Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

BTS Meal's, Tren yang Menghanyutkan

Sunday, July 04, 2021 | Sunday, July 04, 2021 WIB Last Updated 2021-07-04T06:42:09Z
Oleh : Ummu Adi
Aktivis Dakwah dan Member AMK


Berawal dari kolaborasi antara restoran cepat saji McDonald's dan BTS (grup band asal Korea), hadirlah The BTS Meal yaitu makanan selebritas edisi terbatas yang dipromosikan secara online oleh McDonald's.

Makanan yang terdiri dari 9 atau 10 potong chicken McNuggets, kentang dan 2  saos (terdiri dari sweet chili dan cajun sauce) ini dipasarkan di 50 negara, di antaranya Korea Selatan, Amerika serikat, Kanada, Brasil, Kroasia, Yunani, Maroko, Singapura, UEA, Qatar, Australia dan Indonesia. 
 (liputan6.com, 10/06/2021)

Di Indonesia sendiri, menu BTS Meal ini dirilis sejak tanggal 9 Juni 2021 dan hanya bisa dipesan secara online melalui ojek online.

Akibat membludaknya pemesanan menyebabkan terjadinya antrian panjang di gerai McDonald's di daerah-daerah, seperti Jakarta, Pekanbaru, Balikpapan dan Samarinda.

kaltim.tribunnews.com (09/06/2021) merilis restoran cepat saji McDonalds di Balikpapan, tepatnya di kawasan Jl. Mt. Haryono melalui managernya, Humunggio mengatakan telah melayani 200 pesanan selama 2 jam lebih. Meskipun harga satu paketnya berada di kisaran Rp. 50.000, tetapi para pemesan baik melalui ojek online maupun pelanggan yang datang langsung tetap meramaikan gerai McDonald's tersebut.

Begitu juga dengan salah satu restoran cepat saji di SCP Samarinda, Kalimantan Timur mengalami lonjakan orderan dari driver online.
Menurut keterangan Fadel Balcher, salah seorang driver ojol mengatakan, bahwa pihak ojol saat ini sedang kewalahan menerima orderan. 
"Jadi terpaksa kami matikan sistem oderan aplikasi untuk menghentikan orderan," jelasnya. (kaltim.tribunnews.com, 09/06/2021)

Untuk mencegah kerumunan yang terjadi akibat promo BTS McDonald's, Kapolsek Samarinda Kota, AKP Creato Sonitehe Gulo membuat kesepakatan dengan pihak mal dan dua gerai McDonald's di kota tepian, bahwa promo BTS Meal tidak lagi bisa dipasarkan melalui ojek online, melainkan hanya bisa dipesan melalui McDelivery (pengantaran resmi McDonald's) via hotline (telepon) atau situs resminya.
(kaltim.tribunnews.com,10/06/2021)

Gandrungnya milenial muslim dengan artis Korea hingga produk BTS Meal-nya yang menimbulkan kerumunan, terlebih dalam suasana mencegah wabah, selain bisa memicu munculnya klaster baru dalam penularan virus, juga akan menimbulkan pengaruh buruk bagi generasi muslim ke depannya.

Pasalnya, fanatik yang berlebihan terhadap idola Korea ini tidak di bidang hiburan saja, seperti film, musik, pakaian, makanan. Namun,  juga sudah menjadi gaya hidup bagi para remaja, terutama remaja muslimnya. Demi memenuhi keinginannya, dan mengikuti tren yang dilakukan oleh idolanya, mereka tidak segan-segan merogoh kocek yang lebih dalam. Gaya hedonis yang dipertontonkan oleh idolanya, seolah-olah mengisyaratkan bahwa kemewahan dan ketenaranlah yang menjadi sumber kebahagiaan.

Allah SWT. berfirman dalam QS. Az-Zariyat [51]: 56

Artinya : "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."

Mengukur kebahagiaan hanya dari materi, kemewahan dan ketenaran adalah cara pandang yang muncul dari paham sekuler. Yaitu sebuah paham yang menolak atau meniadakan peran agama dalam mengatur kehidupan. Paham inilah yang menjalar dan menjangkiti umat, terutama remaja muslim di dunia. Akibatnya, mereka tidak lagi menjadikan halal dan haram sebagai ukuran dalam tingkah laku dan perbuatannya. 

Sejatinya, generasi muda saat ini hanya menjadi alat bagi para pemilik modal (kapitalis) untuk meraup keuntungan semata. Dengan menjadikan fenomena BTS Meal, para kapitalis ini mengambil kesempatan mendulang rupiah dari para ARMY (sebutan bagi penggemar boyband BTS). Tidak lagi memperhatikan apakah hal itu merusak akidah generasi muslim atau tidak.

Pandangan Islam

Menyukai atau bahkan mengidolakan seseorang adalah hal yang fitrah, karena muncul dari gharizah nau' (naluri melestarikan keturunan) yang telah Allah lekatkan dalam diri manusia. Namun demikian,  bukan berarti naluri ini dibiarkan muncul tanpa terkendali sehingga berakibat pada fanatik terhadap idola secara membabi buta.

Terlebih bagi seorang muslim yang meyakini bahwa ada kehidupan lain selain kehidupan dunia. Dimana saat itulah manusia harus bertanggung jawab atas setiap perbuatannya semasa hidupnya. Untuk itu wajib bagi seorang muslim menyandarkan seluruh perbuatannya hanya kepada Allah dengan menjadikan halal dan haram sebagai standar perbuatannya, semata-mata untuk mendapatkan   ridha-Nya.

Allah Swt.  menegaskan dalam QS. An-Nisa [4] : 65

Artinya : "Maka demi Rabb mu, mereka tidaklah beriman sebelum menjadikan engkau (Muhammad) sebagai pemutus perkara atas apa-apa yang mereka perselisihkan."

Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam memilih teman bahkan idola, karena akan berdampak pada diri kita. Tiada teladan yang layak untuk diikuti kecuali Rasulullah, pribadi berakhlak mulia yang senantiasa mencintai umatnya dan dicintai Allah.

Allah berfirman dalam QS. Al-Ahzab [33] : 21

Artinya : "Sungguh,  telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah."

Allah berfirman dalam QS. Al-Qalam [68] : 4

Artinya : "Dan sesungguhnya engkau berbudi pekerti yang luhur."

Sosok pribadi islami yang beriman dan bertakwa ini pun mewarnai kehidupan para sahabat dan para tabiin dengan karya-karyanya yang sangat mempengaruhi dunia saat ini. 

Sebut saja Mushab bin Umair yang sudah didelegasikan Rasul ke Madinah untuk merangkul tokoh-tokoh masyarakat di usia belia, Ibnu Sina yang sudah mampu mempersembahkan karya dan penemuan dalam ilmu pengobatan di usia 18 tahun, atau Muhammad Al Fatih yang sudah mampu menaklukkan kota  Konstantinopel di usia 21 tahun.

Namun, dunia saat ini tengah dilingkupi dengan aturan kapitalis-sekuler. Sangatlah sulit melahirkan generasi muslim yang bertakwa, kecuali kembali kepada Islam kafah yang menjadikan syariat sebagai satu-satunya yang mengikat interaksi masyarakat di dalamnya.

Wallaahu a'lam bishshawaab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update