Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Penusukan terhadap Ulama, Ada Apa Sebenarnya ?

Wednesday, September 30, 2020 | Wednesday, September 30, 2020 WIB

By: Verry Verani

Menteri Kordinator Politik Hukum dan Keamanan  (menkopolhukam),Mahfud MD angkat bicara terkait penusukan terhadap ulama syekh Ali Jabeer di Bandar Lampung, Minggu sore 13 September.

Mahfud menginstruksikan agar aparat kepolisian segera mengungkap kasus ini.Dan menjamin bahwa proses hukum akan dilaksanakan secara adil dan terbuka. Demikian  Mahfud melalui keterangan tertulis, Minggu 13 September 2020.

Menurut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini Syekh Ali Jabeer adalah ulama yang banyak membantu pemerintah dalam amar makruf nahi munkar, dalam kerangka Islam   sebagai rahmat dan sumber kedamaian di dunia dan termasuk Islam wasathiyyah.

Kenapa penusukan terhadap Ulama terjadi ?

Ada apa sebenarnya dibalik semua  peristiwa ini ?.
Padahal, selama ini beliau selalu berdakwah, sekaligus membantu satgas COVID-19 dan BNPB untuk menyadarkan umat agar melakukan sholat di rumah pada awal-awal peristiwa Corona.
Tidak hanya itu kontribusi Syekh Ali Jabeer, ulama yang aktif membantu pemerintah  membangkitkan  generasi qur'ani.
Bahkan banyak memberi pencerahan pada umat Islam Indonesia. Beliau bersilah ukhuwah dan berbuka puasa bersama Presiden Joko Widodo, Presiden Susilo Bambang Yudoyono, dan Pimpinan lembaga negara lainnya. 
Ulama kharismatik ini begitu lekat dihati umat.  Melukai dan mencederainya, berarti melukai dan mencederai umat Islam.

Terlepas dari permasalahan    diatas, disisi lain  kemungkinan besar negeri ini memiliki persoalan serius sehingga sulit dipecahkankan, kecuali dengan jalan potong kompas, yang akan   memunculkan permasalahan baru.

Bukan sekedar moral dan kriminal biasa. Jika kita perhatikan 'genderang perang sudah di tabuh' oleh   para agen   pengendali negeri ini. Sasaran target telah ditentukan  dengan jelas.
Narasi yang dibangun sebagai strateginya adalah narasi radikalisme, terorisme yang kini semakin santer dan  semakin meresahkan masyarakat.

Sejatinya, siapa melawan siapa ? dalam pertarungan dua ideologi global. Skenario global ini, menyulut keresahan regional, mengancam negeri yang berpenduduk muslim terbesar. Karena itu wilayah Indonesialah sebagai salah satu sasaran target utama.

Amerika Serikat, sebagai negara adidaya  memaksa Indonesia bertahan diposisi negara penyangga dan ditetapkan untuk  menjadi negara sekuleris - Kapitalis yang Radikal. Demikian, tegak disisi lain bahwa Republik Rakyat China berharap Indonesia menjadi negara koloninya.

Adapun hambatan besar bagi China bahwa Indonesia, kultur masyarakatnya menolak Komunis, Pancasila sebagai falsafah negaranya anti Komunis dan Negara penduduk  Muslim terbesar ini anti Komunisme.

 Untuk menjebol hambatan itu Jokowi memuluskan jalan bagi China dengan berbagai cara, antara lain,  beliau menghapus peraturan daerah yang bernuansa Islami, perda- perda syari'ah seluruh Indonesia.  
Tafsir Al-qur'anpun tak luput menjadi bidikan perubahan untuk dijadikan konsep moderasi Tafsir Al-qur'an, politik belah bambu, proxi dan adu domba terhadap ormas - ormas Islam, persekusi dan intervensi serta tindak kekerasan dalam berbagai bentuk permusuhan  terhadap para Ulama dan para tokoh Muslimiin. 

Untuk mempercepat lajunya perubahan ini didirikanlah suatu lembaga Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP). Ketika muncul dihadapan publik, Sang ketua Pembina ini mengarahkan  tudingannya pada agama. Bahwa sejatinya agamalah sebagai musuh negara nomer satu.

Tidak lama berselang, masyatakat netizen di hebohkan ulah para anggota Dewan Perwakilan Rakyat.  Terekam saat mengajukan draf Rancangan Undang Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP). 
Rancangan ini ingin merubah Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi Ketuhanan  yang berkebudayaan. Ajuan ini dirancang untuk menghapus Pancasila menjadi Ekasila atau gotong-royong.

Berbagai upaya  dilakukan, tanpa malu- malu lagi  jurus hak power negara dipertontonkan agar bangsa ini menerima keinginan penguasa. Majlis Ulama Indonesia dan berbagai kalangan merespon dengan membuat perhitungan matang.

Inilah sejumlah bukti, bahwa sistem Sekuler dan Rezim memusuhi ulama dan agamanya.

Solusi  Mustanir

Islam memuliakan kedudukan Ulama. Ulama dan Umaro ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. 

 Allah memberikan pernyataan akan memerangi siapa saja yang memerangi dan menyakiti ulama.  Ulama termasuk wali Allah, dari Abu Hurairoh ra  dari Nabi saw, : 
"Sesungguhnya Allah telah berfirman :"barang siapa memusuhi waliKu, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya".(HR. Bukhori).

  Peran penting dan kontribusi besar para ulama pada saat ini adalah penyambung lidah Rosulullah saw. Yang mewarisi ilmu- ilmu agama dari beliau. Menyakiti ahli waris nabi sama dengan menyakiti orang yang mewariskan.

 Maka sepatutnya bagi seorang muslim menjaga lisan dan tangannya. Artinya menghormati dan mencintai alim ulama.
Ulama sebagai pengemban amanah, penyebar Risalah Islam.

 Melakukan amar ma'ruf nahi munkar bersama umat. Umat dan Ulama adalah satu kesatuan penting yang menjadi pilar pengokoh  negara.

Ulama juga sebagai penasehat dan pengontrol agar pemerintahan berjalan sesuai perintah Allah swt.

 Ulama selalu mengiringi  kontstribusinya sebagai penerang umat, untuk urusan dunia dan akhirat.

 Ulama yang akan memberikan arahan dan masukan terkait kebijakan dan kemaslahatan umat.

Sistem Kapitalisme- Sekulerisme yang diterapkan saat ini tidak berpihak pada ulama.
Namun para Alim- Ulama hanya dimanfaatkan   ketika dibutuhkan untuk mengukuhkan kekuasaan Penguasa.

Apakah bila pemerintahan pengusung sistem sekuler - Kapitalis akan berbuat adil, jujur dan akan setia pada Pancasila ?

 Apakah Rezim akan  tulus mencintai ulama dan umat dengan sepenuh hati ?  

Apa sistem sekuler akan melindungi ulama yang mukhlis yang teguh berjuang pada penegakan syari'ah- khilafah ?

 Tentu saja Kapitalis - sekuleris Sang pengusung kebebasan ini  telah menyingkirkan agama dari kehidupan publik. Keberpihakkan kepada ulama yang mendukungnya sangat nyata.

Rezim Sekuleris - Kapitalis  akan memusuhi ulama yang berjuang menerapkan syari'ah dan  tegaknya Keadilan intitusi daulah khilafah.

 Padahal dalam intitusi inilah ulama akan dihormati, dimuliakan, Negara akan berjaya mendapat Keberkahan Allah swt. Negara melindungi para Ulamanya, menjaganya dan memfasilitasi dengan berbagai kemudahan serta menganugrahkan penghargaan yang setinggi-tingginya.

 Umatpun akan merasakan aman, damai dan sejahtera karena Negara selalu hadir dalam mengurusi segala problematika urusan- urusan  warga negaranya.

Wallahu 'alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update