Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Generasi Gemilang Penerus Sejarah Islam

Wednesday, September 30, 2020 | Wednesday, September 30, 2020 WIB


Ummu Maryam

(Ibu Rumah Tangga)

 

"Mereka yang tidak mengambil pelajaran dari sejarah, maka mereka ditakdirkan untuk mengulanginya."

Kalimat tersebut adalah perkataan dari seorang penulis sekaligus filsuf berkebangsaan Spanyol yang bernama George Santayana. Meski tidak sepenuhnya benar namun patut kiranya menjadi bahan renungan bahwa sejarah tidak bisa dilepaskan dari maju atau mundurnya sebuah peradaban. Sejarah memang bukan rujukan hukum tapi bukti dan jejak peninggalannya akan mengungkap suatu realitas tentang kondisi di masa lalu. Tentang individu, masyarakat, hukum atau kepemimpinan.  

Dalam sejarah terkandung pembelajaran yang berharga yang bisa diambil umat manusia ketika berusaha menggali kebenaran dengan segala referensinya semisal dokumen ataupun saksi sejarah. Mempelajari sejarah memungkinkan manusia untuk membuat keputusan yang benar karena telah mengetahui dampak yang ditimbulkan dari kesalahan pengambilan keputusan di masa lalu. Oleh karenanya, mempelajari sejarah itu wajib bagi para penerus generasi.

Namun dalam file sosialisasi Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) tentang penyederhanaan kurikulum dan asesmen nasional dijelaskan bahwa mata pelajaran sejarah tidak lagi menjadi mata pelajaran wajib bagi siswa SMA/sederajat kelas 10. Melainkan digabung di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Hal ini memantik polemik di tengah masyarakat luas, guru dan para akademisi. Banyak di antara mereka yang menyuarakan ketidaksetujuannya pada aturan ini dengan berbagai macam alasan. Salah satunya disampaiakan oleh Komisioner Bidang Pendidikan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) Retno Listyarti. Pada hari Minggu, 20 September 2020 di Jakarta dia menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya. Lalu bagaimana mau menghargai kalau pelajaran tersebut tidak diberikan? (medcom.id 20/09/2020)

Bangkitnya sebuah negara memang perlu ditopang oleh perbaikan sistem pendidikan, karenanya perubahan kurikulum sering kali dilakukan dengan harapan bisa mencetak generasi yang unggul dan bisa bersaing di kancah dunia. Situasi pandemi saat ini juga menjadi dorongan tersendiri untuk pemerintah dalam membenahi sistem pendidikan negeri ini. Pasalnya pandemi memaksa siswa belajar di rumah dan guru sulit untuk melakukan pembelajaran tatap muka karena berpotensi menciptakan klaster penyebaran Covid-19 yang baru.

Pemerintah lalu menetapkan pembelajaran secara daring selama masa pandemi ini untuk menekan penyebaran Covid-19. Namun rupanya kebijakan tersebut tidak diiringi kesiapan dari segi peralatan serta sumber daya manusianya. Akibatnya banyak kita jumpai di pemberitaan anak yang tidak bisa belajar karena tidak punya gawai, anak harus menginap di rumah saudaranya agar dapat jaringan internet hingga seorang anak dianiaya ibunya sendiri karena tidak mau belajar daring.

Kejadian tersebut pada akhirnya  menunjukkan satu hal, ada pengabaian riayah (pengurusan) urusan umat secara sistemik. Kegagalan negara menyelesaikan problematika masyarakat telah begitu benderang. Aturan yang lebih pro pemodal ketimbang kesejahteraan rakyat tak mampu memberikan hak pendidikan yang merata bagi seluruh rakyatnya. Terlebih upaya penghapusan beberapa materi pelajaran yang harusnya wajib ada. Itulah potret nyata diberlakukannya sistem kapitalis sekuler di negeri ini. Sekolah tidak lagi menjadi tempat untuk menimba ilmu saja tapi juga dijadikan tempat bisnis. Semakin besar biaya yang dikeluarkan maka semakin lengkap fasilitas yang bisa didapatkan. Maka orang yang tidak punya biaya hanya bisa berharap pada beasiswa yang jumlahnya sangat terbatas.

Perombakan dan perubahan kurikulum yang terlalu cepat juga menambah buruk kondisi pendidikan generasi. Para pengajar jadi lebih tersibukkan dengan administrasi serta beradaptasi dengan kurikulum baru ketimbang memperbaiki cara penyampaian materi ajar kepada para siswa. Akibatnya kualitas guru menjadi tidak bisa dimaksimalkan dan anak tidak mendapat pelajaran yang mudah dipahami.

Pembelajaran pun hanya diarahkan agar para peserta didik memiliki nilai akademis yang tinggi sedangkan karakter tidak menjadi perhatian penting. Sekalipun pendidikan karakter kini seringkali dikampanyekan tapi pengaplikasiannya dalam sistem pembelajaran sama sekali tidak jelas arahnya. Termasuk pelajaran sejarah hanya diajarkan untuk dihapal bukan untuk diambil pelajarannya atau diteladani.

Belum lagi upaya pemerintah dalam menjodohkan antara sekolah dan dunia kerja telah membuat sekolah hanya menjadi pabrik pencetak generasi bermental karyawan. Tujuan mereka bersekolah hanya karena ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan penghasilan yang sesuai dengan keinginan mereka. Bukan untuk menggugurkan kewajiban menuntut ilmu yang telah diwajibkan syara' atau untuk menjadi insan yang bermanfaat bagi masyarakat dengan keilmuannya.

Inilah generasi yang diciptakan oleh sistem kapitalis sekuler yang telah memisahkan urusan agama dari kehidupan manusia. Berbeda dengan generasi yang terdidik dengan ajaran Islam, mereka senantiasa menggunakan kaidah agama dalam setiap aspek kehidupannya.

Sejarah telah membuktikan bahwa Rasulullah saw. telah berhasil mempersiapkan generasi yang tangguh dan berkarakter mulia dengan jalan dakwah kepada Islam mulai dari keluarga, sahabat hingga masyarakat luas. Kita telah mengetahui bahwa Siti Aisyah ra., isteri Rasulullah adalah perawi hadits, bahkan handal juga  dalam strategi perang. Lalu sepupu Rasulullah Abdullah bin Abbas yang terkenal dengan kecerdasan dan pemahaman Islamnya. Hingga Ali bin Abi Thalib disebut miftahul ilmi karena kekayaan ilmunya.

Kunci keberhasilan pengkaderan generasi ini adalah karena Rasulullah memberikan keteladanan terbaik, bukan hanya nasehat belaka. Selain itu, penanaman akidah Islam yang kuat sedari awal telah membuat kaum muslim tangguh hati dan akalnya.

Sejarah juga telah memperlihatkan bahwa kepercayaan pada bisyarah Rasulullah mampu membuat sesuatu yang mustahil menjadi mungkin dengan kuasa Allah Swt. Saat Rasulullah mengatakan bahwa kota Konstantinopel akan ditaklukkan, kaum muslim berlomba-lomba berjuang untuk mewujudkan bisyarah tersebut. Berbagai cara telah ditempuh, namun belum juga berhasil. Akhirnya keberhasilan itu dapat diraih oleh seorang anak muda berumur 21 tahun yang digelari Muhammad al-Fatih.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari pertolongan Allah Swt, upaya maksimal dan kesungguhan beliau dalam mempelajari sejarah penaklukan Konstantinopel yang telah gagal sebelumnya. Dengan mempelajari sejarah tersebut Muhammad al-Fatih bisa memikirkan cara yang lebih efektif dibanding cara sebelumnya. Keberhasilan inilah yang diharapkan dari pembelajaran sejarah pada generasi muda bangsa.

Selain itu pendidikan dalam Islam pun bukan hanya untuk mengejar nilai semata tapi untuk mewujudkan generasi yang taat syari'at. Untuk itu negara akan menjamin pemenuhan hak pendidikan pada seluruh warga dengan memberikan pendidikan gratis. Hal itu mungkin saja diwujudkan karena negara dalam Islam punya penghasilan besar yang berasal dari pengelolaan sumber daya alam milik umat. Dengan dana tersebut pula pemerintah mampu membangun sarana belajar yang layak serta mampu menyejahterakan guru dengan gaji yang pantas.

Jika kita simpulkan setidaknya ada tiga hal yang harus dipenuhi agar sejarah itu bisa berdampak pada perilaku generasi muda dan kemajuan di masa mendatang.

1. Generasi muda harus dibekali dengan pembelajaran tauhid yang kuat.

2. Generasi diedukasi dengan sejarah yang benar.

3. Generasi dijauhkan dari metode pendidikan sekuler.

Setelah mengetahui bahwa sejarah paling gemilang hanya bisa diciptakan dalam naungan Islam maka disaat itulah menutup pintu dari sistem yang merusak generasi dan perdaban harus segera dilakukan agar kegemilangan teraih kembali dalam daulah khilafah 'ala minhaj an nubuwwah.

WalLaahu a'lam bish shawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update