Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

WASPADAI VARIAN BARU VIRUS CORONA

Wednesday, April 28, 2021 | Wednesday, April 28, 2021 WIB

By : Waryati

Kebijakan pelarangan mudik pada tahun ini harus benar-benar diimplementasikan dengan baik oleh masyarakat dan juga pihak pemerintah. Jangan sampai kebijakan ini terkesan tebang pilih. Setiap pelanggaran mestinya diberikan sanksi tegas agar tidak diikuti oleh masyarakat lainnya.

Mengambil pelajaran dari lonjakan kasus corona di India merupakan langkah bijak yang harus ditempuh. Mengingat, sekali saja kita mengabaikan virus di saat wabah, maka nyawa menjadi taruhannya. Tahan sejenak keinginan tuk bertemu dengan sanak saudara di kampung walau itu terasa menyedihkan. Demi menjaga dan menghindari paparan virus kian mengganas.

Di India sendiri, diduga kuat varian baru virus corona yang diberi nama B.1.617 telah menginfeksi warga dan terjadi lonjakan kasus yang menggila. Rumah sakit India sampai kewalahan dengan jumlah pasien yang membludak. Salah satu penyebab lonjakan kasus tersebut adalah akibat dari padatnya penduduk dan buruknya ventilasi rumah di India.

Data Worldmeters per Rabu pagi, 21 April 2021, pasien Covid-19 di India telah menyentuh 15,6 juta kasus dengan lebih dari 182 ribu orang meninggal. Kondisi ini membuat India berada di urutan kedua dengan negara jumlah kasus Covid-19 tertinggi setelah Amerika Serikat (AS), dikutip dari Medcom.id (21/4/2021).

Tak berbeda jauh dengan keadaan di negeri kita. Padatnya penduduk, tingginya mobilitas dan kondisi kemiskinan yang mendera, dikhawatirkan menjadi celah bagi virus tuk menginfeksi. Ditambah pula dengan banyaknya masyarakat dan pejabat yang mengabaikan prokes. Tentu hal demikian sangat memprihatinkan dan menjadi PR bersama tuk mengatasinya.

Pembuat kebijakan, dalam hal ini pemerintah, harus membuat kebijakan secara komprehensif demi menghentikan laju penyebaran virus. Jika mudik dilarang, maka sektor pariwisata juga mall-mall harus ditutup. Karena kedua sektor ini bisa memicu kerumunan massa. Dalih ekonomi yang selama ini menjadi alasan tentu tak masuk akal. Memperbaiki ekonomi dengan memertaruhkan nyawa sama saja bunuh diri. Bukannya ekonomi semakin membaik justru kebalikannya. Sampai saat ini pun baik ekonomi maupun  serangan virus belum mampu diatasi.

Melindungi nyawa rakyat adalah kewajiban negara. Membuat kebijakan untuk hal itu haruslah menjadi prioritas utama. Tanpa ada alasan apa pun yang melatarbelakanginya. Termasuk alasan ekonomi. Faktanya, perbaikan ekonomi yang dilakukan hanya menguntungkan pihak korporasi tanpa pernah menyentuh ekonomi rakyat kecil. Mereka yang di bawah tetap dengan kemiskinannya. Mereka yang sudah miskin tetap dengan kesusahannya.

Berkaca dari pengalaman negara Islam dalam mengatasi wabah, tentu sangat menakjubkan. Di saat wabah menyerang, maka saat itu pula kebijakan dibuat. Masyarakat yang di dalam dilarang keluar, dan yang di luar tak boleh masuk. Cara tersebut ampuh dalam mengatasi wabah, sehingga penyebaran virus dapat segera dihentikan, ekonomi dapat terselamatkan.

Kebijakan dalam negara Islam begitu tegas. Siapa saja yang melanggar, maka diberikan sanksi berat tanpa memandang siapa pelakunya, dari kalangan bawah atau dari pihak pemerintah, semua mendapat sanksi yang sama. Saat negara merapkan aturan maka siapa pun wajib mematuhinya, tak terkecuali para pejabat negara.

Nasi sudah menjadi bubur. Virus sudah menyebar dan menginfeksi seluruh negeri. Hal yang perlu dilakukan saat ini adalah menjaga diri dan keluarga. Disiplin protokol kesehatan mesti ditingkatkan. Memakai masker, sering cuci tangan, juga menjauhi kerumunan menjadi sebuah keharusan agar tehindar dari paparan virus.

  Wallahua'lam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update