Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Demokrasi Mengabaikan Kompetensi

Monday, June 07, 2021 | Monday, June 07, 2021 WIB Last Updated 2021-06-07T10:20:44Z
Oleh: Aslama

Gitaris Slank Abdi Negara Nurdin atau yang lebih dikenal dengan Abdee Slank resmi ditunjuk sebagai komisaris independen PT Telkom Indonesia Tbk. pada 28 Mei 2021. Pengangkatan itu dilakukan melalui Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir.

Penunjukan Abdee Slank menjadi Komisaris PT Telkom Indonesia menambah panjang deretan nama di lingkaran istana yang menjadi pejabat perusahaan pelat merah (Cnnindonesia.com 29/05/2021).

Disisi lain tentunya hal ini menuai kritikan dari berbagai pihak. Kompetensi yang tak selaras dengan jabatan yang diberikan menjadi pertanyaan pada banyak kalangan. Apakah itu ada kaitannya dengan balas budi? Apapun alasannya, sewajarnya pemerintah juga harus mempertimbangkan masa depan BUMN tersebut. Jangan sampai keputusan yang diambil merugikan negara.

Penunjukan Abdee Slank Komisaris Telkom dikritik sebelumnya oleh Ketua DPP PKS Bukhori Yusuf menyebut penempatan Abdee Slank sebagai komisaris hanya akan merugikan Telkom karena latar belakang profesi yang tidak sesuai.

"Ini jelas merugikan Telkom, karena tidak sesuai dengan profesi yang dijabatnya sebagai komisaris dan, jika Telkom dirugikan, negara yang akan dirugikan," kata Bukhori kepada wartawan, Sabtu (29/5/2021).

Kekhawatiran masyarakat tentunya tanpa beralasan. Sebelumnya Kementrian Keuangan (Kemenkeu) pernah merilis sejumlah badan usaha milik Negara (BUMN) yang masuk dalam daftar rentan bangkrut karena memiliki kinerja buruk.(kontan.co.id (05/12/2019). Jangan sampai Telkom masuk dalam daftar tersebut.

Demokrasi yang didasarkan pada suara terbanyak tentunya mengandung berbagai kepentingan pribadi ataupun golongan. Ibarat kata "tidak ada makan siang yang gratis". Ujung-ujungnya berharap balas Budi itu pasti. 

Jabatan dalam sistem demokrasi adalah hal yang menggiurkan. Amanah atau tidaknya, itu urusan belakangan. Bagi-bagi kekuasaan menjadi tontonan bagi masyarakat kota sampai pedalaman. Suara masyarakat hanya dibutuhkan saat pemilihan, setelah itu urusan juragan.

Dalam sistem demokrasi sulit mencari pekerjaan. Nepotisme menjadi hal yang tidak asing kita dengarkan. Sikut sana dan sikut sini menjadi kebiasaan. Berharap keadilan kepada sistem buatan manusia yang dasar bangunannya adalah kepentingan itu mustahil dan hanya akan menjadi harapan bukan kenyataan.

Wallahu a'lam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update