Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

New Norma, Benarkan Rakyat Buntung?

Wednesday, June 10, 2020 | Wednesday, June 10, 2020 WIB Last Updated 2020-06-10T15:56:39Z
"
Oleh : Siti Aminah ( Aktivis Muslimah)

Wabah corona belumlah reda, semakin menggila, bahkan belum mencapai puncaknya. Gubernur Khofifah Indar, dikutib dari radarmadiun.co.id (12/5), juga memperkirakan puncak pandemi di Jawa Timur pada pertengahan Juni. ‘’Kami memang tidak melarang berjualan. Mohon semuanya mematuhi protokol pencegahan yang telah ditetapkan. Mohon pengertian masyarakat jangan sampai kurva meningkat dan perkiraan puncak pandemi mundur lagi,’’ pintanya

Ditengah wabah mengintai nyawa, kita diminta untuk berdamai dengan corona, yakni dengan memulai kehidupan normal "new normal" ditengah abnormal. Mall kembali dibuka, bandara dan sekolah juga akan segera dibuka. 
Kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan pelonggaran PSBB dengan semboyan hidup damai dengan corona membuat semua ambyar upaya pemerintah daerah, tenaga medis dan yang di rumah saja menjadi sia-sia belaka. Pempus bukannya berupaya menghentikan laju penyebaran ini justru berupaya untuk menyebarkan dan menjamurkan virus, kebijakan yang tidak masuk akal. 

Diumumkan Presiden Joko Widodo (7/5/2020), melalui akun resmi media sosial Twitter @jokowi, dinyatakan, “Sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan.”

Dimuat pada laman kompas.com, “Kementerian perekonomian mengeluarkan skenario “hidup normal” atau “new normal” dengan timeline pemulihan ekonomi nasional usai pandemi Covid-19. Skenario ini dibuat mulai awal Juni mendatang. Dalam timeline tersebut dirumuskan lima fase atau tahapan yang dimulai tanggal 1, 8, 15 Juni, dan 6, 20, 27 Juli 2020. Adapun fase itu akan diikuti dengan kegiatan membuka berbagai sektor industri, jasa bisnis, toko, pasar, mall, sektor kebudayaan, sektor pendidikan, aktivitas sehari-hari di luar rumah.”

Pada dasarnya kebijakan tersebut diambil karena negara tak punya dana untuk menjamin hidup rakyatnya. Program jaminan sosial yang digembar gemborkan oleh pemerintah hanya menjadi guyonan masyarakat. Sehingga rakyat dibiarkan sendiri mencari nafkah sendiri di tengah pandemi, dan tenaga medis juga dibiarkan berjuang sendiri tanpa alat yang memadai.

Kebijakan pelonggaran PSBB merupakan siasat pempus demi ekonomi tak terhenti. Ketika ekonomi berjalan di tengah pandemi yang diuntungkan bukan rakyat, tapi pemerintah. 

Pemerintah memperoleh pendapatan dari sektor ekonomi riil dalam sektor kecil memperoleh retribusi dari PKL. Dalam sektor besar pemerintah memperoleh retribusi dari pajak dari pabrik- pabrik yang beroperasi. Sehingga PHK bisa ditekan dan masyarakat pegang uang, ekonomi akan membaik. Sementar Mall-mall yang dibuka merupakan milik pengusaha besar, mereka yang sebelumnya kelimpungan karena wabah ini akan menggeliat bangkit lagi. Hal ini menguntungkan mereka, karena melalui pengusaha juga lah penguasa ini bisa naik kursi. Maka ketika pengusaha kesakitan, pemerintah menjadi garda terdepan untuk menyelamatkan kehidupannya. Bukankah itu berarti pemerintah ( juga pengusaha besar ) yang untung?

Sementara rakyat bertaruh nyawa demi sesuap nasi. Kadang pulang bawa rejeki, kadang pula rejeki belum menemani. Pelonggaran PSBB menjadi bukti betapa kejamnya sistem kapitalis, atas nama ekonomi menjadikan nyawa rakyatnya sebagai tumbal. Bukankah itu rakyat yang buntung?

Hal ini terjadi memang sejak awal dari penanganan wabah ini yang tidak serius. Bahkan bukan hanya itu tapi juga dari sistem yang diterapkannya, yakni kapitalisme. Yang dalam bahasa arabnya roksumali ( roksun: kepala, mall: harta). Maka dalam kapitalisme yang ada di kepalanya hanya harta, materi. Banyaknya harta menjadi standart kebagiaan dalam sistem ini. Segala cara dilakukan, tak kenal halal- haram, baik-buruk, bahkan mengorbankan nyawa demi meraih materi sebanyak- banyaknya. 

Hal ini sungguh bertolak belakang dengan sistem Islam. Islam  mempunyai aturan yang komplit, Islam mewajibkan lokcdown bagi daerah yang terkena wabah. Dan kehidupan mereka ditanggung oleh negara, sedang wilayah yang tidak terkena wabah bisa menjalankan aktifitas seperti biasa, sehingga roda perekonomian tetap bisa berjalan.

Kekuasaan Islam yang disebut dengan khilafah menempatkan urusan umat sebagai urusan utamanya. Kehormatan, nyawa, akal dan harta rakyatnya dipandang begitu berharga. Kelalaian terhadap salah satu diantaranya dianggap sebagai kelalaian terhadap syariat Allah. Karena semuanya adalah jaminan atas penegakan hukum syara'. 

Fakta hal ini tampak saat kondisi normal terlebih juga kondisi saat negara ditimpa kesulitan. Disituasi seperti ini kekuasaan tampil sebagai perisai, pelindung rakyatnya. Di mana penguasa siap membela kepentingan rakyat dan mendahulukannya dibanding diri mereka sendiri. 

Itulah yang sempat digambarkan sejarawan Will Durant secara jelas dan lugas dalam bukunya: “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapa pun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.” (Will Durant – The Story of Civilization).

Khusus di bidang jaminan kesehatan, dia juga menuliskan,
“Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya adalah al-Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160, telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarawan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.” (Will Durant – The Story of Civilization).

Masihkah kita belum menyadari bahwa sistem kapitalisme itu rusak dan merusak, serta gagal dalam ujian pandemi ini? Masihkah kita belum menyadari bahwa kita punya Islam aturan dari Allah  yang telah  terbukti  menguasai 3/4 dunia selama 13 abad? 

Sudah saatnya kita kembali ke pangkuan Islam, yang mampu melindungi, mengayomi dan menyejahterakan rakyatnya dengan apik. Dengan kita menerapkan aturan Allah, maka Allah akan ridho, baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur pun akan tercapai. 

Wallahu'alam bishshowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update