pendidik*
Siapakah yang tidak mengenal BTS? Siapa pula yang tidak mengenal Black pink? Atau versi barat Ariana grande? Atau dari dunia pengetahuan Mark Zuckerberg dengan teknologinya serta dari nasional kita Maudy Ayunda dengan pendidikannya. Mereka adalah sosok-sosok pemuda idola remaja yang memiliki pengaruh di berbagai bidang dan sudah mendunia. Nah, seringkali kita mendengar bahwa sosok pemuda disebutkan sebagai cerminan dan tumpuan masyarakat untuk masa depan. Apakah benar demikian? Apakah sebenarnya yang membuat sosok pemuda itu _special_? Lalu, bagaimanakah peran sesungguhnya dari seorang pemuda dalam kebangkitan masyarakat?
Apabila kita lihat dari arti kata secara harfiahnya, maka pemuda adalah individu dengan kisaran umur 18 th - 40 th yang baik secara fisik dan psikis sedang mengalami perkembangan. Dapat terlihat dari sisi fisik dan kekuatannya bahwa pemuda berada dalam masa paling produktif dalam seluruh siklus hidupnya. Bahkan tak hanya itu, jika kita melihat dari aspek psikologisnya, maka pemuda ada dalam tahap formal operation stage (taraf berpikir kompleks), yang artinya ketika itu terjadi manusia mulai dapat berpikir abstract, dimana dia dapat memikirkan hal-hal yang lebih kompleks, alasan sesuatu terjadi, memikirkan dari sudut pandang lain, dan kemungkinan lain yang dapat terjadi yang kesemuanya merupakan proses berpikir dalam memecahkan masalah atau memberi solusi. Sehingga dapat kita sepakati bahwa pemuda akan berada pada level tertinggi pada aspek proses dan cara berpikirnya yang akan lebih menganalisis suatu masalah, sehingga pemuda merupakan sumber daya manusia pembangunan terbaik di masa kini dan tentu aset yang menentukan masa mendatang.
Inilah keistimewaan yang hanya akan dimiliki manusia pada tahap pemuda. Hal itu pula yang akan membuat seluruh elemen masyarakat menyetujui akan pentingnya pemuda dalam pembangunan sebuah generasi, karena itu akan menjawab harapan masyarakat.
Lalu apakah pemuda saat ini sudah memenuhi harapan masyarakat?Apakah sebenarnya harapan masyarakat?Karena kenyataannya, berita yang menghiasi media kita saat ini adalah mengenai tindak anarkis dan amoral dari pemuda, kriminalitas, seks bebas, penyalahgunaan obat-obatan dan lainnya. Meski kita pastinya memahami bahwa pemuda dulu dan masa kini mengalami tantangan yang berbeda. Kini, tantangan yang terjadi bukanlah kontak atau perang fisik yang dihadapi, seperti contohnya pada zaman reformasi dan kemerdekaan dahulu kala. Pemuda yang mendesak perubahan seringkali menjadi sasaran kekerasan, penculikan bahkan pembunuhan oleh oknum yang berkepentingan. Di masa kini, tantangan yang sedang terjadi adalah tantangan yang pelan tapi membahayakan yaitu kontak atau perang secara pemikiran, atau yang lebih kita kenal dengan 3 F (food, fun , fashion), dimana baik kita sadari atau tidak, itu sudah merasuk ke dalam pemikiran kita. Seperti contohnya, dari sisi fun, media sosial sebagai salah satu media hiburan yang hampir lebih dari 80 % disukai anak-anak hingga pemuda dibandingkan membaca, dapat menjadi dua belah pisau yaitu bisa bermanfaat atau bisa menjadi media yang paling berbahaya. Lewat media sosial dan televisi sesuatu yang tidak tergambar dapat terindera dengan baik, dan cenderung dapat mengubah opini banyak orang dalam sekejap. Lihat saja dengan sanksi sosial cepat dan efektif yang didapatkan ketika seseorang berbuat kesalahan dan menjadi buah perbincangan online. Hal ini dapat menjadi efek jera bagi pelaku dan pelajaran bagi sebagian orang yang lain. Namun dapat kita perhatikan pula bahwa teknologi informasi saat ini dikuasai oleh berbagai kepentingan politik, hingga tayangan yang kurang mendidik pun dapat di lihat seluruh penduduk Indonesia, hanya karena bagi stasiun TV atau social media platform tersebut, tayangan tersebut menguntungkan. Sebutlah memamerkan gaya hidup mewah hingga prank atau keusilan tidak berfaedah. Berbagai gaya hidup itu secara tidak langsung mempengaruhi pemuda hingga ketika seseorang tidak dapat memenuhi keinginannya, muncullah kriminalitas. Itulah salah satu sebab terhambatnya proses penyadaran peran pemuda pada pemuda kita saat ini, semua tersibukkan dengan naluri untuk diakui, demi kepentingan dan kebahagiaan diri sendiri.
Kemudian, ketika kita menuju pada aspek pentingnya peran pemuda dalam masyarakat. Kita pasti mengetahui terdapat 4 poin penting dalam peran mahasiswa yaitu: Agent of change atau agen perubah zaman, dimana kita semua mengetahui bahwa ujung tombak perubahan seringkali ada di tangan pemuda, Guardian of value, penjaga moral dimana pemuda dilihat sebagai sosok intelektual yang akan mempengaruhi sekitarnya, iron stock , dimana pemuda pasti akan selalu di harapkan menjadi aset masa depan, dan social control, sebagai pengontrol sosial masyarakat. Dimana keempat poin tersebut merupakan tujuan atau hal yang di harapkan oleh masyarakat kepada pemuda (terutama mahasiswa).
Di pertengahan tahun ini, marilah kita berkaca dan lebih memahami peran kita sebagai pemuda, sebagai sosok yang terkenal sebagai jiwa yang berkobar, kaum intelektual dan pengontrol sosial masyarakat. Sadari peran kita dan mulai pikirkan kepentingan umat. Jadilah pemuda yang berani dan dapat memahami hakikat hidupnya di dunia, sebagai makhluk ciptaan yang tujuan hidupnya tak lain untuk beribadah dan berguna bagi diri sendiri dan sesama. Karena masa depan bangsa ke arah yang baik atau yang buruk, akan selalu berada di tangan pemuda-pemudanya kini. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali 'Imran [3]: 110).
*

No comments:
Post a Comment