Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Friday, May 01, 2020 | Friday, May 01, 2020 WIB Last Updated 2020-05-01T05:35:02Z


Oleh : Nur Fitriyah Asri
Pengurus BKMT Kabupaten Jember, Akademi Menulis Kreatif (AMK)

 Sebuah peribahasa: "Ada gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak." Peribahasa yang menggambarkan betapa mudahnya seseorang melihat kesalahan orang lain dibanding kesalahannya sendiri.

Betapa meruginya kita, jika kesalahan atau aib sendiri yang besar tidak tampak. Tapi, kesalahan atau aib orang lain meskipun sedikit tampak jelas. Hal ini  disebabkan karena kurangnya muhasabah diri (introspeksi). Apa muhasabah itu?

Muhasabah adalah usaha untuk menilai, menghitung, mengkalkulasi amal saleh yang kita lakukan dan kesalahan-kesalahan yang kita kerjakan. Dengan tujuan akan terjadi perubahan setelah mengetahui adanya keburukan pada diri sendiri untuk segera di perbaiki. Jika ada kebaikan, maka berusaha untuk lebih baik lagi dari yang sebelumnya.

Muhasabah Hukumnya Wajib, Sebagaimana Firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. al-Hasyr [59]:18).

Dalam surat tersebut, ada seruan untuk bertakwa hingga diulang dua kali. Menunjukkan betapa pentingnya kita bermuhasabah atau introspeksi. Mumpung ini di bulan Ramadan yang merupakan bulan penuh rahmat, berkah dan maghfirah (ampunan). Bukankah hakikat bulan Ramadan untuk meraih derajat takwa? Yaitu melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Adapun hakikat muhasabah adalah sarana untuk mengantarkan kita menjadi manusia yang mulia dan bertakwa.

Sungguh luar biasa manfaat dan pentingnya muhasabah.
sebenarnya banyak, di antaranya yaitu :

1. Mengetahui Kelemahan Diri Sendiri

Dengan bermuhasabah, maka setiap muslim akan mengetahui kelemahan serta sadar akan aib buruk yang menimpa dirinya sendiri, baik itu amalan ibadah,  maupun ibadah lainnya dalam kehidupan duniawi.

Sehingga, muncul kesadaran bahwa semua yang kita lakukan senantiasa dicatat oleh Malaikat Rakib dan Atid. Sehingga berusaha menghisab (menghitung) diri sendiri, sebelum dihisab di hari akhir nanti. Agar dapat memperbaiki kekurangan kita, supaya menjadi pribadi yang lebih baik.

2. Mengetahui Hakikat Penciptaan Dirinya

Seseorang yang senantiasa bermuhasabah akan menyadari mengenai maksud dan tujuan Allah menciptakan manusia. Sebagaimana firman Allah Swt.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS.  adz-Dzariyat [51]: 56)

"Beribadah kepada-Ku," maksudnya seorang hamba harus memahami hakikat dari ibadah yang sebenarnya, yaitu hanya tunduk patuh, dan taat kepada Allah Swt saja. Bahwasanya segala perbuatan dan,   amal-amal saleh yang kita kerjakan, semata-semata hanya karena Allah Swt. Intinya kita rida  terhadap hukum Allah secara mutlak, tidak boleh dipilah dan dipilih. Itulah wujud ibadah yang sesungguhnya.

3. Mengetahui Kebenaran dan Kebatilan.

Meyakini bahwa kebenaran dan kebatilan ditentukan oleh syariat Allah, bukan yang lain. Sehingga menyadari dan memahami segala sesuatu yang baik maupun  batil, sebesar atau sekecil apa pun, semuanya nanti akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Seperti firman Allah Swt.
"Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Qiyamah [75]: 36)

4. Takut Berbuat Maksiat

Seseorang yang senantiasa bermuhasabah akan takut berbuat sesuatu yang bernilai maksiat dan keburukan (dosa), ia sadar bahwa setiap perbuatan selalu di awasi oleh Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya:

وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ رَّقِيبٗا ٥٢

“Dan adalah Allah Mahamengawasi segala sesuatu.” (al-Ahzab [59]: 52)

5. Memunculkan Rasa Takut untuk Bertobat.

Seorang hamba yang senantiasa melakukan muhasabah, merasa banyak dosa, kemudian  memunculkan rasa takut yang luar biasa, sehingga  sangat membenci hawa nafsu yang buruk dan selalu mewaspadainya. Akhirnya mendorong untuk bertobat. Jadi taubat merupakan buah manis muhasabah.

Apa akibatnya jika kita meninggalkan muhasabah?
Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa,  orang yang tidak melakukan muhas abah diri akan menggampangkan suatu masalah, mudah tergelincir dan masuk kedalam kubangan dosa. Karena akan menurutkan hawa nafsunya, mendewakan materi dengan berlomba-lomba menumpuk harta melalui korupsi, mengesampingkan halal dan haram untuk sebuah jabatan, sikut kanan-sikut kiri hanya untuk sesuap nasi, dan berlaku zalim. Sehingga berani menistakan hukum Allah. Bahkan hukum Allah diposisikan di bawah konstitusi. Sungguh keterlaluan, itulah akibat tidak bermuhasabah diri, sampai lupa jati dirinya. Mereka termasuk golongan orang-orang yang merugi.

Karenanya, diwajibkan oleh Allah untuk
melakukan muhasabah atau evaluasi diri setiap hari, bahkan setiap saat ketika melakukan dosa atau pelanggaran terhadap hukum syara'. 

Mengapa? karena muhasabah menjadi salah satu sarana yang bisa mengantarkan manusia dalam mencapai tingkat ‘kesempurnaan’ sebagai hamba Allah Swt.

“Dari Syadad bin Aus r.a, dari Rasulullah saw, bersabda: “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk bekal kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah Swt." (HR. Imam Turmudzi)

Hanya orang-orang yang memahami ayat-ayat Allah, sehingga membuatnya takut atas peringatan Allah, dan mendorong untuk senantiasa bermuhasabah atau mengoreksi diri sendiri.

Dengan begitu akan  mengantarkan kepada pertaubatan yang diawali dengan memasuki gerbang penyesalan. Rasulullah bersabda; "Menyesal adalah taubat." (HR Ibnu Majah dan Ahmad)

Namun, perlu dipahami bahwa, tobat yang dimaksud adalah tidak mengulangi perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah. Muncul pertanyaan, bagaimana dengan seseorang yang sering bermuhasabah tapi masih tetap menolak syariat kafah dan khilafah?
Tentu ada yang salah dalam syaksiyahnya (kepribadiannya). Bukankah perintah untuk berislam kafah terkandung dalam QS. al-Baqarah [2]: 208) dan khilafah adalah sistem pemerintahan Islam warisan Rasulullah saw. dan dikabarkan akan tegak kembali (HR Ahmad). Berarti mereka termasuk orang yang bermaksiat menolak syariat Allah,  membangkang terhadap perintah Allah dan Rasulullah saw, dan akan menanggung dosa besar. Sebab, muhasabah merupakan sifat hamba Allah yang bertakwa.

Sudah sepantasnya kita lakukan  muhasabah di bulan Ramadan, karena buah manis muhasabah adalah taubat. Dengan bertaubat di bulan Ramadan dosa-dosa kita akan diampuni Allah dan dengan demikian kita bisa meraih derajat takwa.


Wallahu a'lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update