Oleh: Umul Bariyah (Aktivis Muslimah)
Baru kemarin negri tercinta Indonesia ini memperingati Hari kemerdekaannya yang ke-76. Kumandang lagu kebangsaan serta pekik kemerdekaan bergema di seantero Nusantara. Di lihat dari usia yang seharusnya gemilang, sudahkah kita benar benar merdeka?
Sudahkah kata kata tangguh dan tumbuh pantas disematkan pada kenyataan Indonesia sekarang? Tangguh dan tumbuh dalam sisi dan bidang apa? Pandemi covid 19 ini pun tak jua beranjak dari bumi pertiwi, bahkan makin menggila dan merajalela dengan merenggut korban nyawa yang mencapai ratusan ribu jiwa. Banyak anak yang menjadi yatim piatu, banyak suami yang kehilangan istri atau sebaliknya. Keterlambatan, keteledoran dan sikap meremehkan dalam menangani wabah menambah daftar hitam pemerintah akan ketidakbecusan dalam menangani suatu masalah.
Andai di awal pandemi muncul, pemerintah sigap menangani dan mengadakan lockdown secara nasional, tentu keadaaan pandemi tidak akan separah ini. Belum lagi tentang aturan PPKM yang terus diperpanjang, membuat rakyat terjerembab dalam masalah pekerjaan dan berimbas pada masalah kebutuhan perut. Pandemi ini juga menambah jutaan daftar korban orang yang sakit dan terinfeksi virus. Ketika anggota keluarga sakit, beban berobat yang semestinya diharapkan berbiaya murah, justru dibuat dengan konsep taawun berbalut riba. Benarkah ini yang disebut merdeka?
Indonesia tumbuh Indonesia Tangguh hanya ikon belaka, yakni slogan kosong untuk mengangkat citra Indonesia yang sudah tak berdaya lagi. Tumbuh dan tangguh dari mana, jika negeri ini masih mengandalkan pemasukan negara dari pajak dan hutang riba? Negeri Indonesia, negeri terbesar jumlah penduduk muslim di dunia tapi terlilit dan tercekik hutang ribuan triliyun rupiah berbasis riba berbunga haram.
Sementara kemiskinan dan pengangguran semakin meluas ditambah beban hidup terasa berat, harga sembako semakin merangkak naik dan nyaris tak terbeli, ditambah beban berbagai pajak yang kian mencekik. Kenyataan bahwa banyak anak bangsa yang menjadi babu di luar negeri yang menjadi korban kekerasan, dianiaya dan disiksa secara keji, karena negri sendiri belum mampu memberikan pekerjaan yang layak dan mensejahterakan. Benarkah ini yang disebut merdeka?
Tumbuh dan tangguh dari sudut mana, ketika anak negri terjerembab watak amoral? Sekolah online yang diharapkan bisa mengganti pelajaran tatap muka di sekolah, justru semakin membuat anak bebas mengakses situs pornoaksi dan pornografi, dan menganggap seks di luar nikah menjadi biasa. Berbagai perombakan sistem pendidikan dan kurikulum bukannya memudahkan, tapi membuat rakyat miskin makin sulit mengakses pendidikan. Bagaimana tidak, saat ini beli pulsa kuota sama pentingnya dengan membeli beras, bayar listrik dan bayar air bulanan.
Belum lagi masalah narkoba yang menggila dan merajalela. Dan satu hal yang tidak bisa dipungkiri ketika biaya sekolah semakin mahal, membuat harapan orang tua untuk menjadikan anak anak pintar bagaikan mimpi. Generasi penerus bangsa sulit membuat prestasi. Jika sudah begini, 20 tahun ke depan akan seperti apa kualitas pemimpin negri ini? Benarkah ini yang disebut merdeka?
Negri katulistiwa ini dihampari kekayaan alam yang luar biasa, yang konon amat terkenal dengan julukan negri 'gemah ripah loh jinawi' yang sumber daya alamnya melimpah, tanah subur nan membentang serta lautan yang luas. Kalau dilihat dari keadaan itu, harusnya rakyat Indonesia hidup dalam keadaan berkecukupan dan sejahtera. Tapi pada kenyataannya justru rakyat berada dalam kubangan kebodohan dan kemiskinan. Bagaimana tidak, karena semua kekayaan alam dieksploitasi dan dimiliki asing dan aseng. Hal yang juga tidak kalah pentingnya, ketika di negara ini korupsi menjadi budaya, kolusi makin menganga, dan nepotisme makin menggila. Benarkah ini yang disebut merdeka?
Sejatinya menurut Islam, merdeka adalah ketika manusia terbebas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia. Terbebasnya segala bentuk penjajahan baik secara fisik maupun pemikiran. Ketundukan bukan pada hukum buatan manusia tetapi penghambaan secara langsung hanya kepada hukum Allah melalui kitab dan sunnahNya. Wajarlah jika hari ini kesedihan tak berkesudahan, ketidakadilan dipraktekkan, dan krisis yang terus menyengsarakan adalah buah dari diterapkannya hukum buatan manusia. Meniadakan campur tangan Allah sang Khalik dan Mudabbir.
Sudah saatnya kita tunduk sepenuhnya kepada seluruh perintah dan larangan Allah. Serta melepaskan diri dari belenggu sistem yang bertentangan dengan tauhid dan segera menegakkan hukum Islam. Bangkitlah negriku dan berpijaklah pada asas dan aturan yang hakiki. Wallahu'alam bi shawab

No comments:
Post a Comment