Jakarta, CNBC Indonesia - Kesepakatan gencatan senjata yang dicapai antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza terjadi pada Jumat (21/05/2021) dini hari, tetapi masih ada ketegangan di Yerusalem Timur di mana polisi Israel menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa dan menembakkan gas air mata ke arah warga Palestina setelah salat Jumat (21/05/2021).
Kantor berita Aljazeera, Sabtu (22/05/2021), melaporkan bahwa dari pendudukan Yerusalem Timur, penyerbuan kompleks Masjid Al-Aqsa oleh polisi Israel tidak terduga dan mencerminkan betapa rapuhnya gencatan senjata itu.
Gencatan Senjata Hanya Tipu Daya
Setelah agresi militer Israel atas Palestina terjadi dan menimbulkan banyak korban, baik di pihak Israel ataupun Palestina, ide gencatan senjata antara keduanya banyak digulirkan.
Selain itu gencatan senjata juga dapat dimanfaatkan oleh zionis Israel untuk berlindung dan memulihkan kekuatan di balik istilah gencatan senjata dan perdamaian semu tersebut. Parahnya, kelicikan Israel selalu menodai masa gencatan senjata yang terjadi.
Sebagaimana terjadi beberapa hari yang lalu, Israel mengkhianati masa gencatan senjata.
Pasukan militer Israel menyerang warga Palestina kembali di sekitar masjid Al-Quds, padahal Israel-Palestina sedang dalam kesepakatan gencatan senjata. Pertempuran lanjutan antara Israel dan Hamas di Gaza tak terelakkan lagi. Korban makin banyak berjatuhan.
Serangan udara Israel di jalur Gaza telah menewaskan sebanyak 244 orang selama 11 hari konflik. Sedikitnya 232 warga Palestina, termasuk 65 anak-anak. Sedangkan Israel melaporkan 12 warganya, termasuk 2 anak-anak, terbunuh akibat serangan roket Hamas. (kompas.com, 21/05/2021)
Kekuatan militer negeri-negeri muslim di sekitar Palestina, bahkan di dunia jika dikumpulkan dan disolidkan, sebenarnya sangat besar dan bisa digunakan untuk menghentikan agresi Israel dan kebiadabannya. Setidaknya, ada lima negara dengan kekuatan militer yang mumpuni, yaitu Mesir, Turki, Iran, Pakistan dan Indonesia. Sebagai contoh, Mesir. Mesir memiliki total 920 ribu personel militer, dengan perincian personel aktif 440 ribu, personel cadangan 480 ribu. Kekuatan militernya meliputi darat, laut, dan udara.
Belum lagi jika dihitung kekuatan militer negeri-negeri muslim yang lebih besar. Jika ini semua diatur dengan sedemikian rupa, apalagi ada persatuan politik dan ideologis negeri-negeri muslim ini menjadi satu, bisa kita bayangkan betapa sebenarnya kaum muslimin bisa dan bahkan dengan mudah menghentikan kezaliman negara Israel dan sejenisnya.
Konflik Israel-Palestina sejatinya adalah konflik agama dan ideologi. Tidak hanya soal hak asasi manusia atau masalah kemanusiaan semata. Menyelesaikannya tidak cukup dengan perjanjian damai atau normalisasi hubungan Palestina-Israel. Karena dengan berbagai perjanjian tersebut justru menjadi pembenaran eksistensi Israel penjajah yang sebenarnya ilegal, dan dunia tahu hal itu.
Penjajahan atas nama agama harus segera dihentikan. Islam harus berdiri tegak melawan kezaliman dan wajib melindungi darah dan nyawa setiap muslim. Maka sejatinya kaum muslimin butuh pelindung sejati (junnah). Tak ada lain adalah dengan bersatunya kaum muslimin di bawah panji Tauhid. Tak ada lagi sekat nasionalisme yang menghalangi kaum muslimin satu membela kaum muslimin yang lain.
Kaum muslimin butuh institusi Khilafah Islamiah yang akan menjamin nyawa dan kedamaian hidup kaum muslimin. Membela warga negaranya dari ketidakadilan dan kebiadaban. Maka sudah saatnya, ayo, buka hati dan mata kita untuk mendapatkan kemenangan kaum muslimin yang hakiki.
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (Khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).
Wallahu a'lam bisowwab

No comments:
Post a Comment