By : Nurhikmah,S.Pd.I
Praktisi Pendidikan)
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (al-araf : 96)
Istimewa, itulah kata yang pantas untuk menggambarkan hari raya tahun ini. Bagaimana tidak, akibat COVID-19 semua rutinitas dari ramadhan hingga momen lebaran berubah. Tidak ada lagi buka puasa bersama, tempat-tempat ngabuburit yang biasanya ramai dibulan ramadhan tahun ini sepi pengunjung, menjelang lebaran pun tidak lagi terdengar suara gegap gempita takbiran keliling, semuanya berubah menyadi senyap, silaturahim hari raya tidak lagi berjabat tangan namun dicukupkan dengan video call via aplikasi seluler.Tentu ini sangat berat, mengingat ummat Islam di indonesia sudah terbiasa dengan gegap gempita penyambutan hari raya, namun semua itu adalah bentuk pengorbanan masyarakat demi menjaga diri dari virus corona.
Sementara itu, dalam acara 'Takbir Virtual Nasional dan Pesan Idul Fitri dari Masjid Istiqlal' pada Sabtu, 23 Mei 2020 Presiden berpesan "Semoga Allah SWT meridai ikhtiar kita bersama, untuk mencegah penyebaran pandemi Covid-19 dan memberi kekuatan pada kita untuk menjadi pemenangnya”. Hal senada disampaikan wakil presiden “Idul Fitri kali ini kita rayakan dalam suasana pandemi. Oleh karena itu, marilah kita rayakan dengan tetap memegang aturan-aturan kesehatan, dan marilah kita perkuat iman dan ketakwaan kita," kata Wapres Ma'ruf Amin dalam keterangannya saat menyampaikan pesan video dalam acara Takbir Virtual Nasional dan Pesan Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah dari Masjid Istiqlal Jakarta, Sabtu, 23 Mei 2020 pada tempo.com.
Pada kesempatan tersebut Presiden dan Wakil presiden menyebut bahwa modal utama keluar dari wabah ini ada tawakkal, takwa dan mendapat ridla Allah. Namun hal tersebut tidak sejalan dengan fakta yang terjadi dilapangan, buktinya kebijakan-kebijakan yang diterapkan dalam penanganan covid-19 selama ini sungguh jauh dari bentuk ketakwaan kepada Allah karena bertentangan dengan hukum syara yang sudah ditetapkan oleh sang penguasa alam. Terlebih lagi, tidak ada taubat nasional untuk membuang hukum-hukum buatan manusia yang selama ini menjadi rujukan mengelolah bangsa. Lalu bagaimana mungkin negeri ini bisa mendapatkan keridhaan dari Allah ?
Oleh karena itu penting untuk dipahami bersama makna takwa yang sesungguhnya, sehingga sebagai manusia kita tidak mudah melabeli diri kita telah bertakwa namun sejatinya jauh dari hakikat takwa. Ibnu Qayyim berkata “hakikat takwa adalah menaati Allah atas dasar iman dan ihtisab, baik terhadap perkara yang diperintahkan ataupun perkara yang dilarang”. Sementara Ibn Abbas ra pernah berkata “orang yang bertakwa adalh orang yang takut kepada kesyirikan, dosa-dosa besar (kaba’ir) dan ragam kekejian (fawahisy).”
Secara bahasa, asal kata takwa adalah “penghalang” atau “pemisah” diantara dua perkar. Karena itu orang bertakwa seolah-olah telah menjadikan upayanya mengikuti perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-Nya sebagai “penghalang” atau “pemisah” antara dirinya dengan azab-Nya. Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa menurut Ibn Abbas, orang bertakwa adalah orang yang waspada terhadap azab Allah saat meninggalkan petunjuk-Nya yang mereka ketahui dan mereka selalu mengharapkan rahmat-Nya saat membenarkan apa saja yang datang dari Allah SWT.
Di dalam Kitab az-Zuhd, Imam Ahmad menuturkan riwayat dari Abu ad-Darda’. Dinyatakan, “Kesempurnaan takwa adalah saat seorang hamba takut kepada Allah SWT hingga dalam perkara terkecil sekalipun, yakni saat dia meninggalkan sebagian perkara yang dia pandang halal semata-mata karena takut terjatuh pada keharaman. Sikap demikian menjadi penghalang dirinya dengan perkara-perkara haram.”.
Dari defenisi diatas tentu kita dapat menakar derajat takwa yang kita miliki baik secara individu, masyarakat maupun dalam berbangsa dan bernegara. Dimana dalam ketakwaan itu Allah menjanjikan keberkahan pada penduduk suatu negeri dari seluruh penjuru arah. Sebagaimana firman Allah (Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (al-araf : 96). Maka semestinya jika pemimpin negeri ini serius untuk menggapai derajat takwa yang diridhai oleh Allah untuk negeri ini maka hendaklah memutuskan untuk menjalankan roda pemerintahan sesuai engan perintah Allah, yakni menerapkan hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Wallahu’alam bisshowab

No comments:
Post a Comment