ditambah lagi masyarakat harus dihadapkan dengan Covid-19 yang semakin merebak tanpa penyelesain yang tuntas. Alih-alih menyelesaikan yang terjadi malah kesedihan dan kesusahan yang kian menghiasi tatanan hidup masyarakat.
Fungsional negara tidak lagi bekerja secara mandiri. Mobilisasi SDA dan SDM tidak lagi dikelola dalam negeri. Negara jauh dari kata tumbuh dan berkembang. Masyarakat fatalistik pasrah terhadap nasib buruk yang langgeng di negeri ini.
Bagaimana bisa Indonesia dikatakan tumbuh dan berkembang, jika sekiranya SDA, SDM, politik, ekonomi, pendidikan, budaya dll, masih berada di bawah kekangan negeri penjajah penganut sistem kapitalisme-sekularisme. Miris!
Kemerdekaan Hakiki, Tumbuh dan Tangguh, Hanya dengan Islam
Kemerdekaan hakiki pernah ditemukan didalam peradaban Islam yang telah memberikan sumbangsinya dalam kurung waktu 14 abad. Peradaban tersebut dikenal dengan khilafah islamiyah. Khilafah berhasil menjadi contoh sejarah masa lalu dalam memerdekakan negara dan terlepas dari penjajahan negeri adidaya rakus. Bahkan khilafah menjadi negara tumbuh dan tangguh hingga berhasil menguasai 2/3 Dunia.
Khilafah menjadi negara mandiri dan berdaulat, bebas dari keterikatan dengan negara manapun. Khilafah berhasil menempatkan politik luar negerinya dengan benar. Sehingga terhindar dari kegoyahan kedaulatan negara.
SDA dan SDM dikelola mandiri oleh negara. Sumber kepemilikan umum diriayah demi tercapainya kesejahteraan dan pembangunan secara merata, tidak ada istilah pembebekan terhadap negara lain, sikap independen negara semakin produktif dan berkualitas.
Baitul Mal menjadi lembaga terdepan dalam pengambilan, pengolahan, penyimpanan, dan pendistribusian keuangan negara. Peta jalan Baitul Mal inilah yang menjadi instrumen tambahan dalam mengurusi keperluan negara. Ditambah lagi sistem ekonomi khilafah jauh dari praktik ribawi. Ini yang semakin menambah kejayaan dan keberhasilan negara.
Parameter kemerdekaan hakiki pernah disampaikan oleh Rabi bin Amir delegasi yang diutus oleh panglima Sa'ad bin Abi Waqas menjelang perang qodisyiah kepada negara adidaya saat itu yakni Persia.
Rabi bin Amir menyampaikan bahwa, "Kami datang untuk memerdekakan manusia dari penghambaan kepada sesama menuju penghambaan kepada Allah SWT. Dari kesempitan dunia menuju kekuasaan-Nya, dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam."
Kemerdekaan hakiki bermuara pada sikap ketaatan kepada syariat Islam secara kaffah. Menghilangkan keterlibatan diri terhadap aturan dan hukum buatan manusia dan beralih pada aturan dan hukum yang berasal dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Esa.
Sebagaimana khilafah islamiyah berhasil mengalihkan dan merubah kebiasaan buruk imperium Persia dan tekanan para rahib di Romawi, menjadi imperium yang terbebas dari penjajahan ego dan hawa nafsu manusia.
Sayangnya, Islam kini hanya dikenal sebatas agama ritual semata dan bukan sebuah ideologi yang memiliki aturan sistematis dalam mengurusi urusan umat.
Oleh karena itu, kemerdekaan hakiki dapat dicapai dengan menerapkan Islam sebagai ideologi. Politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, budaya akan diimplementasi selaras dengan syariat Islam, maka kemerdekaan hakiki, tumbuh dan tangguh akan dirasakan secara menyeluruh. Sebagaimana yang pernah dipraktikkan khilafah islamiyah dulu.
Kabar gembiranya, bahwa khilafah akan kembali menduduki dunia sesuai metode nubuwah sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW.,
تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن يكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون ملكا جبرية فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة ثم سكت
“Adalah Kenabian (nubuwwah) itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak kenabian (khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), yang ada atas kehendak Allah. (HR. Ahmad)
Wallaahu a'lam bishshawab

No comments:
Post a Comment