Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

REFLEKSI IDUL ADHA 1441 TAAT SEMPURNA DAN SIAP BERKORBAN MENUJU SOLUSI PANDEMI

Tuesday, July 28, 2020 | Tuesday, July 28, 2020 WIB Last Updated 2020-07-28T06:48:17Z
OLEH : HJ. PADLIYATI SIREGAR, ST

Dunia saat ini sedang digemparkan dengan merebaknya virus corona yang telah menjadi pandemi global. Berawal dari kota Wuhan, China, virus yang kemudian dikenal dengan nama covid-19 ini menyebar tidak hanya ke seantero negeri, tetapi seluruh penjuru dunia. Tidak ada satu pun negara yang terbebas dari ganasnya virus corona ini.

Satu per satu korban meninggal akibat terjangkit virus corona berjatuhan. Tak hanya puluhan, tetapi mencapai ratusan, bahkan ribuan korban jiwa di setiap negara. Jika diakumulasi secara global, jumlah korban keganasan virus covid-19 ini bisa mencapai puluhan ribu jiwa. Sungguh suatu tragedi bencana non alam.

Banyaknya korban jiwa akibat virus corona ini disinyalir karena pemerintah di setiap negara tidak siap menghadapinya. Bahkan, tak bisa dipungkiri bahwa pemerintah di berbagai negara seolah kewalahan saat ‘berperang’ melawan virus corona. Keterbatasan jumlah tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat dan minimnya APD (Alat Pelindung Diri) mengakibatkan layanan kesehatan tidak maksimal. Bahkan, tak sedikit tenaga kesehatan yang turut menjadi korban ‘keganasan’ virus corona.

Pandemi COVID-19 adalah peristiwa menyebarnya penyakit koronavirus 2019 (bahasa Inggris: coronavirus disease 2019, disingkat COVID-19) di seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh koronavirus jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2.[1] Wabah COVID-19 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada bulan Desember 2019, dan ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO.

Pandemi global Virus Corona membuat segala kerusakan, termasuk di sektor ekonomi, menjadi predictable, bahkan langsung dirasakan oleh semua orang. Si kaya maupun orang miskin, yang lemah maupun orang kuat, semua merasakan ketidaknyamanan karena kerusakan di sana-sini. Kini, warga planet ini pun tak bisa mengelak ketika perekonomian dirundung masalah teramat serius.

IMF kembali menegaskan bahwa perekonomian global sudah memasuki tahap resesi. Sebab, seperti halnya di Indonesia, hampir semua negara menghentikan sebagian aktivitas perekonomian. Mudah untuk disimpulkan bahwa sebagai akibatnya adalah terjadinya kerusakan pada sejumlah sektor dan sub-sektor ekonomi. Sebagai bagian tak terpisah dari perekonomian dunia, Indonesia pasti merasakan dan menerima dampak dari kerusakan itu.

Bukan hanya masalah ekonomi saja berdampak juga, pada masalah sosial dan ekonomi di masyarakat. Dimana, sebagian masyarakat kehilangan pendapatan, tidak dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, terutama rumah tangga miskin dan rentan serta sektor informal. Daya beli dan konsumsi masyarakat turun. Selain berdampak bagi rumah tangga, pandemi corona juga berdampak pada UMKM, yang tidak dapat melakukan kegiatan usaha dan terganggu kemampuannya dalam memenuhi kewajiban kredit sehingga kredit bermasalah atau NPL perbankan bagi UMKM bisa meningkat signifikan, yang berpotensi makin memperburuk kondisi perekonomian.

Malasah dalam sektor pendidikan juga kena imbasnya,pelaksanaan sistem pembelajaran jarak jauh pada anak di Indonesia selama pandemi dinilai masih belum berjalan secara optimal. Ada beberapa hal yang dinilai menjadi kendala, terutama mengenai akses internet.
Hal tersebut terjadi karena beberapa daerah nusantara belum memiliki akses internet, bahkan listrik.

Kemudian, masalah kemampuan orangtua dalam mendampingi anak-anak di rumah juga masih kurang karena banyak Mama dan Papa yang belum mengerti tentang sistem pendidikan saat ini. 

*Saatnya Muhasabah*

Melihat kondisi saat ini, dimana manusia dengan kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuannya, ternyata sampai detik ini belum mampu menghentikan laju penyebaran virus Corona ini. Ya, manusia hari ini diperhadapkan dengan ujian melawan makhluk tak kasat mata yang hanya mampu bertahan hidup jika berada pada makhluk hidup lain. Makhluk kecil ciptaan Allah yg telah melumpuhkan berbagai sektor kehidupan manusia.

Sungguh sudah sepatutnya kita mengambil pelajaran dan memuhasabah diri dengan adanya ujian ini. Apakah ini adalah salah satu teguran dari Allah kepada kita manusia yang telah melakukan kerusakan di muka bumi? Jawabannya sepertinya iya sebab sudah terlampau besar kerusakan yg kita lakukan di bumi milik Allah ini.Berbagai kerusakan dan kemaksiatan telah manusia perbuat, termasuk di Indonesia dimana angka kriminalitas, korupsi, perzinahan dan riba terus meningkat, ditambah utang ribawi semakin menumpuk, SDA juga dikuasai pihak swasta dan asing, ekonomi rakyat semakin tercekik. 

Kerusakan dan kemaksiatan ini terjadi karena manusia telah lama mengurus perkara hidupnya dengan hawa nafsu dan pikirannya sendiri, melalui penerapan sebuah sistem kehidupan yaitu kapitalisme sekuler serta diikuti dengan neoliberalisme yang semakin menjadi-jadi. Sekulerisme sudah semakin menjauhkan umat manusia dari keterikatan dan ketaatannya kepada hukum Allah. Ketika kita telah menyadari kerusakan yang terjadi, maka saatnya kita campakkan sumber kerusakan itu (sekulerisme dan kapitalisme) lalu kembali kepada penerapan syariat Islam Kaffah. Semua itu dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, dan agar Allah menurunkan keberkahan dan ampunanNya kepada kita hambaNya yang telah banyak bermaksiat.

Telah dikisahkan didalam Alquran mengenai ketaatan keluarga Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim AS. melaksanakan perintah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Ismail AS pun begitu tunduk pada perintah Tuhannya sehingga rela mengorbankan jiwa dan raga. Tak hanya seorang ayah dan putra yang taat, keluarga Nabi Ibrahim as juga dilengkapi dengan seorang ibu yang taat kepada-Nya. Ibunda Siti Hajar, yang taat tanpa tapi menerima wahyu Allah, meski harus merelakan putra kesayangannya. 
Berbeda dengan pemikiran manusia kebanyakan yang akan taat bila ada maslahat atau manfaat. Ketiganya merasa ridha dan yakin akan perintah Allah SWT, tanpa tapi. Tidak mempertimbangkan apakah aturan tersebut menguntungkan atau merugikan, dipandang manusia kebanyakan baik atau jelek, karena keluarga Ibrahim AS begitu yakin bahwa aturan dari Sang Mahabijaksana tentu bersifat bijaksana dan adil pula. Meski dari sudut pandang duniawi tidak meraih manfaat besar. Sebab, inilah wujud dari taat tanpa tapi. Harta, jiwa, bahkan nyawa dipersembahkan hanya untuk ketaatan kepada-Nya.

Inilah saatnya kita berkurban. Mengurbankan segala apa yang kita punya. Tampil ke depan membawa panji-panji Islam.

{لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (TQS. Al-Hajj [22] : 37)

Mari kita berkurban. Tidak hanya berhenti pada penyembelihan kambing, sapi, atau unta. Namun pengorbanan harta, waktu, jiwa dan raga kita demi tegaknya agama Allah di muka bumi ini. Berjuang dengan segenap daya dan kemampuan menyongsong kemenangan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. []
×
Berita Terbaru Update