(Mahasiswi dan Pegiat Literasi Aceh)
Tepat pada Minggu, 13 Juni 2021 malam setelah Benjamin Netanyahu secara resmi mengundurkan diri, kini Israel telah memiliki pemerintahan baru yang dijabat oleh Naftali Bennet sebagai Perdana Menteri dengan memenangkan suara 60 banding 59 di parlemen.
Sistem pemerintahan yang berdasarkan demokrasi parlementer ini, menjadikan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan, sehingga segala keputusan yang ada dalam pemerintahan Israel kini berpusat pada Bennet.
Bennet yang kini berusia 49 tahun merupakan perdana menteri Israel pertama yang taat beragama (nasionalis yahudi) dan juga pernah menjabat sebagai mantan komandan pasukan khusus Israel.
Pidato kemenangan pertama di ruang parlemen Israel, Naftali Bennet berulang kali dicemooh dan diejek. Kendati demikian, ia tetap melanjutkan pidato dan menyatakan akan menjadi Perdana Menteri bagi semua warga Israel, termasuk mereka yang tidak memilih dirinya. Ia juga berjanji untuk membuka babak baru dengan warga Arab Israel (news.okezone.com, 15/06/2021).
Terpilihnya Bannet sebagai Perdana Menteri, Palestina menyatakan tidak mengharapkan banyak perubahan. Hal ini selaras dengan Hamas yang juga memprediksi jika pemerintahan sekarang tak akan memberi perubahan pada kasus damai Israel-Palestina karena Bennett dikenal anti-Palestina, bahkan kerap melontarkan ujian kebencian pada Palestina dan malah menganggap solusi dua negara bisa membunuh negaranya sendiri yakni Israel.
Hamas juga menganggap jika kepemimpinan Israel kini justru paling lemah dalam sejarah karena Israel mengalami krisis politik sehingga pemilu dilakukan empat kali dalam dua terakhir ini. Pemerintahan Bannet pun dianggap tidak akan lama, beberapa bulan saja karena mereka hanya punya tujuh kursi dari 120 kursi parlemen di Knesset (www.cnnindonesia.com, 18/06/2021).
Berbeda dengan Hamas, beberapa pemimpin negara lainnya seperti Amerika Serikat, Jerman, Austria, Inggris dan Kanada justru menyambut baik Bannet dan mendukung pemerintahannya dengan terus melakukan kerja sama.
“Amerika Serikat tetap teguh dalam mendukung keamanan Israel. Pemerintahan saya berkomitmen penuh untuk bekerja dengan pemerintah Israel yang baru untuk memajukan keamanan, stabilitas, dan perdamaian bagi orang Israel, Palestina, dan orang-orang diseluruh wilayah yang lebih luas,” kata Presiden Amerika Serikat, Joe Biden.
Sementara itu, konselir Austria Sebastian Kurz di akun twitter-nya juga menyatakan, “Austria berkomitmen untuk Israel sebagai negara Yahudi dan demokratis dan akan terus berdiri di sisi Israel.” (International.sindonews.com, 14/06/2021)
Bagi mereka, kepemimpinan baru Israel kini memang tidak menjadi persoalan karena mereka pun ikut memihak pada Israel. Berbeda dengan muslim yang mana kepemimpinan itu akan mempengaruhi bagaimana tanah suci Palestina kelak.
Bannet yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaan pada Palestina tidak pernah menginginkan solusi dua negara seperti visi dan misi pemerintahan terdahulu. Bennett hanya ingin Israel dan Palestina menjadi tanah Yahudi seutuhnya.
Hal itu justru akan memperburuk keadaan Palestina dengan penjajahan dan gencatan senjata tanpa henti. Tak ada yang akan memberikan pertolongan secara utuh karena peran negara-negara Barat lebih mendominasi dan mendukung Israel.
Jika pun ada negara-negara muslim yang mendukung Palestina, tak bisa berbuat banyak dan bahkan tidak mampu meminimalisir penjajahan yang terjadi. Hal ini karena negara-negara muslim tidak punya kuasa lebih dari negara-negara adidaya yang membersamai Israel.
Narasi perdamaian antar keduanya pun hanya sekedar narasi tanpa adanya bukti. Negara-negara adidaya yang berkuasa sama sekali tidak membuat kebijakan atau melarang Israel melakukan penjajahan di bumi Palestina karena lagi-lagi mereka tidak berpihak pada negeri itu, melainkan pada orang-orang Yahudi.
Pun termasuk solusi dua negara yang ditawarkan. Ini bukan jalan keluar yang bijak karena dengan mengakui Israel sebagai negara sama saja mengakui penjajahan dan kezaliman yang telah dilakukan. Padahal sudah jelas jika kezaliman yang dilakukan sangat brutal dan tidak manusiawi.
Selain itu, tak ada negara Israel hanya ada negara Palestina karena pada hakikatnya orang-orang Yahudi yang hidup di Palestina diberikan tempat tinggal oleh orang-orang Palestina ketika terjadi eksodus besar-besaran di seluruh Eropa.
Eksodus inilah yang akhirnya melahirkan Deklarasi Balfour yang mempelopori berdirinya tanah air Yahudi di Palestina sebagai janji kepada anggota zionis Inggris Raya, Walter Rothschild.
Deklarasi Balfour tersebut merupakan tindakan lanjut dari memorandum rahasia yang disampaikan oleh anggota organisasi Zionis, Herbert Samuel yang berjudul "Masa Depan Palestina" kepada Walter Rothschild.
Singkatnya, para zionis itu ingin mengambil tanah suci Palestina dan menjadikannya sebagai tanah yang dijanjikan, yakni tanah yang dijanjikan oleh Allah kepada mereka. Namun, tanah yang dijanjikan tersebut tidak lagi menjadi hak Yahudi ketika mereka bersikap sombong kepada Allah dan membuat kerusakan di muka bumi yang jelas-jelas sangat dilarang dalam Islam.
Sudah keharusan bagi muslim untuk melawan bentuk penjajahan yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina karena selama Palestina masih dalam kukungan Israel selama itu pula muslim harus melindungi.
Tak hanya sekedar memberikan do'a dan donasi, tapi juga hal-hal krusial yang bantuannya bersifat jangka panjang.
Jika hanya do'a dan donasi maka orang-orang Yahudi tidak terus melakukan penjajahan yang brutal.
Melihat keadaan negeri muslim saat ini, justru sulit dilakukan bantuan jangka panjang yang memang benar-benar mampu mengatasi masalah Palestina.
Cara terbaik yang dapat dilakukan ialah dengan kekuatan persatuan kaum muslimin untuk memerangi kaum Yahudi di tanah Palestina. Persatuan dalam perperangan akan membuat kekuatan muslim lebih besar dan solid.
Tentu saja perperangan ini tak serta-merta dapat dilakukan oleh keadaan muslim saat ini, harus ada perisai yang membetentengi dan ini ada pada Khilafah Islamiyyah yang mana akan ada Khalifah sebagai pemimpin umat untuk mengayomi, melindungi, dan menjaga kehormatan kaum muslim.
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw. yang artinya, "Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung), dan berlindung (dari musuh dengan (kekuasaannya) nya." (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)
Dengan demikian, Khilafah dan perang adalah cara terbaik untuk melawan penjajahan Yahudi seperti yang telah dilakukan oleh Umar bin Khattab ra, Sultan Abdul Hamid II, dan Salahuddin Al-Ayyubi. Mereka memberikan teladan yang baik bagaimana cara menyelesaikan permasalahan Palestina dengan begitu adil dan bijaksana dalam naungan Khilafah Islamiyyah.
Wallahu'alam bishawab

No comments:
Post a Comment