Oleh Ummu Ilham
(Penulis inspiratif)
Pemerintah Berencana Mengirim 25 Persen ASN Work From Bali
Tim. Pemerintah rencananya akan mengirim 25 persen ASN di tujuh kementerian/lembaga di bawah Kemenko Marves untuk bekerja dari Bali atau work from Bali. Ilustrasi. Pemerintah rencananya akan mengirim 25 persen ASN di tujuh kementerian/lembaga di bawah Kemenko Marves untuk bekerja dari Bali atau work from Bali.
Pemerintah akan mewajibkan 25 persen Aparatur Sipil Negara (ASN) di tujuh kementerian/lembaga di bawah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi
untuk bekerja dari bali (work from Bali/WFB). Hal ini rencananya akan direalisasikan pada kuartal III 2021.
Tujuh kementerian yang dimaksud adalah Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan Kementerian Investasi.
Kepala Biro Komunikasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Vinsensius Jemadu mengatakan, kuota ASN yang diwajibkan untuk bekerja di Bali akan mempertimbangkan kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Lalu, kebijakan ini juga akan mempertimbangkan aturan work from office (WFO) bagi ASN yang hanya 50 persen
"Lagi pula, kalau memang benar biaya akomodasi dihitung bulanan, katakan lah Rp 3 juta atau Rp 4 juta per bulan, satu kamar untuk akomodasi di Bali, saya kira itu bisa dibuat sedemikian rupa sehingga ASN itu secara bergantian, secara bergelombang sampai dengan akhir tahun melakukan work from Bali," kata Vinsensius. (CNN Indonesia, 23/05/2021).
Saat negara menghadapi pandemi Covid-19, di saat yang sama pertumbuhan ekonomi sedang di ujung tanduk, para pejabat justru sibuk untuk bekerja di Bali. Padahal saat ini seluruh kegiatan dirumahkan karena kasus Covid-19 ini bukanlah main-main. Bukannya menutup celah penyebarannya, ini malah membuka penyebaran baru.
Sangat miris melihat kenyataan bahwa pemerintah sendiri abai akan keadaan yang ada. Harusnya perlindungan terhadap jiwa rakyat yang didahulukan. Karena korban Covid-19 luar biasa banyaknya, sementara penderita yang saat ini masih dalam perawatan melakukan isolasi di rumah-rumah sakit dan tempat-tempat karantina yang disediakan pemerintah. Tenaga medis sudah kelelahan sehingga banyak yang berguguran.
Akankah semua ini tidak masuk dalam agenda pemerintah dan segenap jajarannya untuk menyelamatkan nasib rakyatnya?
Begitulah saat ini sistem yang diadopsi di negara ini bahkan di dunia adalah sistem kapitalis. Dimana yang diutamakan adalah materi/ keuntungan. Sudah bukan rahasia umum lagi banyaknya korban adalah hal biasa bukan hal yang luar biasa.
Inilah perbedaan dari sebuah sistem kapitalis dan sistem Islam. Jika sistem kapitalis mengedepankan keuntungan materi semata namun jika sistem Islam justru yang diutamakan adalah mencari keridaan Allah Swt dalam kepengurusan terhadap jiwa rakyatnya. Karena semuanya akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah.
Allah Swt. berfirman:
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." TQS. Al-Isra' [17] : 36)
Ayat diatas merupakan dalil yang tepat karena setiap manusia wajib memiliki pengetahuan terhadap apa yang akan dilakukannya karena Allah akan meminta pertanggungjawabannya di hari kiamat.
Kesadaran akan pertanggungjawaban inilah yang membuat para pemimpin Islam dijaman Rasulullah Saw dan para khalifah setelah Rasul wafat menjadiksn diri mereka sebagai garda terdepan dalam melindungi rakyatnya. Mereka rela mengorbankan jiwanya untuk membela nasib rakyatnya.
Mereka tidak pernah takut terhadap apapun kecuali pada Allah Swt. Dapat kita lihat sejarah bagaimana Rasullah Saw mengepung Yahudhi Bani qainuqa' ketika melecehkan seorang muslimah. Rasullah Saw membela kehormatannya dengan mengepung perkampungan Yahudi tersebut.
Kita saksikan bagaimana khalifah Umar bin Al Khattab ketika mendengar ada tangis di sebuah gubuk yang di huni seorang janda dengan anaknya yang menangis karena lapar dan Khalifah Umar pun mengambilkan gandum, pakaian dan kebutuhan sehari-hari untuk keluarga tersebut dan beliaulah yang mengangkat gandum tersebut walau ada bawahannya yang ingin mengangkatnya namun ditolaknya hingga beliau pun memasak dan menyajikan makanan tersebut.
Demikianlah banyak lagi contoh-contoh para pemimpin Islam (khalifah) yang melakukan Periayahan terhadap rakyat dengan tangannya sendiri karena ketakutan mereka kepada Allah Swt. Bukan pemimpin saat ini sekalipun mereka yang katanya pemimpin yang menerapkan syariah namun kenyataannya mereka hanya melakukan sesuatu hanya sebuah pencitraan semata untuk mencari simpati bagi rakyatnya, untuk mencari suara ketika pencalonan kepemimpinannya ditahun pemilihan.
Sadar bahwa saat ini kita membutuhkan sebuah sistem yang berasal dari Allah Swt yaitu sistem Islam yang akan menerapkan Syariah Islam secara Kaffah baik dibidang: ekonomi, politik, pendidikan, keamanan, kesehatan dan lain-lain.
Hanya sistem Islam lah yang mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya karena hukum yang diterapkan adalah hukum yang berasal dari Sang Khaliq, Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan. Hukum dan UU yang diterapkan tidak terkontaminasi atau dibawah tekanan kafir barat.
Sesungguhnya jika kita berpaling dari hukum Allah Swt kelak kita akan dibangkitkan diyaumil hisab dalam keadaan buta (QS. At Thalaq [65]: 124-125)
Wallahu a'lam bishawab

No comments:
Post a Comment