Oleh : Iis Ernawati, S.Pd
Tagar Indonesia terserah menjadi viral akhir-akhir ini. Khususnya yang dibawakan oleh tenaga medis. Ungkapan tagar tersebut sebagai reaksi terhadap sejumlah masyarakat yang masih menyepelekan virus corona. Bukan karena pejuang di garda terdepan ini menyerah, tetapi itu bentuk ungkapan protes terhadap sejumlah kebijakan kebijakn yang tidak tegas.
Apalagi dengan pernyataan presiden untuk berdamai dengan corona, rakyat bisa menafsirkan bahwa bisa beraktivitas seperti biasanya saat normal. Serta adanya pelonggaran PSBB dan justru kerumunan masa masih saja terjadi. Ini semakin membuat para tenaga medis semakin frustasi. Menyayangkan dengan kebijakan-kebijakan yang justru bukan memperlambat lajunya penyebaran virus ini.
Dengan melihat angka kasus yang terjangkit virus corona semakin meningkat, menunjukkan kepada khalayak umum bahwa Indonesia belum bisa berdamai dengan virus corona. Terlebih lagi belum ada vaksin yang ditemukan untuk menghentikan laju penyebaran virus ini.
Lontaran yang dilemparkan di tengah-tengah masyarakat oleh pemimpin semakin membuat polemik. Seperti masyarakat harus berdamai dengan corona atau pun kebijakan yang berbeda anatara ungkapan yang pertama dengan setelahnya sehingga justru membingungkan masyarakat. Seharusnya pemimpin melakukan sejumlah upaya-upaya untuk menangani pandemi ini dengan tepat dan benar. Sehingga pandemi ini bisa segera berakhir.
Bukan justru memberlakukan aturan yang hanya sekedar mementingkan masalah perekonomian semata. Tetapi seharusnya dibarengi dengan upaya untuk memhentikan penularan virus ini agar tidak berlanjut. Apalagi dengan kemungkinan menerapkan herd immunity sungguh sangat tidak tepat.
Karena herd immunity ini bisa diberlakukan jika mayoritas masyarakat sudah divaksin . Tapi pada faktanya vaksin pandemi corona ini belum ditemukan. Sehingga langkah itu justru akan membahayakan nyawa masyarakat.
Padahal untuk bisa membentuk herd immunity ini setidaknya rata-rata algoritma kekebalan kelompok harus mencapai 50-67 persen. Dengan jumlah penduduk 271 juta jiwa (proyeksi 2020), Indonesia perlu membuat 182 juta rakyatnya terinfeksi.
Melihat angka kematian yang mencapai 8,9% di Indonesia akibat virus Corona, maka Indonesia akan kehilangan 16jt jiwa dari 182 juta rakyatnya yang terinfeksi. Jika herd immunity tersebut diberlakukan.
Inilah sikap pemimpin yang ada di sistem demokrasi. Pemimpin yang hanya mementingkan perekenomian semata dan kelompoknya. Upaya yang dilakukan pun demi memetingkan perekonomian kapitalisme tetap langgeng.
Padahal di dalam Islam sudah sangat jelas, pemimpin merupakan pelayan rakyat. Yang senantiasa memenuhi kebutuhan rakyat dengan seoptimal mungkin. Aplagi ketika terjadi pandemi. Maka pemimpin harus memberlakukan kebijakan yang tegas dan tepat.
Seperti segera melakukan lokcdown di tempat terdampak, sehingga bisa optimal untuk menyembuhkan para korban. Sedangkan wilayah tidak terdampak masih bisa beraktivitas secara normal.
Memberikan kebutuhan dengan sebaik mungkin di wilayah agar perekonomiannya tercukupi. Sedangkan dalam kesehatan, pemimpin mengoptimalkan agar para ahli melakukan riset untuk menemukan obat dan vaksin untuk menghentikan laju pertumbuhan virus. Sehingga fasilitas dalam upaya menemukan obat dan vaksin disediakan dengan optimal tanpa mendzalimi para medis dan tenaga kesehatan.
Begitulah sosok pemimpin dalam Islam, karena apa yang dilakukannya itu akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah kelak. Sehingga dia akan benar-benar serius menangani negaranya yang dilanda pandemi virus.
Dari Ibnu Umar RA dari Nabi SAW sesunggguhnya bersabda: " setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya" .
Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya.

No comments:
Post a Comment