Oleh: Sri Yana
Sudah hampir setengah tahun semenjak covid-19 pertama berada di Wuhan, Cina telah banyak menjadikan pemerintah dan masyarakat kalang kabut menghadapi virus dalam skala mikro tersebut. Tak dipungkiri datangnya virus tersebut merupakan atas kekuasaan Allah pemilik semesta alam. Sebagai hamba tugas kita harus meyakini bahwa segala yang terjadi akan menjadikan kita bermuhasabah diri, baik individu, masyarakat maupun negara.
Memang masa-masa ini sangat menyulitkan masyarakat baik yang kaya, apalagi yang ekonominya dikatakan dibawah standar. Ditambah kini, tarif dasar listrik (TDL) yang banyak dikeluhkan masyarakat. Sebagaimana dikutip jabar.sindonews.com, 7/6/2020 bahwa PT PLN memastikan banyak keluhan masyarakat terkait lonjakan tagihan listrik belakangan ini bukan kenaikan TDL. Kenaikan tagihan lebih disebabkan ada selisih dan kenaikan konsumsi listrik saat work from home (WFH) atau kerja dari rumah
Benarkah kenaikan listrik karena masyarakat kerja dari rumah? Tak tanggung-tanggung kenaikan listrik naik menjadi 4× lipat. Dugaan adanya kenaikan listrik secara diam-diam dari pihak PT PLN. Namun PT PLN mengelak bahwa telah menaikkan TDL tersebut pada masa pandemi ini. Dengan alasan bahwa kenaikan listrik adalah wajar karena penggunaan listrik yang meningkat work from home (WFH).
Ini menegaskan ketidakpedulian kesulitan rakyat dan sektor strategis. Seharusnya layanan publik memberikan pelayanan terbaiknya kepada masyarakat. Karena PLN merupakan perusahaan milik negara yang pengelolaannya diperuntukkan rakyat.
Namun di sistem kapitalisme sektor-sektor pertambangan berupa minyak bumi, batubara, emas, dan lain-lainnya dapat di kuasai swasta. Begitu juga dengan hutan yang kini fungsinya sudah berubah, mulai dijadikan ladang bisnis bagi pengusaha dan penguasa yang harus akan materi dan kekuasaan. Selain itu juga laut yang kekayaannya berlimpah berupa ikan-ikan yang dikuasai oleh individu. Padahal kekayaan tersebutlah sudah sejatinya digunakan demi kesejahteraan rakyat.
Memang tidak dipungkiri di sistem yang mengganas ini sejahtera adalah hal yang mustahil karena sejahtera bagi orang-orang tertentu yang memiliki materi dan kekuasaan. Bagi orang-orang kecil adalah mimpi yang sulit terwujud.
Sistem Islamlah yang dapat mewujudkan mimpi seluruh rakyat baik yang kaya maupun yang miskin. Tidak akan ada listrik yang mencekik, apalagi perekonomian yang membuat rakyat yang menjerit karena mahalnya kebutuhan pokok. Dimana pandemi ini banyak yang terkena pemutusan hubungannya kerja (PHK).
Karena pandemi yang dampaknya dirasakan oleh semua negara di dunia yang dapat merubah tatanan perekonomian dunia. Seharusnya umat seharusnya semakin sadar bahwa Islam adalah solusi satu-satunya baik masalah tarif listrik, ataupun masalah ekonomi global yang kini terasa di semua lini kehidupan. Dengan Islam sudah ditentukan mana yang merupakan kepimilikan umum dan kepemilikan khusus. Karena dalam Islam listrik merupakan kepemilikan umum yang digunakan demi kepentingan rakyat yang tidak boleh dibisniskan.
Tidak disangkal Islam dapat terasa ketika sudah diterapkan. Sebagaimana pada masa Rasulullah, pada khalifah, maupun pada masa kejayaan Islam yang telah dirasakan orang-orang sebelum kita. Oleh karena itu, masih enggankah kita dengan sistem Islam?
Waallahu a'lam bish shawab
No comments:
Post a Comment