Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

NORMALISASI HUBUNGAN DENGAN ISRAEL MEMBANTU KEMERDEKAAN PALESTINA, BENARKAH ?

Wednesday, October 07, 2020 | Wednesday, October 07, 2020 WIB Last Updated 2020-10-08T15:57:55Z

Penulis: Karmila Wati (Mahasiswi)

Bagaikan rahasia umum bahwa Palestina dan Israel merupakan negara dengan konflik paling tragis dan terlama diatara negara lainnya setelah perang dunia kedua hingga detik ini. Tak terhitung berapa banyak jumlah  korban berjatuhan dan seberaba menderitanyanya warga Palestina atas gempuran yang selalu diberikan oleh Zionis Israel. 

Melihat kemunduran-kemunduran yang terus terjadi pada Palestina, justru beberapa waktu yang lalu  umat muslim dikejutkan dengan kabar bahwa adanya normalisasi hubungan antara pemerintah Arab Saudi dengan Israel.   Uni Emirat Arab (UAE) dan Bahrain membuka hubungan diplomatik dengan Israel setelah menandatangani perjanjian perdamaian, Abraham Accords, secara resmi di Gedung Putih, Amerika Serikat, pada 15 September 2020, yang disaksikan langsung oleh Presiden AS Donald Trump. 

 UAE dan Bahrain menambah daftar negara di Teluk Arab yang membuka hubungan diplomatik dengan Israel, setelah  Mesir dan Yordania. Bagi Presiden Trump, yang mengusung “Perjanjian Abad Ini sebagai solusi untuk konflik Israel dan Palestina", normalisasi itu merupakan salah satu pencapaian kerja diplomasi AS di Timur Tengah.

Setelah normalisasi hubungan oleh UEA dan Bahrain, Liga Arab juga menolak mengecam tindakan ini, banyak negeri Islam berwacana melakukan langkah serupa, Termasuk Indonesia. Pengamat bidang militer dan pertahanan Connie Rahakundini Bakrie mengatakan Indonesia harus berani membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Hal ini merupakan upaya untuk memudahkan Indonesia melakukan diplomasi dalam mewujudkan kemerdekaan Palestina. "Sudah saatnya Indonesia bertindak konkret agar bisa lebih memahami Israel dengan membuka hubungan diplomatik sehingga ada diskusi lebih lanjut," ujar Connie, Sabtu (26/9). 

Tidak menutup kemungkinan semakin banyak negara-negara Arab yang membuka hubungan dengan Israel, maka kemerdekaan Palestina dapat segera terwujud. Connie mengatakan dengan membuka hubungan diplomatik maka kedua negara dapat saling memahami satu sama lain. Lihat di: (https://www.antaranews.com/berita/1750753/normalisasi-arab-israel-dan-potret-buram-palestina-merdeka)

Palestina Merdeka dengan Normalisasi terhadap Israel ?

Jika kita telaah upaya ini, maka tentunya sangat tidak sejalan dengan perjuangan rakyat Palestina yang menghendaki kemerdekaan, salah satunya bebas dari pendudukan militer tentara Israel. Karena pada kenyataannya saat ini Palestina telah di dominasi penuh oleh Israel terhadap sebagian besar wilayah, yang menjadi tanah air Bangsa Palestina. Otoritas Israel, telah mengontrol kebebasan masyarakat Palestina di wilayah pendudukan, menghalangi pemenuhan terhadap hak mendasar seperti kebebasan berekspresi, berpendapat, bahkan membatasi pergerakan masyarakat. Bahkan mendiskriminasi karena alasan etnis, merupakan hal yang biasa sehari-hari yang dialami rakyat Palestina. 

Tentu saja hal ini sangat tidak adil bagi Palestina. Jadi bisa kita dikatakan bahwa upaya adanya hubungan normalisasi dengan Israel tersebut tidak berpengaruh bagi kemerdekaan Palestina, bahkan berpotensi membuat Israel lebih semena mena dengan rakyat Palestina.

Dari hal ini kita sadari betapa anehnya negeri negeri muslim hari ini yang justru posisinya nampak memperlihatkan keberpihakan mereka terhadap zionis Israel, Harusnya kita bersikap tegas terhadap Israel bukan justru sebaliknya yaitu melemah. Apalagi mengambil cara dengan dalih berdamai. Karena sejatinya  Israel (Yahudi) akan selalu memusuhi kaum Muslimim sebagaimana dalam Q.S al-Baqarah [2]: 120 yang mengonfirmasi hal ini:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Artinya : Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah. (Q.S al-Baqarah [2]: 120)

Dari ayat diatas kita ketahui bahwa yahudi dan Nasrani tidak akan pernah bersikap baik kepada kaum Muslim. Sebagaimana meraka (Zionis Yahudi) telah menjajah Palestina dengan segala kedzoliman dan ketamakkan mereka. Begitupun dengan menyepakati kebijakkan normalisasi hubungan tersebut, maka sama saja kita membiarkan tindakan buruk mereka kepada kaum muslimin terus terjadi.


Dengan demikian bisa kita lihat bahwa kedzaliman seperti ini terjadi akibat  tidak adanya perisai  dan pelindung bagi umat Islam, akibatnya saat ini kaum muslimin tercerai berai seperti anak ayam kehilangan induknya. Syariatnya didiskriminasi, umatnya ditindas dengan berbagai cara dan di berbagai wilayah seperti Palestina, Suriah, Uyghur, Rohingya,dan lainnya. sedangkan kaum muslimin di wilayah lain lemah tak punya daya kekuatan sebab dikekang oleh kafir Barat. 

Kondisi hari ini sangat berbeda jauh dengan masa kejayaan Islam dahulu, dimana Islam dan kaum muslimin masih memiliki perisai dan pelindung yakni daulah Islam. Seperti contohnya dahulu ketika ada wanita Muslimah yang dinodai kehormatannya oleh orang Yahudi Bani Qainuqa’ di Madinah, Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama melindunginya, bahkan menyatakan perang kepada mereka, dan mereka pun diusir dari Madinah. Selama 10 tahun, tak kurang 79 kali peperangan dilakukan, demi menjadi junnah [perisai] bagi Islam dan kaum Muslim.

 Ini tidak hanya dilakukan oleh Nabi, tetapi juga para Khalifah setelahnya. Harun ar-Rasyid, di era Khilafah ‘Abbasiyyah, telah menyumbat mulut jalang Nakfur, Raja Romawi, dan memaksanya berlutut kepada Khilafah. Al-Mu’tashim di era Khilafah ‘Abbasiyyah, memenuhi jeritan wanita Muslimah yang kehormatannya dinodai oleh tentara Romawi, melumat Amuriah, yang mengakibatkan 9000 tentara Romawi terbunuh, dan 9000 lainnya menjadi tawanan. Pun demikian dengan Sultan ‘Abdul Hamid di era Khilafah ‘Utsmaniyyah, semuanya melakukan hal yang sama. Karena mereka adalah junnah [perisai].

Demikianlah sikap tegas  sistem Islam atau Khilafah terhadap penjajahan kaum kafir. Bukan hanya agama, tetapi kehormatan, darah dan harta mereka pun terjaga dengan baik dalam sistem Islam, karena begitulah fungsinya sebagai perisai dan pelindung yang berjalan sesuai dengan aturan sang pencipta. Berangkat dari keimanan kepada Allah SWT yang kokoh memunculkan kewibaan Islam dan kaum muslimin bahkan membuat ciut nyali para musuh-musuhnya. 

Sekalipun begitu, sistem Islam tetap akan menjamin keamanan seluruh warga negara yang berada dalam naungannya baik muslim maupun non muslim, bisa dipastikan mampu hidup berdampingan  dengan damai dan sejahtera. Namun jika ada yang menyerang dan membuat kerusakan pada Islam maupun umat Islam, maka negara akan siap melawan dengan perlawanan yang tegas demi memberantas segala bentuk penindasan dan kedzaliman. Sehingga tidak adalagi kaum muslimin yang terdzalimi, begitupun Palestina dan wilayah muslim lain yang saat ini tertindas hanya bisa merdeka dan bebas manakala perisai tadi ada di tengah-tengah kita, wallahu’alam bisshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update