Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Idul Adha, Pengorbanan Hakiki pada Ilahi

Tuesday, July 27, 2021 | Tuesday, July 27, 2021 WIB

Oleh : Dewi Kania
(Ibu Rumah tangga) 

Tahun ini, umat Islam merayakan Idul Adha 1442 H masih dalam suasana Pandemi. Pada saat yang sama, perekonomian masyarakat masih terpuruk. Keadaan ini dialami juga oleh sebagian para peternak sapi, mereka khawatir tidak bisa memasarkan hewan untuk qurban. Namun, dua pekan menjelang perayaan Idul Adha 2021 Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Sumedang, Jawa Barat Nandang Suparman memastikan tidak ada sapi yang terdeteksi virus atraks di wilayahnya. " Hingga saat ini di Sumedang tidak ada sapi terdeteksi atraks," ujar Nandang. Meski begitu, tetap harus waspada terhadap sebaran penyakit atraks di wilayah setempat menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha. Penyembelihan tetap di laksanakan dengan himbauan supaya pelaksanaan pemotongan hewan di tempat khusus penjualan.

Kebijakan di atas berkaitan erat ketika diberlakukannya PPKM. Sebagian masyarakat merasa dirugikan. Seperti yang dirasakan para pedagang di Pasar Hewan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Mereka kecewa atas sikap Pemkab Sumedang yang menutup pasar tersebut tanpa sosialisasi sebelumnya. Padahal, dua pekan lagi umat Islam akan merayakan Hari Raya Idul Adha yang otomatis akan membutuhkan hewan qurban untuk melengkapi ibadahnya. Kondisi ini sangat merugikan para pedagang hewan qurban, selain sudah datang dari tempat yang jauh ditambah sepinya para pembeli. Seharusnya Pemkab Sumedang dapat memberikan toleransi kepada para pedagang hewan qurban ini. Kendati demikian, pada akhirnya para pedagang hanya bisa menerima kebijakan itu walaupun dengan perasaan kecewa. Mereka merasa dilema, di satu sisi mereka berharap mendapat keuntungan, di sisi lain mereka harus mematuhi kebijakan. 

Walaupun masih diselimuti pandemi, umat Islam tetap menyambut hari Idul Adha dengan penuh sukacita. Namun tidak semeriah saat sebelum pandemi, karena di beberapa tempat salah Ied tidak boleh diselenggaralan secara berjamaah dengan kelompok yang besar. Hal ini tentu saja memicu keresahan sebagian masyarakat, karena hal beribadah mereka dibatasi. Selain hal di atas, rakyat juga dipusingkan dengan berbagai kesulitan hidup , di antaranya soal pangan, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan bidang-bidang yang lain. Apalagi saat ini Ketika PPKM diperpanjang lagi dengan berbagai alasan, sebagian masyarakat merasa dirugikan dan bingung harus bagaimana karena ruang gerak mereka terbatas dalam mencari nafkah demi keberlangsungan hidupnya. 

Hari raya Idul Adha seharusnya menjadi momen dimana kita diingatkan kembali bagaimana perjuangan Nabi Ibrahim as, dan Ismail as, penuh keyakinan yang kokoh dan pengorbanan yang besar kepada Allah Swt. Ketika turun perintah Allah untuk menyembelih putra kesayangannya, meski berat namun disambut oleh Ismail as, dengan penuh kesabaran. Ismail as, pun mengukuhkan keteguhan jiwa ayahnya, kokoh tercantum dalam salah satu surat yang artinya, "maka ketika anak itu sampai (pada umur)sanggup berusaha bersamanya( Ibrahim) berkata,"wahai anakku!. Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu, "Dia(Ismail)menjawab, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (QS ash Shaffat{37}:102). 

Keyakinan semacam itu seharusnya menjadi motivasi bagi kita semua, terutama disaat Pandemi. Kesabaran dan tawakal bisa kita jadikan senjata untuk tetap menjalani kehidupan walaupun terasa sulit. Sebagai umat Islam yang berpegang teguh pada segala ketetapan Allah Swt, tidak ada yang lebih berarti selain mendekatkan diri kepada Sang khalik. Selain Rida dan bersabar, kaum muslim juga diperintahkan untuk melakukan muhasabah. Umat wajib muhasabah atas kemungkinan dosa- dosa yang dilakukan, yang menyebabkan datangnya bencana. Allah mengingatkan bahwa beragam bencana datang justru karena ulah manusia sendiri. Kita lihat faktanya bahwa mayoritas umat Muslim justru banyak melakukan pelanggaran-pelanggaran dan kemungkaran- kemungkaran. Maka tidaklah heran jika Allah menurunkan wabah pandemi yang mengakibatkan banyak korban meninggal, termasuk orang-orang shalih. Dilaporkan Selama pandemi ini sebanyak 584 ulama meninggal, belum termasuk para ustad pembibing umat yang dikabarkan wafat karena wabah, dikutip dari Kaffah, edisi No. 200). Kejadian ini seharusnya menyadarkan kaum Muslim untuk melakukan tawbat{tan} nasuha. Kembali kepada Allah dengan menaati semua aturan-Nya, dan saatnya kita campakkan sistem kufur buatan manusia yang hanya menimbulkan kesengsaraan. Kini umat harus kembali pada sistem Islam, satu-satunya sistem yang dapat melindungi seluruh kehidupan umat manusia seutuhnya.

Wallahu'alam Bishowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update