Oleh: Siti Maisaroh, S.Pd
Dipenghujung masa kuliah, biasanya seseorang mempunyai semangat berlipat. Karena kelulusan dan bayang-bayang toga sudah ada didepan mata. Apalagi bisa menghadirkan kedua orang tua di kursi undangan. Tinggal selangkah lagi, akan tibalah hari yang dinanti. Tetapi, ternyata tidak semua mahasiswa bersikap demikian, justru masa penghujung kuliah dianggap masa yang paling berat, karena membutuhkan pengorbanan lebih ekstra disana. Dari materi, pikiran, waktu, juga tenaga semua akan tercurahkan.
Fenomena mengenaskan baru-baru terjadi, cukup diketahui, ini bukan pertama kali. Tentu kita pun masih ingat pernah ada maha siswa ahkir yang memenggal kepala dosennya karena kesal dengan skripsinya yang selalu direvisi. Seperti yang dilakukan oleh LN (23) mahasiswa universitas Bina Bangsa Serang yang nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri, diduga stres lantaran mengerjakan skripsi. Korban mengakhiri hidupnya disalah satu bangunan kosong kompleks Bumi Serang Baru Blok E, kelurahan Kaligandu, kecamatan Serang, kota Serang. Warga menemui korban dalam keadaan tergantung pada Selasa (26/05/2020) sekitar pukul 17.00 WIB. Kepada orang tuanya, korban pernah mengeluh kesulitan mengerjakan proposal skripsi yang tak kunjung selesai. Ajuan proposal penelitian harus bolak-balik revisi atas saran dosen pembimbing. (Bantennews.co.id 27/05/2020).
Menurut hemat penulis, ada beberapa faktor yang menyebabkan kejadian demikian bisa terjadi. Yakni faktor internal dan faktor eksternal. Pertama faktor internal. Ketakwaan individu yang rapuh adalah alasan utama. Kurang atau bahkan tidak adanya kesadaran bahwa semua perbuatan kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Rohaninya kering, sehingga tidak memiliki kontrol atau pengendalian pada diri. Sebagai seorang muslim, kuliah adalah bagian dari menuntut ilmu, jika niatnya mencari ridho Allah SWT dan caranya benar (tidak melanggar syariah) maka dia paham kalau ada pahala disana. Sehingga ia akan bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan kuliahnya. Dia juga selalu berdo’a karena Allah lah yang Maha Memudahkan segala urusan. Bersabar menjalani proses diiringi keyakinan bahwa dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Kedua faktor eksternal. Bisa dari faktor tekanan dari orang-orang sekitar, faktor biaya penghujung kuliah yang tinggi dan menuntut segera dibayar, dosen pembimbing yang bengis dan tidak menghargai usaha, sedih karena rekan-rekan seangkatan sudah mendapat kabar skripsi ‘aman’. Dari semua faktor eksternal yang ada, hal yang paling mempengaruhi dan harus bertanggung jawab adalah Negara. Pasti anda bertanya, mengapa harus menyalahkan Negara?
Karena Negara adalah pemangku kebijakan, saat ini Negara telah berlepas tangan dalam banyak hal, termasuk sektor pendidikan yang diserahkan pada pihak swasta (pengusaha), sehingga jangan heran jika biaya kuliah terus merangka naik karena dijadikan sebagai mesin pencetak uang bagi mereka. Itulah ciri dari rusaknya system yang tengah dijalankan yakni Kapitalis-Sekular. Segara sektor yang seharusnya menjadi tanggung jawab Negara untuk memenuhi hak rakyatnya justru dijadikan fasilitas agar rakyatnya membeli. Dari biaya semester, biaya gedung, perpustakaan, parkiran, pelatihan-pelatihan, buku panduan belajar, biaya ujian, sampai wisuda dan ijazah, semua serba mahal. Kemana tanggung jawab Negara?
Dari segi Sekular, system pendidikan Negara kita hanya mencetak para pelajar yang siap dijadikan buruh kerja. Tanpa dibekali adanya sentuhan nilai-nilai agama bahwa ilmu yang didapat harus diabdikan kepada masyarakat. Bahwa ilmu sebanding dengan takwa, semakin berilmu seseorang harusnya semakin bertakwa dan takutlah ia pada Allah, sehingga seorang pelajar akan berprilaku sesuai apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Dia larang. Sempurna adanya kerusakan yang terjadi di negeri tercinta ini, khususnya dibidang pendidikan yang merupakan ‘lahan’ tumbuhnya benih unggul putra-putri bangsa yang siap membawa bangsa ini bekemajuan.
Masalah yang sempurna hanya bisa diatasi dengan solusi yang sempurna. Yakni system Islam, karena hanya Islam lah yang mempunyai aturan yang kaffah (sempurna). Jika ianya diterapkan oleh sebuah Negara, maka marilah kita sedikit mengintip kebelakang (sejarah), bagaimana khilafah Islam mampu melahirkan para ilmuan terdepan yang mampu hadir ditengah-tengah umat berbekal ilmunya yang mumpuni dan ketakwaannya yang menjadi teladan.
Islam Memuliakan Proses Pendidikan
Rasulullah Saw bersabda, “Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan.” (HR. Ibnu Abdil Barr). Sehingga, Negara yang menerapkan aturan Islam akan bertanggung jawab agar seluruh rakyatnya dapat menjalankan kewajiban itu. Sistem pendidikan Islam juga tidak memisahkan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat. Keduanya menyatu, sehingga lahirlah generasi yang berilmu dan bertakwa.
Pendidikan merupakan kebutuhan sosial primer yang wajib disediakan oleh Negara. Artinya, Negara harus memastikan bahwa semua rakyatnya dapat mengakses pendidikan dimana pun ia berada dengan latar belakang apapun. Akses disini termasuk semua aspek, jenjangnya, biayanya, jaraknya, jumlahnya, fasilitasnya, dan sarana serta fasilitas lainnya yang mendukung jalannya sebuah proses pendidikan.
Negara Islam memberikan jaminan kepada seluruh rakyatnya untuk mendapatkan pendidikan dengan mudah dan murah. Hal ini karena Negara Islam mampu mengelola keuangan Negara dengan pembiayaan dari harta baitul maal, yaitu pos keuangan yang bersumber dari fai’, khoroj, dan harta kepemilikan umum. Kepemilikan umum dalam Islam meliputi kekayaan alam yang sifatnya tidak dapat dimiliki oleh perorangan misal hutan, lautan, barang tambang, dan lain-lain.
Sehingga Negara mampu membiayai kebutuhan rakyatnya, bahkan bukan hanya dalam pendidikan saja tetapi juga kesehatan dan keamanan. Sedangkan pada system kapitalis saat ini, Negara tidak lagi berdaya, karena kekayaan alamnya telah dikelola oleh pihak-pihak swasta yang tidak bertanggung jawab. Waallahu a’lam bishawab.

No comments:
Post a Comment