Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Promosi Bipang (Babi Panggang) di Hari Lebaran, Elokkah?

Monday, May 10, 2021 | Monday, May 10, 2021 WIB Last Updated 2021-05-10T02:56:24Z

Oleh Nur Fitriyah Asri
Pengurus BKMT Kabupaten Jember, Penulis Bela Islam AMK

Viral di Medsos, video Presiden Joko Widodo (Jokowi) jadi perbincangan di jagad maya. Pidato tentang larangan mudik, mengajak masyarakat membeli kuliner Bipang Ambawang, khas Kalimantan Barat, secara online. Video yang diunggah YouTube  Kementerian Perdagangan RI pada (5/5/2021). Dalam pidatonya Jokowi menyampaikan, lantaran lebaran masih dalam suasana pandemi, maka pemerintah melarang mudik untuk keselamatan bersama.

"Untuk Bapak/Ibu dan Saudara-saudara yang rindu kuliner khas daerah atau yang biasanya mudik membawa oleh-oleh, tidak perlu ragu untuk memesannya secara online. Yang rindu makan gudeg Jogja, bandeng Semarang, siomay Bandung, pempek-pempek Palembang, Bipang Ambawang dari Kalimantan Barat, dan lain-lainnya tinggal pesan. Dan makanan kesukaan akan diantar sampai ke rumah, "ujar Jokowi. (Gelora.co, 8/5/2021)

Kuliner Bipang (babi panggang) khas Kalimantan Barat, tentu tidak layak dipromosikan apalagi pada momen Ramadan dan menjelang lebaran Idulfitri.  Sebab, makanan babi panggang (bipang) ini haram dikonsumsi oleh muslim.
Sebagaimana yang disampaikan pemilik akun Twitter@Hilmi27, Hilmi Firdausi.

"Asalamualaikum Pak@Jokowi,  mohon diklarifikasi tentang oleh-oleh lebaran Bipang Ambawang karena itu adalah babi panggang yang jelas haram bagi muslim. Apalagi ini Idulfitri hari raya umat Islam, tidak elok rasanya. Apakah ini disengaja, atau karena Bapak tidak tahu? Terima kasih atas jawabannya," twit akun @Hilmi28.

Berbeda dengan pengusaha Bipang Ambawang, memanfaatkan momen viralnya dengan mengunggah dalam akun @bipangambawang,  Jumat (7/5/2021), diperlihatkan video Presiden Jokowi saat menyebut Bipang Ambawang dalam pidatonya. Dalam kolom keterangan video ditulis: "Sebuah kebanggaan kami dapat disebut oleh Bapak Presiden@jokowi dalam pidato tadi malam di Kompas TV," tulis akun tersebut. (Kompas, com, 8/5/2021)

Anggota dewan pakar ICMI Anton Tabah tak habis pikir. Jokowi mengaku muslim, tapi bicara Idulfitri  kenapa bicara Bipang (Babi panggang)? Apakah  ajakan tersebut disengaja atau tidak?
Anton melihat, "Jokowi mengalami krisis empati, tidak peka dengan perasaan umat Islam yang notabene mayoritas penduduknya muslim terbesar di dunia. Pemimpin bijak adalah pandai atau bisa jaga rasa dan jaga hati rakyatnya," sesal Anton.

Masih kata Anton, Indonesia saat ini tengah diuji memiliki Presiden yang dikenal kerjanya serampangan. "Sering salah ketik, salah tanda tangan, dan lain-lain. Kini, salah kata yang tidak tepat baik secara sosial budaya, timing waktu, apalagi agama."

Berkaitan dengan ungkapan tersebut, seolah diaminkan oleh Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Fadjroel Rachman, dalam akun Twitternya berusaha meluruskan istilah Bipang yang dimaksud Jokowi, adalah bipang atau jipang kuliner dari bahan beras (ketan).

Ironis memang, itulah cerminan pemimpin yang lahir dari rahim demokrasi-sekuler. Wajar jika tidak dapat membedakan antara halal dan haram. Sebab, sistem yang diembannya sekularisme, yakni yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama tidak boleh mengatur urusan publik. Pilarnya kebebasan, bebas berakidah, bebas berbicara, bertingkah laku, dan bebas berkepemilikan. 

Karena kebebasan itulah, pemimpin mau berbuat apa saja suka-suka. Sudah dinilai gagal, tidak bisa menyejahterakan rakyatnya. Malah kebijakannya  membingungkan dan selalu menimbulkan polemik. Rakyat dilarang mudik, tapi keran wisata dibuka. Lebih-lebih Cina berstatus TKA terus berdatangan masuk ke Indonesia. Tempat ibadah ditutup, tetapi mal-mal dibuka. Bahkan salat Idulfitri diimbau agar dilaksanakan di rumah saja. Syiar Islam seperti takbir keliling dilarang. Mudik setahun sekali ingin melepaskan rindu dan silaturahmi dijaga ketat. Anehnya, umat Islam diajak dan dikenalkan makanan haram yaitu Bipang (Babi panggang). Seharusnya seorang pemimpin itu menjaga dan melindungi akidah dan agama rakyatnya. Memberikan contoh yang baik, bukan malah melanggar protokol kesehatan dan mengajak kemungkaran. Mau dibawa ke mana negara ini? Diliberalisasikan.

Sangat bertolak belakang dengan sistem Islam. Semua aturan bersumber dari Allah Yang Maha Pencipta dan Pengatur. Tentu aturannya mendatangkan kemaslahatan.
Karena di dalam Islam tidak dikenal adanya kebebasan.
Sebagaimana kaidah syarak:

الأَصْلُ فِي اْلأَفْعَالِ التَّقَيُّدُ بِحُكْمِ اللهِ

“Hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum Allâh.”
 
Oleh sebab itu, semua muslim tidak terkecuali seorang pemimpin pun harus terikat dengan syariat Islam (hukum Allah).
Bahkan, Islam mewajibkan seorang pemimpin untuk menerapkan syariat Islam secara kafah, sebagaimana yang termaktub dalam QS. al-Baqarah [2]: 208)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا ادۡخُلُوۡا فِى السِّلۡمِ کَآفَّةً ۖ وَلَا تَتَّبِعُوۡا خُطُوٰتِ الشَّيۡطٰنِ‌ؕ اِنَّهٗ لَـکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِيۡنٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu." (QS. al-Baqarah [2]: 208)

Keagungan dan kemuliaan Islam baru bisa dirasakan oleh semua umat manusia, jika syariatnya diterapkan secara total oleh khilafah.
Walhasil, khalifah (imam atau pemimpin) pada hakikatnya adalah menjaga agama, jiwa, harta, kehormatan, keturunan, akal, dan negara. Sehingga terwujudlah rahmatan lil alamin.

Masihkah mempertahankan sistem rusak demokrasi-sekuler, yang menghasilkan pemimpin rusak dan merusak? Saatnya kembali ke khilafah yang menyejahterakan semua umat manusia.

Allah Swt. berfirman:

وَلَوۡ اَنَّ اَهۡلَ الۡقُرٰٓى اٰمَنُوۡا وَاتَّقَوۡا لَـفَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالۡاَرۡضِ وَلٰـكِنۡ كَذَّبُوۡا فَاَخَذۡنٰهُمۡ بِمَا كَانُوۡا يَكۡسِبُوۡنَ‏

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS. al-A'raf [7]: 96)

Wallahu a'lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update