(Guru SMKN 1 Pomalaa)
Setahun
kepemimpinan mantan bos Go-jek ini diwarnai pro dan kontra dari berbagai
kalangan. FSGI menilai masih banyak kebijakan Nadiem yang perlu diperbaiki,
seperti polemik pada Program Organisasi Penggerak (POP), hibah merek Merdeka
Belajar, hingga kegiatan PJJ yang masih sarat kendala.
Dilansir dari laman Suara.com - Dalam kabinet Indonesia Maju, Presiden Joko Widodo menunjuk CEO GoJek
Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud).
Tak terasa jabatan yang diemban Nadiem Makarim sudah 1 tahun saja, selama
waktu tersebut tantangan yang dihadapi Nadiem sebagai Mendikbud juga beragam,
yang paling menyita perhatian adalah soal Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ
akibat pandemi virus corona atau Covid-19.
Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) memberi catatan
terhadap kinerja satu tahun Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud),
Nadiem Makarim. FSGI menilai dunia pendidikan di tangan Nadiem belum naik
kelas.
"Mendikbud menurut versi FSGI mendapatkan nilai rapor merah, tidak naik kelas," kata Sekjen FSGI Heru Purnomo dalam keterangannya, (Media.com Senin, 26 Oktober 2020). FGSI menentukan nilai minimal yang seharusnya didapat Nadiem. Ketentuan tersebut bernama Kriteria Ketuntasan Minimal atau KKM, angkanya adalah 75. Beberapa kebijakan Nadiem dinilai berada di bawah KKM
Dalam satu tahun kinerja, terdapat 8
kebijakan Nadiem yang dinilai FGSI. Hal itu diungkap
Pengurus FGSI Cabang
Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Mansur. Dua di antara
kebijakan tersebut yang bernilai bagus, namun rata-ratanya tetap tidak memenuhi
KKM yang ditentukan FGSI.
"Artinya
nilai-nilai di bawah 75 ini dinyatakan tidak tuntas sehingga kalau dirata-rata,
nilai 68 ini kurang atau tidak tuntas, jadi nilainya merah," tutur Mansur
pada acara Rapor Merah 1 Tahun Pendidikan Mas Menteri Nadiem secara virtual,
pada Minggu, 25 Oktober 2020.
Dua di antara
kebijakan tersebut yang bernilai bagus, namun rata-ratanya tetap KKM yang
ditentukan FGSI.Adapun kinerja
yang dipilih untuk diberikan penilaian ada delapan
:
Kebijakan pertama adalah terkait penghapusan
Ujian Nasional (UN). Alumni Harvard University tersebut mendapat nilai sempurna
(100) untuk kebijakan tersebut.
Kebijakan
kedua berkenaan
dengan usaha mengantisipasi pandemi Covid-19 yang berdampak pada dunia
pendidikan. CEO Gojek 2010-2019 itu mengeluarkan kebijakan peluncuran kurikulum
darurat pandemi Covid-19. Ia pun diganjar dengan nilai baik yakni 80.
Kebijakan
ketiga berkaitan
dengan rencana asesmen nasional yang dicanangkan. Nilai 75 diberikan untuk
kebijakan yang rencananya akan menggantikan sistem ujian nasional tersebut.
Kebijakan
keempat adalah
tentang bantuan kuota internet kepada siswa dan guru. Pria bernama lengkap
Nadiem Anwar Makarim itu mendapat nilai 60. Ketidaktuntasan pada poin ini akibat
dari proses penyaluran yang tak sesuai hingga dinilai berpotensi mubazir dan
merugikan keuangan negara.
kelima adalah
tentang program merdeka belajar. Inovasi tersebut akan menyasar pada dunia
perguruan tinggi. Nadiem Makarim
mendapat nilai 60. Merdeka Belajar juga menjadi sorotan. Merdeka Belajar yang merupakan
hibah dari perusahaan swata.
Kebijakan
keenam yaitu
tentang relaksasi dana bantuan operasional sekolah atau BOS. Nadiem Makarim juga
mendapat nilai 60.
Kebijakan
ketujuh berkenaan
dengan pembelajaran jarak jauh atau PJJ. Program yang digagas untuk
menanggulangi problem pendidikan akibat Covid-19 itu ditenggarai masih memiliki banyak masalah. Nilai yang
diberikan adalah 55 atau
tidak tuntas. Banyak masalah PJJ yang tidak terselesaikan, mulai dari peserta
didik dan pendidik tidak memiliki alat PJJ secara daring, sulitnya sinyal di
daerah tertentu, mahalnya kuota internet.
Kebijakan
kedelapan adalah
mengenai organisasi penggerak. Nilai yang diberikan berpredikat ‘kurang sekali’
yaitu 50.
Mengurai Masalah Penyebab Polemik
Sebenarnya masalah kebijakan PJJ
yang prematur dan tidak terukur bersumber dari penerapan sistem pendidikan
sekuler yang tidak sungguh-sungguh berorientasi memberikan hak pendidikan pada
generasi.
Orientasi kapitalistik sangat
dominan mengarahkan lahirnya kebijakan yang tidak adil. Tidak meriayah dan mengabaikan aspek mendasar
pembentukan kepribadian generasi.
Pengamat pendidikan, Indra
Charismiadji mengingatkan pemerintah jika kebijakan yang diterapkan berkutat
pada konsep yang begitu-begitu saja setiap periode, dipastikan tidak ada
perubahan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia yang didapatkan. Maka
dibutuhkan perombakan mendasar pada substansi pendidikan. Ia juga menuturkan, dibutuhkan
evaluasi menyeluruh, objektif, dan transparan terhadap program-program
pendidikan yang sedang berjalan maupun yang telah berhenti. Evaluasi ini bukan
bertujuan mencari siapa yang salah, melainkan mencari solusi atasi
masalah. (cnnindonesia.com ,21/10/2020)
Maka, mengganti sistem pendidikan
sekuler dengan sistem pendidikan Islam merupakan suatu keharusan. Terbukti
selama sistem pendidikan sekuler diterapkan, pendidikan hanya ditujukan untuk
mendapat keuntungan materi. Proses mendidik generasi bukan untuk menjadikan
mereka ilmuwan ataupun pakar dalam bidang pendidikan yang ditekuni, melainkan
menjadi pekerja yang siap memenuhi tuntutan dunia industri.
Apalagi Nadiem pernah menyampaikan
pada publik memiliki impian untuk lima tahun ke depan Sekolah Menengah Kejuruan
atau SMK agar diminati masyarakat luas. Mewujudkan SMK-SMK yang “siap pakai”
bagi dunia industri. Ia pun mengatakan industri mesti melihat SMK-SMK ataupun
vokasi sebagai lembaga pelatihan para pekerjanya karena lulusan SMK maupun
vokasi merupakan buruh murah yang menguntungkan dunia industri.
Inilah arah pendidikan yang dijalankan pemerintah
lewat kebijakan Mendikbud, berupaya mengukuhkan lembaga pendidikan sebagai
tempat pencetak pekerja bagi industri. Inilah rapor merah sistem pendidikan
sekuler, menghasilkan banyak masalah dalam pendidikan yang tak kunjung usai. Pemberian rapor merah terhadap
kebijakan Mendikbud tidak akan memberi pengaruh apa-apa jika tidak dibarengi
tuntutan mengubah sistem pendidikan sekuler saat ini. Diganti dengan sistem
pendidikan Islam yang telah terbukti unggul mencetak
generasi berkualitas.
PJJ Pertaruhkan Kesehatan
Mental Siswa, Guru, dan Orang Tua
Menurut pengamat pendidikan Islam,
Ustazah Yusriana, siswa mengalami stres akibat PJJ tidak memiliki standar
khusus bahkan cenderung sangat memberatkan. Akhirnya siswa menjadi depresi dan
berujung bunuh diri. Ia menilai
dibutuhkan evaluasi dalam dunia pendidikan negeri ini. Sebab, keluhan PJJ tidak
hanya datang dari para siswa, melainkan guru dan orang tua. Kesehatan mental
mereka juga ikut dipertaruhkan. (muslimahnews.com,
20/10/2020)
Sistem kapitalisme setengah hati
dalam mempersiapkan segala infrastruktur guna mendukung PJJ. Justru pemerintah
menggandeng pihak swasta yang mengambil keuntungan selama PJJ diberlakukan.
Akibatnya, polemik PJJ tak pernah selesai karena pemerintah tidak mengambil
peran penuh dalam penyelenggaraannya.
Lalu bagaimana seharusnya peran
negara dalam Islam mendukung keberlangsungan pendidikan generasi bangsa?
Khilafah Menjamin Pendidikan
Generasi
Negara Khilafah akan bertanggung
jawab memberikan sarana dan prasarana yang dibutuhkan rakyatnya. Dapat
dipastikan negara tidak akan mengalami kerugian atas kebijakan menggratiskan
seluruh fasilitas pendidikan karena pengelolaan keuangan dan pendapatan negara
yang amanah.
Negara Khilafah akan menyediakan
fasilitas dan infrastruktur pendidikan yang memadai seperti gedung-gedung
sekolah, laboratorium, balai-balai penelitian, tak ketinggalan buku-buku
pelajaran. Apalagi di masa pandemi begini, kebutuhan PJJ akan didukung penuh
dan negara akan melakukan pengawalan dan evaluasi dalam setiap pembelajaran
yang berlangsung.
Pada masa kepemimpinan Khalifah
al-Muntashir Billah contohnya, berdiri Madrasah al-Muntashiriah di kota
Baghdad. Setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4,25
gram emas). Kehidupan keseharian para siswa dijamin penuh oleh negara.
Fasilitas sekolah disediakan seperti perpustakaan beserta isinya, rumah sakit,
bahkan pemandian. Masyaa Allah.
Namun, masa kegemilangan Islam
berubah menjadi masa kegelapan seiring runtuhnya Khilafah. Kini generasi muslim
harus berjuang membangun kepribadian Islam di sekolah-sekolah yang berisi
nilai-nilai dan hukum sekuler. Sungguh berat, sudahlah minim fasilitas, yang
diajarkan pemahaman sekuler pula.
Maka, tidak mudah mencetak generasi Islam dalam habitat peradaban sekuler. Generasi kepribadian Islam kuat hanya didapat dengan keberadaan Khilafah. Sudah seharusnya setiap Muslim memperjuangkan tegaknya Khilafah. Masa depan generasi gemilang dapat terwujud dalam naungannya. Insyaa Allah.

No comments:
Post a Comment