Oleh: Azkiah Ummu Azka (Aktivis Muslimah)
Jenuh, Bosan, stress, masih banyak lagi deretan ungkapan yang menunjukkan ketidaknyamanan perasaan siswa maupun orang tua saat ini. Selama hampir 1,5 tahun siswa mengalami Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), beribu kisah telah terjadi. Mulai ketidakpahaman siswa terhadap materi, tugas yang bertumpuk, keterbatasan sarana, kesulitan dana untuk beli pulsa, sampai kegeraman orang tua saat mendampingi anak belajar di rumah merupakan berita yang tidak sepi dari dunia maya maupun nyata. Di sisi lain, banyaknya waktu bersama HP tidak jarang mendorong anak untuk berselancar mencari konten-konten ‘menarik’ yang kadang justru mengkhawatirkan.
Kondisi ini kiranya mendorong Mendikbud Ristek Nadiem Makarim berencana memulai sekolah tatap muka pada tahun ajaran 2021/2022. Ia mengatakan pembukaan sekolah pada tahun ajaran baru tak bisa ditawar lagi. Menurutnya penundaan pembukaan sekolah bisa berdampak panjang ( CNN Indonesia, 3/6/2021). "Tentu bapak ibu sudah pahami masa depan Indonesia sangat bergantung pada sumber daya manusia. Sehingga tidak ada tawar-menawar untuk pendidikan, terlepas dari situasi yang kita hadapi," kata Nadiem dalam acara yang disiarkan Youtube Kemendikbud RI, Rabu (2/6). Sebagai langkah realisasi rencana ini, dilakukan uji coba sekolah tatap muka mulai akhir Mei.
Rencana pembukaan sekolah ini satu sisi disambut baik, namun tidak sedikit yang melakukan kritik. Orang tua yang kebanyakan tidak sanggup mendampingi anak-anak belajar di rumah, siswa yang merasakan kejenuhan karena “terpenjara”, guru yang merasa kesulitan memastikan pemahaman siswa pada materi pelajaran, merupakan beberapa pihak yang menyambut baik rencana ini sekalipun masih juga ditemui ada kekhawatiran akan kesehatan di masa pandemi. Tidak ketinggalan pedagang – pedagang jajanan dan mainan anak turut senang menyambut berita ini.
Kritik datang dari Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G). Koordinator P2G Satriwan Salim mengatakan sekolah belum siap dibuka pada juli 2021(CNN Indonesia: 3/6/2021). Ketidaksiapan ini disebabkan salah satunya proses vaksinasi kepada guru dan tenaga kependidikan berjalan lamban. Menurutnya, target vaksinasi 5 juta guru sampai Juni pun tak mungkin tercapai. Karena saat ini baru sekitar 1 juta guru yang divaksinasi. Selain proses vaksinasi yang lamban, Satriwan juga mengkritik lambannya proses pengisian daftar kesiapan sekolah melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM). Jumlah sekolah yang telah menyatakan siap menggelar PTM baru 54,35 persen dari sekitar 530 ribu sekolah. Di sisi lain dari hasil survei yang dilakukan pihaknya, didapati banyak sekolah yang belum sepenuhnya memenuhi sejumlah syarat yang ditentukan. Apalagi sudah muncul klaster sekolah di SMAN 4 Pekalongan, Jawa Tengah, dengan 37 kasus tenaga pendidik.
Keraguan P2G didukung oleh adanya fenomena naiknya kasus terinfeksi Covid-19 yang meningkat. Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menyebut dalam enam hari terakhir terjadi kenaikan kasus positif virus corona. Selain penambahan kasus harian, kasus aktif juga mengalami lonjakan dalam sepekan terakhir ( CNN Indonesia: 24/5/2021). Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, jumlah daerah berstatus zona merah (tingkat risiko penularan tinggi) terus bertambah. Hingga 4 Juni, ada 13 daerah berstatus zona merah ( KOMPAS.com: 4/6/2021). Kabupaten/kota berstatus zona oranye juga naik sebanyak 20. Bahkan baru-baru ini Pemprov Jawa Barat menutup pelayanan karena 32 ASN positif terinfeksi (Kompas.Com- 3/6/2021). Bahkan di Kudus kasus positif Corona meningkat 30 kali lipat (Kompas.Com- 5/6/2021).
Berbagai upaya memang sudah dilakukan, namun terkadang lamban dan ada keinkonsistensian. Kondisi sudah mengkhawatirkan, tapi terindikasi masih menjadikan kapitalisme sebagai paradigma dalam membuat kebijakan. Buktinya, dalam menangani wabah pun, selalu menggunakan metode yang lebih mementingkan aspek ekonomi. Menjaga dan memelihara nyawa manusia seperti dinomorduakan dan seolah hanya hitungan angka. Kebijakan Adaptasi Kebiasaan Baru atau New Normal, merupakan salah satu contoh bahwa ada pihak lebih mementingkan aspek ekonomi dibanding kesehatan atau bahkan nyawa rakyat. Mudik dilarang, tempat wisata dibuka, menujukkan dengan jelas kebijakan ini untuk siapa.
Islam memberi penjagaan yang kuat terhadap kesehatan dan nyawa manusia .Nabi saw. Bersabda:“Sungguh lenyapnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.” (HR an-Nasai, at-Tirmidzi dan al-Baihaqi). Atas dasar ini Islam menjelaskan langkah teknis dalam mengatasi masalah wabah.
Pertama, Isolasi/karantina.
Rasul saw. Bersabda:“Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah kalian keluar dari wilayah itu.” (HR al-Bukhari). Tindakan isolasi/karantina atas wilayah yang terkena wabah tentu dimaksudkan agar wabah tidak meluas ke daerah lain. Pada realitasnya, karena Isolasi atau karantina tidak dilakukan dengan cepat, maka hari ini virus sudah menyebar ke seluruh provinsi. Pemerintah tetap bisa melakukan isolasi dengan melihat pergerakan virus di setiap daerah. Inilah fungsi dari penetapan zona. Agar bisa ditentukan penanganan yang tepat. Mana yang harus isolasi, dan mana yang tidak harus isolasi. Selain itu, penguasa juga wajib untuk mensuplai berbagai kebutuhan untuk daerah yang diisolasi. Tindakan cepat isolasi/karantina cukup dilakukan di daerah terjangkit saja. Daerah lain yang tidak terjangkit bisa tetap berjalan normal dan tetap produktif. Daerah-daerah produktif itu bisa menopang daerah yang terjangkit baik dalam pemenuhan kebutuhan maupun penanggulangan wabah. Dengan begitu perekonomian secara keseluruhan tidak terdampak.
Kedua, Jaga Jarak.
Daerah yang terjangkit wabah diterapkan aturan berdasarkan sabda Rasul saw.: “Janganlah kalian mencampurkan orang yang sakit dengan yang sehat.” (HR al-Bukhari).
Jaga jarak dilakukan dengan physical distancing seperti yang diterapkan oleh Amru bin ‘Ash dalam menghadapi wabah Tha’un ‘Umwas di Palestina kala itu dan berhasil. Hanya saja, untuk mengetahui siapa yang sakit dan yang sehat harus dilakukan 3T (test, treatment, tracing) massal tanpa henti. Ini juga upaya yang dilakukan pemerintah hari ini dalam menangani covid selain gencar mengkampanyekan 3M.
Berbeda dengan 3M, penguasa memiliki peran utama dalam melakukan 3T. Jadi tidak bisa menyerahkan pada kesadaran individu semata. Misalnya saja, ada orang yang tidak mau melakukan tes. Ini kenapa? Bisa jadi karena biaya tes yang tidak murah. Atau bisa juga karena takut ketika dites positif, kemudian harus isolasi, sehingga dia tidak bisa mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya. Inilah yang menjadi salah satu penyebab sebaran virus sulit untuk ditekan. Sebab, kecepatan dalam melakukan 3T itu menjadi kunci.
Islam mengatur, tes agar dilakukan dengan akurat secara cepat, masif, dan luas. Tanpa biaya sedikit pun. Lalu dilakukan tracing kontak orang yang positif dan dilakukan penanganan lebih lanjut. Yang positif dirawat secara gratis ditanggung negara. Termasuk kebutuhan diri dan keluarganya selama masa perawatan pun menjadi tanggung jawab negara. Dengan langkah itu bisa dipisahkan antara orang yang sakit dan yang sehat. Mereka yang sehat tetap bisa menjalankan aktivitas kesehariannya. Tanpa dibayang-bayangi virus corona. Aktivitas ekonomi pun tetap produktif sekalipun menurun.
Beberapa negara berhasil menekan penyebaran virus ini dengan menjalankan sebagian langkah ini. Selandia bau misalnya berhasil mengakhiri penularan pada 1 Mei 2020 dengan sebelumnya mencapai 100 hari tanpa penularan. Selandia Baru menerapkan melakukan deteksi atau tes massal kemudian isolasi kasus, karantina, kampanye kebersihan massal dan menyediakan fasilitas kebersihan di ruang publik, serta menutup ruang-ruang publik. Begitu pula apa yang terjadi di Taiwan, Fiji dan mongolia yang dikategorikan sebagai 4 negara palig berhasil menangani kasus Corona (DetikHealth-11/12/2020). Jika dengan melaksanakan sebagian langkah yang ditetapkan Islam saja negara-negara tersebut berhasil menekan, bagaimana jika semua langkah itu dilakukan? Tentu keluar dari pandemi bukan hanya haapan. Hidup normal bukan hanya selogan. Sekolah tatap Muka juga akan menjadi kenyataan. WallahuA’lam Bishowab.

No comments:
Post a Comment