Minat baca orang Indonesia sangat rendah buktinya dari 1000 orang indonesia hanya 1 yang mempunyai fashion membaca.
Data dari UNESCO menyebutkan bahwa Indonesia peringat 60 dari 61 negara, alias negara terendah ke 2 tingkat literasi.
Padahal kita tahu fasilitas dinegeri ini lumayan mendukung, seperti toko buku yang ada dimana-mana dan juga perpustakaan daerah yang ada disetiap daerah dengan fasilitasnya yang gratis.
Belum lagi dengan semakin canggihnya teknologi, kita bisa membaca buku apa saja yang kita mau lewat smartphone. Tidak usah capek-capek ke toko buku, hanya dengan membuka handphone saja lalu membuka aplikasi membaca seperti google dengan berbagai artikel dan jenis bacaan lainnya yang tersedia.
Pak Anis Baswedan, Gubernur Jakarta pernah berkata dalam pidatonya bahwa orang-orang Indonesia rajin membaca tapi bacaannya tidak bernilai, beliau mengatakan dari hasil survei orang-orang Indonesia menatap layar smartphone rata-rata 8 jam perhari, bayangkan saja ketika melihat semua fitur di smartphone pasti berisi tulisan-tulisan seperti di watshap, fabecook, Twitter dan caption di Instagram.
Mau tidak mau pengguna smartphone harus membaca, tapi kualitas bacaannya yang rendah. Sering kali orang hanya membaca berita hoax yang bertebaran di sosmed dan tidak ketinggalan chating di watshap.
Sebenarnya membaca bisa jadi kebutuhan orang indonesia asalkan membaca bisa dijadikan trend karena orang-orang Indonesia suka mengikuti trend dan konten viral. Sepertinya peran influencer diperlukan.
Mbak Najwa Shihab pernah mengatakan "Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu, mari jatuh cinta"
Memberikan doktrin dan memperkenalkan buku kepada anak-anak akan meningkatkan daya baca pada generasi selanjutnya untuk mencerdaskan anak bangsa.
Karena tentunya membaca adalah jendela dunia dan untuk melihat luasnya dunia kita membutuhkan membaca.
Meningkatkan daya baca anak-anak Indonesia demi kemajuan bangsa dimasa yang akan datang, karena pada akhirnya kita membutuhkan generasi cerdas yang mampu membangun negeri Indonesia.

No comments:
Post a Comment