Oleh: Susi Damayanti (Praktisi Pendidikan)
Pemilihan umum Indonesia 2024 adalah sebuah prosedur atau tata cara demokrasi dalam memilih Presiden dan wakil presiden RI periode 2024-2029. Pemilu Presiden dan Legislatif disepakati akan dilaksanakan pada Rabu, 28 Februari 2024 mendatang. Pemilihan ini menjadi pemilihan presiden langsung ke-5 di Indonesia.
Bachtiar (Menteri Dalam Negeri), dalam diskusi daring yang bertajuk implikasi batalnya revisi UU pemilu pada Sabtu 13 Maret 2021. Ia menjelaskan alasan hitungan dimulai tahapan Pemilu 2024 dengan menggunakan dasar UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang pemilu. Berdasarkan UU tersebut perlu 20 bulan untuk menyiapkan segala tahapan sebelum pemilu terlaksana, sementara untuk Pilkada butuh waktu 12 bulan untuk mempersiapkannya.
Pemilu tersebut digadang-gadang akan dilaksanakan pada awal tahun 2024 dan Pilkada serentak akan dilaksanakan pada akhir tahun 2024. Dengan rentan waktu yang sudah ditentukan, masyarakat bertanya-tanya kenapa tampang para capres, caleg sudah dipasang di mana-mana padahal masih menginjak tahun 2021? Kita sebagai masyarakat pun bisa menghitung kalau persiapan tahapan sebelum Pemilu terlaksana paling tidak masih sekitar Tahun 2022. Ini ada apa? Kenapa baliho para capres, caleg terpasang di sepanjang jalan? Apalagi di tengah situasi kritis pandemi Covid-19. Di mana empati mereka? Apakah fokus jabatan lebih utama daripada memikirkan nasib rakyat? Bukankah jabatan adalah amanah titipan rakyat? Lantas, harus ke mana rakyat mengadu tentang nasib mereka jika para pemimpin hanyalah sosok pemburu jabatan, minim empati dan tak peduli nasib rakyat. Seolah rakyat adalah batu pijakan untuk mendapatkan kursi tahta belaka.
Jika kita melihat bagaimana pemilihan seorang pemimpin dalam Islam, maka hal tersebut sangat jauh berbeda dengan saat ini. Dalam Islam, seorang dipilih bukan karena wajah, harta, atau ketenaran. Seseorang dipilih untuk menjadi pemimpin umat adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa, benar benar amanah, mampu menjalankan tugas kepemimpinannya, tidak ingkar janji (lips service), disamping syarat2 yang membangun dan sangat manusiawi. Bahkan dalam proses pemilihannyapun tidak harus berbiaya mahal sebagaimana saat ini.
Dapat kita saksikan saat ini, saat banyak rakyat menjerit kelaparan karena susahnya mencari sesuap makan, susahnya mencari pekerjaan bahkan kalaupun sudah kerja ternyata banyak yang terkena PHK karena banyaknya perusahaan terdampak pandemi ini. Nampaknya hal ini kurang membuat empati diantara para pesohor dan pemimpin negeri. Disaat yang lain kelaparan, yang lainnya malah dengan bangga memasang poster, baliho baliho di jalan jalan yang terpampang di papan reklame. Pemasangan reklame, baliho dan poster ini memakan biaya hingga ratusan juta, bahkan milyaran rupiah.
Belum nanti kalau sudah ketuk palu untuk action kampanye. Entah perlu berapa rupiah lagi untuk digelontorkan. Alih-alih harta mereka mengalir untuk membantu masyarakat yang kelaparan, justru hanya untuk mendapatkan jatah kursi jabatan.
Jika kita melirik sistim pengangkatan pemimpin dalam islam itu sangat sederhana dan tidak butuh proses yang lama maupun tidak membutuhkan modal yang banyak. Tidak perlu pemasangan baliho, reklame dan poster untuk menjunjung nama mereka. Dikarenakan cukup hanya beberapa hari saja dalam memilih pemimpin umat sehingga tidak membutukhan Waktu lama. Bisa hemat waktu dan biaya. Pemimpin yang terpilihpun bukan pemimpin yang hanya bisa lips service dan mengobral janji-janji manis.
Pemimpin dalam sistem islam adalah pemimpin yang benar benar amanah, dipercaya umat, saling mendoakan dan bekerjasama untuk melakukan perbaikan serta saling menjaga diantara sesama. Pemerintahan yang dibentuk untuk meriayah urusan ummat, inilah pemerintahan yang berdasarkan pada perintah Sang Kholiq. Yaitu pemerintahan yang berbentuk kekhilafahan ala minhajin nubuwwah.
Rasulullah SAW dengan sabdanya:
إِنْ شِئْتُمْ أَنْبَأْتُكُمْ عَنِ الإِمَارَةِ وَمَا هِيَ؟ أَوَّلُهَا مَلامَةٌ، وَثَانِيهَا نَدَامَةٌ، وثَالِثُهَا عَذَابٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلا مَنْ عَدَلَ
“Jika kalian mau, aku akan memberitahu kalian tentang kepemimpinan (al-imârah), apakah itu? Awalnya adalah celaan. Yang kedua adalah penyesalan Yang ketiganya adalah azab pada Hari Kiamat kecuali orang yang berlaku adil,” (HR. al-Bazar dan ath-Thabrani)
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِي ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

No comments:
Post a Comment