Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Palestina Tanpa Sang Perisai

Saturday, April 24, 2021 | Saturday, April 24, 2021 WIB


Oleh : Sri Nurhayati, S.Pd.I
(Pengisi Kepurtian SMAT Krida Nusantara)


Bulan Ramadan adalah bulan istimewa bagi kaum muslimin. Bulan yang Allah lipat gandakan pahala bagi setiap amal kebaikan yang kita kerjakan. Pahala yang berlipat ganda ini, tentu menggiurkan bagi kita untuk berlomba melakukan amalan di bulan Ramadan ini. Keistimewaan bulan Ramadan ini pula yang membawa kita pada suasana yang penuh dengan kekhusyukan dalam setiap amalan ibadah.

Namun, kekhusyukan menikmati bulan suci Ramadan telah dinodai oleh tindakan kejam yang dilakukan Israel. Pada tanggal 16 April 2021 lalu, mereka telah melakukan serangan kepada saudara kita di jalur Gaza yang sedang khusyuk menikmati ibadah di bulan Ramadan ini. Mereka meluncurkan sebuah roket kearah kota Sderot dan mendarat di daerah terbuka di dekat pagar perbatasan.   
Serangan tentara Israel yang dilakukan di bulan Ramadan bukanlah hanya terjadi sekarang saja. Ramadan sebelumnya juga mereka melakukan serangan di tengah kaum muslimin Palestina sedang menikmati kekhusyukan ibadah di bulan Ramadan.
Tepatnya pada 4 Mei 2019 lalu, serangan pertama dilakukan oleh tentara Israel kepada kaum muslimin di jalur Gaza. Disaat kaum muslimin bersuka cita menyambut datangnya bulan suci Ramadan, tapi berubah menjadi mencekam setelah serangan udara dilancarkan oleh tentara Israel. Serangan ini telah menimbulkan banyak korban, sebanyak 300 apartemen hancur, 28 orang meninggal, sekitar 200 orang mengalami cedera.

Bahkan sampai bulan Ramadan berlangsung, Israel masih tak henti mengusik kaum muslimin Gaza. Mereka memperketat blokade, sehingga membuat berbagai kebutuhan selama bulan Ramadan hingga menjelang Idul Fitri sulit didapat.
Hal yang sama pula kembali mereka lakukan di bulan Ramadan tahun ini. mereka kembali mengusik kaum muslimin Gaza dengan melakukan serangan. Bahkan, tak hanya itu mereka melakukan blokade dan pelarangan terhadap warga Palestina untuk melakukan buka puasa di masjid Al Aqsa. Tak puas dengan itu, polisi Israel pun melakukan serangan pada orang-orang yang selesai melaksanakan salat tarawih.

Peristiwa yang menimpa kaum muslimin Palestina, bukan suatu yang baru yang menimpa mereka, dan bukan kejahatan yang baru dilakukan oleh Israel. Sebab apa yang terjadi pada saudara kita di Palestina, Afghanistan, Irak, dan Rohingya menjadi bukti pembantaian demi pembantaian terjadi pada kaum muslim. Pembantaian ini karena kita tidak memiliki perisai untuk melindungi kaum muslimin dari penindasan yang dilakukan musuh-musuh Islam.
Mereka para musuh Islam telah melakukan penghancuran negeri kaum muslim dari satu negeri ke negeri lain, karena mereka melihat bahwa tentara kaum muslim tengah diikat oleh penguasa dan adanya sekat wilayah sehingga mereka tidak akan mampu bergerak. Sekat itu tak lain karena adanya nasionalisme yang ada ditengah umat saat ini.

Nasionalisme atau paham kebangsaan merupakan paham yang dilandasi dari naluri mempertahankan hidup. Dimana masing-masing ingin mendominasi terhadap yang lain agar mendapat hak-hak istimewa yang diperoleh dari adu kekuatan antar suku bangsa. Nasionalisme adalah wabah bagi kaum muslim yang meracuninya sampai saat ini. Nasionalisme menjadikan umat ini terkotak-kotak menjadi negeri-negeri yang kecil dan terpecah belah. Sehingga menjadi sangat mudah bagi mereka musuh-musuh umat untuk menghancurkan kaum muslim. (Akar Nasionalisme di Dunia Islam,1997) 
Sehingga tak heran ketika terjadi penyerangan yang menimpa kaum muslim di Palestina seperti saat ini tidak ada yang bergerak untuk mengirimkan bantuan mereka secara nyata, yakni pengiriman para tentara mereka. Tapi, mereka hanya berharap Amerika Serikat (AS) dan PBB dapat menyelesaikannya. Sungguh suatu harapan yang sia-sia belaka.  Karena, siapapun pemimpin AS tak dapat kita harapkan. Setelah diganti oleh Biden pun, terbukti tak berbuat hal yang nyata untuk memberikan keadilan dalam penindasan yang dilakukan Israel pada Palestina. 

Nasionalisme yang menjadikan negeri-negeri kaum muslimin tercerai berai, sehingga menjadikan mereka mangsa para penjajah seperti Israel. Kita tak dapat berbuat apa-apa untu menolong mereka terbebas dari cengkraman musuh. Jangankan membebaskan, memberikan pertolongan saja kita tidak leluasa. 
Padahal kalau sekat itu tidak ada tentunya kita akan leluasa memberikan bantuan kepada saudara-saudara kita yang sedang mengalami penindasan. Karena sejatinya pertolongan yang mereka butuhkan tidak hanya sekadar makanan, pakaian atau logistik yang sejenisnya. Tapi pertolongan itu adalah dengan pengiriman tentara untuk membantu mereka melawan kekejian yang ada.

Namun sayang semua itu tak akan pernah terwujud ketika nasionalisme masih menyelimuti kaum muslim. Karena nasionalisme sengaja disusupkan ke dalam tubuh umat untuk menghancurkan kesatuan dan persatuan umat Islam.

Perisai Umat dari Para Mangsa Buas
Islam sesungguhnya menjadikan Negara sebagai perisai yang melindungi seluruh rakyatnya dengan seluruh kekuatan politik yang dimilikinya. Seperti sabda Rasulullah saw.: “Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai; rakyat akan berperang dibelakang dengan dirinya.” (HR.Muslim). 
Penguasa dalam Islam akan menjamin darah, harta dan kehormatan warganegaranya, muslim ataupun nonmuslim dalam naungan Khilafah. Karena khilafahlah yang akan menerapkan Islam secara kafah. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw.: “Sesungguhnya otoritas kekuasaan itu merupakan naungan Allah di muka bumi. Setiap orang yang terzalimi di antara para hamba-Nya pergi berlindung kepada dirinya.” (HR. Al-Baihaqi).

Karena itu Negara adalah perisai sejati bagi umat Islam, tidak akan membiarkan rakyatnya mengalami ketertindasan seperti yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya. Seorang pemimpin tidak akan mengabaikan satu nyawa Muslim pun menjadi korban. Ia tidak akan membiarkan wilayah kaum muslim jatuh ke tangan kafir penjajah.
Sungguh, tidak ada solusi lain untuk melindungi kezaliman yang ada kecuali dengan mewujudkan eksistensi kekuatan politik Islam di muka bumi ini. Sesuai dengan keinginan muslim Suriah selama ini, yakni khilafah. Karena khilafahlah yang memimpin seluruh umat di dunia dengan visi politiknya yang luhur akan membentuk dunia dengan keadilan Islam dan menjadikannya rahmat bagi semesta alam. Dialah yang akan menghancurkan sekat-sekat nasionalisme di dunia Islam yang menjadi sumber kehancuran umat ini. Khilafah pula yang membebaskan tanah kaum muslim Suriah, Myanmar, Xinjiang, Mindanao, Sulu, hingga Afrika Tengah. Karena khilafahlah yang akan menjadi perisai bagi nyawa dan kehormatan umat Islam.

Karena itu sahabat, jadilah bagian dari perjuangan mewujudkan kembali perisai Islam dan kaum muslim, Khilafah ‘ala minhaj al-nubuwwah. Wallahu’alam bi Ash-showab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update