Oleh: Ainul Ma’rifah
Akibat siksaan, kaum muslimin yang semakin menjadi, maka di tahun ke lima kenabian, muslimin mendapat perintah untuk hijrah ke Negeri Habasyah. Hijrah pertama yang dilakukan umat muslim ini membuat para pemuka Quraisy semakin meradang. Lalu, para pemuka Quraisy mengatur siasat untuk memulangkan kaum muslimin ke Makkah. Maka ditunjuklah orang yang paling cerdas dan licik diantara mereka untuk berangkat ke negeri Habasyah dengan tujuan bernegosiasi dengan Raja Habasyah. Orang tersebut bernama Amr bin Ash.
Terlahir sebagai pemuda Quraisy, Amr bin Ash memiliki keutamaan seperti halnya masyarakat Quraisy lainnya. Diantara teman-temannya, seperti Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abu Jahal dan Shofwan bin Umayyah, Amr bin Ash dikenal paling cerdas dan cerdik. Kecerdasannya inilah yang akhirnya membuat ia terlibat dalam aksi Quraisy menentang dakwah islam di Makkah. Termasuk ketika dia ditunjuk sebagai negosiator kepada Raja Habasyah untuk memulangkan muslimin untuk kembali ke Makkah.
Namun sayang, negosiator ulung Quraisy tak mampu mengembalikan muslimin ke Makkah karena kebijaksanaan dan kebaikan Raja Habasyah sebagaimana yang Rasulullah SAW sampaikan. Kegagalan tersebut menjadi pukulan hebat bagi dirinya. Namun sayang, kegagalan tersebut tak kunjung membuatnya menerima islam hingga kaum muslimin dan Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Dia tetap berada di pihak Quraisy dan berperang dengan sengit melawan muslimin dalam beberapa peperangan termasuk Perang Badar dan Perang Uhud.
Kemenangan Perang Badar dan Perang Uhud inilah yang membuat negosiator ulung tersebut banyak berfikir. Dalam hatinya mulai tunbuh keyakinan bahwa Muhammad SAW adalah sang nabi yang membawa risalah kebenaran. Atas kegelisahannya, Amr bin Ash kembali menemui Sang Raja Habasyah untuk berkonsultasi. Amr bin Ash tidak menyadari bahwa Raja Habasyah diam-diam telah memeluk islam. Atas nasihat Raja Habasyah yang sangat dia kagumi, Amr bin Ash memutuskan untuk mengikrarkan keislamannya.
Setelah menyatakan keislamannya di hadapan Sang Raja, Amr bin Ash memutuskan pergi ke Madinah untuk menyatakan langsung keislamannya di hadapan Rasulullah SAW. Di tengah perjalanan ke Madinah dia bertemu dengan sahabat karibnya yaitu Khalid bin Walid, yang ternyata juga ingin menyatakan keislamannya.
Keduanya memasuki Makkah disambut gembira oleh seluruh kaum muslimin, tak terkecuali Rasulullah SAW. Bahkan, Rasulullah SAW menyebut mereka sebagai jantung hati Quraisy. Sejarah mencatat, Amr bin Ash dan Khalid bin Walid menyatakan langsung keislamannya di hadapan Rasulullah SAW pada tahun 7 Hijriyah.
Tak lama setelah keislamannya, Rasulullah SAW mempercayakan Amr bin Ash untuk memimpin pasukan Dzatu Salasil di tahun ke-8 Hijriyah. Ada hal yang menarik dalam pengutusan ini, yakni ketika Rasulullah memanggil Amr bin Ash untuk memimpin pasukan ini, Rasulullah SAW berkata”Wahai Amr bin Ash, saya mau mengutus kamu menjadi panglima, dan saya berharap engkau menang dalam pertempuran ini kemudian kau bisa mendapatkan ghanimah, dan aku bisa memberikan ghanimah ini kepadamu”. Sungguh menarik jawaban Amr bin Ash kepada Rasulullah SAW. Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, bukan untuk ini aku masuk islam, tapi aku masuk untuk jihad fisabilillah dan untuk hidup bersamamu”. Sungguh luar biasa jawaban Amr bin Ash, masuk Islam masih dalam hitungan sangat sebentar, namun sudah tumbuh di dalam hatinya, bahwa apa yang dia lakukan semuanya karena Allah SWT. Maka menjadi menjadi evaluasi tersendiri bagi kita, yang sudah lama berislam, tapi masih melakukan amalan yang tujuannya duniawi.
Kesungguhan Amr bin Ash menjadi muslim benar-benar dia tunjukkan. Dengan kecerdasannya dia begitu cepat mempelajari dan memahami islam. Sebagai orang yang relatif baru memeluk islam ia juga cepat mendapat kepercayaan Rasulullah SAW untuk menyebarkan islam ke negeri Oman. Kemudian sekembalinya ke Madinah di masa Khalifah Abu Bakar, dia kembali mendapat kepercayaan untuk memimpin perang melawan kaum murtad serta penakhlukkan besar wilayah Syam.
Ada hal menarik dalam percakapan Amr bin Ash dan Khalifah Abu Bakar ketika mengutusnya ke negeri Syam. Khalifah Abu Bakar berkata, “Aku ingin menawarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari posisimu sekarang (baca: artinya penakhlukkan negeri yang lebih baik yaitu Syam), tapi jika kau masih tetap ingin di posisimu di Oman maka silahkan, tapi jika kau memilih untuk tugasku yang baru ini, maka ini lebih baik untukmu”. Kalimat jawaban Amr bin Ash kepada Khalifah Abu Bakar sungguh luar biasa. Jawaban tersebut menunjukkan gabungan pada diri seseorang bahwa inilah pemimpin yang hebat tapi sekaligus inilah anak buah yang hebat, inilah panglima yang hebat dan sekaligus prajurit yang taat. Amr bin Ash berkata, “Sesungguhnya aku ini hanya merupakan anak panah dari anak panah-anak panah Allah SWT, dan engkau yang diberikan Allah kekuasaan untuk mengirimkan aku, maka kirimkan aku terserah kepadamu, bahkan di tempat sulit sekalipun”.
Syam telah takhluk di tangan kaum muslimin atas pasukan yang dipimpin Amr bin Ash. Maka setelah wilayah Syam berhasil ditakhlukkan, Khalifah Umar bin Khattab kembali mempercayakannya untuk menakhlukkan Mesir. Karena Khalifah Umar bin Khattab paham, untuk mengalahkan Raja Mesir yang licik dan dzolin diperlukan orang secerdas Amr bin Ash. Dan benar keputusan Sang Khalifah, di tangan Amr bin Ash, negeri piramid itu berhasil diselamatkan muslimin dari kedzoliman. Amr bin Ash kemudian diberi kepercayaan untuk memimpin Mesir. Inilah prestasi besar yang berhasil ditoreh mantan negosiator ulung Quraisy itu. Sebab penakhlukkan Mesir telah membuka jalan untuk penakhlukkan seluruh Afrika hingga Eropa.
Menetap dan memimpin Mesir tak membuat Arm bin Ash melupakan wilayah muslim lainnya. Kecerdasan yang dimiliki Amr bin Ash seringkali menjadi tempat bertanya dan mencari solusi Khalifah Umar yang sejak jaman jahiliyah sudah menjadi teman dekatnya. Seperti saat paceklik melanda jazirah Arab, dengan sigap Amr bin Ash mengirim bantuan pangan kepada umat muslim. Atau saat terjadi wabah penyakit tho’un amwas, Amr bin Ash berhasil mencegah wabah penyakit agar tidak meluas.
Tho’un amwas adalah wabah penyakit yang menyerang seluruh wilayah jazirah Arab kala itu dan membunuh puluhan ribu sahabat dan para tabi’in. Bisa disamakan dengan wabah corona yang sedang mewabah seluruh dunia hari ini. Begitu Amr bin Ash diminta Khalifah Umar untuk menganalisa tho’un amwas karena wabah tersebut terus merenggut jiwa. Amr bin Ash menyampaikan hasil analisisnya bahwa, penyakit tersebut sangat cepat menyebar jika terdapat perkumpulan manusia. Maka Amr bin Ash memberikan masukan bahwa masyarakat di wilayah wabah harus menyebar dan tidak boleh berkerumun, bahasa kita hari ini adalah social distancing dan physical distancing. Bahkan kalau perlu tidak boleh bertemu dua orang. Dan tidak boleh penduduk yang berada di wilayah wabah untuk keluar dan penduduk di luar wilayah wabah untuk masuk. Atau bahasa kita hari ini adalah karantina. Dan subhanallah, sejarah mencatat bahwa wabah itu berakhir hanya dalam waktu tiga hari.
Inilah cermin pemimpin yang luar biasa. Dimana salah satu kehebatan seorang pemimpin, ciri kelayakan seorang pemimpin adalah dia mempunyai kemampuan menganalisis masalah kemudian memberikan solusinya setelah itu. Itulah sosok Amr bin Ash, sang mantan negosiator ulung Quraisy, pemimpin luar biasa. Yang karenanya Khalifah Umar bin Khattab pernah menyatakan bahwa dimanapun Amr bin Ash berada, dia layak dan harus menjadi pemimpin.
Rahimahullah ta’ala Amr bin Ash, semoga kepemimpinanmua menjadi cermin bagi kami generasi muda islam yang akan mengembalikan kembali kejayaan islam dan kaum muslimin. Wallahua’lam bi ash showab

No comments:
Post a Comment