Oleh : SW. Retnani, S.Pd.
Pendidik Generasi
Isu perombakan kabinet /reshuffle Indonesia Maju jilid 2 yang dikabarkan akan dilakukan dalam waktu dekat, menuai tanggapan dari Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad syaikhu. Sebagaimana dilansir dari www.harianaceh.co.id bahwa Syaikhu berharap reshuffle dilakukan Presiden Joko Widodo bukan untuk kepentingan akomodasi politik.
"Yang penting bahwa dalam isu-isu reshuffle ini bukan sekadar akomodasi politik, tetapi betul-betul pada esensinya yaitu bagaimana yang terpilih itu memang orang-orang yang mempunyai kredibilitas, akseptabilitas yang betul-betul memadai bukan asal-asal akomodasi politik saja," kata Syaikhu di kantor DPP PKS Jakarta Rabu (14 /4) malam.
Astaghfirullah, di bawah kepemimpinan rezim yang berlandaskan sistem kapitalis-demokrasi, perubahan kabinet bisa terjadi berulang-ulang, dengan dasar atau alasan akomodasi politik.
Pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, perubahan kabinet sudah terjadi 5 kali. Hal ini pasti menjadi masalah yang menggelitik, terutama bagi masyarakat. Sebab, adanya reshuffele biasanya dikaitkan untuk kemajuan bangsa, kesejahteraan rakyat, untuk kinerja kabinet agar lebih bermutu dan alasan klasik lainnya.
Tapi faktanya, jauh panggang dari api. Adanya perombakan kabinet atau reshuffle sama sekali tidak mempengaruhi kondisi rakyat negeri ini. Jangankan pergantian anggota kabinet, pergantian Presiden saja tidak mampu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, seperti yang tertuang dalam teks Pancasila.
Negeri zamrud khatulistiwa tetap terlilit utang yang menggunung, wabah pandemi Covid- 19 masih tetap menyebar tak terkendali, para kafir penjajah masih terus menggerogoti sumber daya alam nusantara. Kemiskinan dan pengangguran masih terus menjadi momok menakutkan bagi rakyat kecil, problematika rakyat kian meningkat seiring kebijakan kenaikan listrik, apalagi beban pajak yang menjamur di setiap sudut kebutuhan rakyat.
Tak hanya itu, adanya reshuffle/pergantian menteri dalam kabinet sekuler, pasti akan membutuhkan dana yang tidak sedikit, sebab ganti orang tentunya akan ganti visi-misi kerjanya. Selain itu, selalu memicu perdebatan soal akomodasi politik atau balas budi atas kemenangan pemilihan Presiden. Dan adanya reshuffle pasti ada unsur kepentingan partai penguasa.
Dengan demikian adanya reshuffle sama sekali bukan atas dasar kebutuhan kemaslahatan publik.
Setali tiga uang, demokrasi yang disebut dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, rupanya hanyalah slogan dan pemanis dari sistem memble ini. Kemaslahatan rakyat dalam sistem kapitalisme-demokrasi, hanyalah sebuah pepesan kosong yang melemahkan rakyat. Rezim yang berada di bawah panji sistem memble, akan terus menjadi penjaga dan pengawal korporasi. Tentunya sembari mencari serta menggali peruntungan reputasi diri pribadinya.
Jadi reshuffle dalam sistem kapitalis-demokrasi tidak akan membawa dampak positif bagi rakyat.
Hal ini takkan terjadi jika negara kita menerapkan sistem Islam. Sistem negara yang sempurna dan paripurna. Sistem yang berasal dari Allah Swt., Sang Maha Pencipta.
Sistem berbangsa yang berlandaskan pada hukum-hukum Al Quran dan Sunnah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang artinya:
"Wahai umat manusia sungguh aku telah meninggalkan bagi kalian perkara yang jika kalian pegang teguh, kalian tidak akan tersesat selama lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Al hakim dan Al Baihaqi dari Ibnu Abbas RA). Jadi perpolitikan sistem Islam bertujuan hanya untuk mengurusi urusan umat, bukan mengurusi kepentingan korporasi.
Dengan sistem Islam Indonesia akan terbebas dari intervensi negara lain, kedaulatan bangsa akan kita raih sepenuhnya, kejayaan dan kesejahteraan akan segera terwujud, keadilan serta kemakmuran akan menghantarkan negeri ini pada kebangkitan peradaban tinggi nan gemilang. Firman Allah Swt. yang artinya:
"Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (TQS Ali Imran :190 )
Sejarah kemuliaan sistem Islam sudah dinikmati oleh 2/3 dunia, mereka merasakan kebahagiaan berada dibawah kepemimpinan negara yang berlandaskan syariat Islam. Selama 13 abad mereka menjadi mercusuar dunia dan telah melahirkan para Imam serta Ilmuwan yang terkenal hingga sekarang.
Wallahu a'lam bishshawab.

No comments:
Post a Comment