Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Normal Baru Kebijakan yang Keliru

Saturday, May 30, 2020 | Saturday, May 30, 2020 WIB Last Updated 2020-05-30T10:32:53Z
Oleh: Berty Adam, SKM 
(Pemerhati Kesehatan masyarakat)

Hingga kini tidak ada seorang pun yang mampu menjawab dengan pasti kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Ditambah lagi, belum ditemukan vaksin untuk mengobati penyakit yang menyerang fungsi pernapasan ini. Kasus ini dari hari ke hari terus menunjukkan kenaikan.

Wabah covid-19 telah merubah pola hidup masyarakat. Perubahan yang terjadi merupakan hal yang tidak dapat dihindari, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga mengajak masyarakat untuk dapat hidup berdamai dengan Covid-19 dengan menerapkan pola hidup baru atau disebut new normal.

Direktur Regional WHO untuk Eropa, Hans Henri P Kluge memberikan panduan untuk Negara-negara yang akan menerapkan agenda New Normal. Panduan yang diberikan Mr Kluge jika hendak menjalankan kebijakan New Normal harus terlebih dahulu memastikan beberapa hal 
Pertama, transmissi Covid-19 sudah terkendali, angka yang terinfeksi semakin menurun, kedua kapasitas sistem kesehatan sudah mampu  mengidentifikasi dan melakukan Test, Trace dan Treat, ketiga mengurangi risiko wabah dengan pengaturan yang ketat pada tempat rentan dan komunitas rentan seperti lansia, kesehatan mental dan pemukiman padat, keempat pencegahan di tempat kerja dengan menerapkan protokol medis yg ketat, kelima risiko imported case sudah dapat dikendalikan oleh semua pemangku kepentingan, keenam masyarakat  mempunyai kesadaran kolektif untuk ikut berperan dan terlibat terutama melaksankan protokol medis.

Menuju new normal harus dimulai dari pemahaman yang normal. Namun melihat situasi seperti saat ini dengan masih tingginya tingkat penularan menandakan keadaan belum normal, masih memerlukan tahapan yang harus terukur,  sehingga kita tidak terjebak dengan diksi yang justru membuat umat bingung.  

New normal, bisa sebaliknya jadi tidak normal, karena fakta empirik masih belum normal, standar yang jadi prasyarat WHO belum terpenuhi, jika hal ini dipaksakan oleh pemerintah, inilah kebijakan yang sangat keliru, ada kurang lebih 250 juta jiwa yang akan di pertaruhkan jadi tumbal karena kebijakan yang keliru.

Kegagalan mengatasi pandemi Covid-19 akan memperparah resesi kronis. Artinya, “new normal” bukanlah sekadar kehidupan dengan sejumlah protokol kesehatan, melainkan kehidupan dunia dalam peradaban kapitalisme yang berkarakter merusak di tengah pandemi. Covid-19 yang dibiarkan mengganas akibat tekanan resesi ekonomi, terburuk sepanjang sejarah. Hasilnya, penderitaan masyarakat akan semakin berat.

Jika pemerintah gagal menerapkan program baru dalam kehidupan new normal maka Indonesia akan berpotensi mengalami kegagalan baik ekonomi maupun sosial, keyang akibatnya semakin membuat rakyat terpuruk dalam ketidakberdayaan. Pelan-pelan akan mati bukan karena korona tapi karena kebijakan yang keliru dalam menerapkan program kerja di tengah Pandemi.

Islam adalah Harapan Baru.

Saat ini Islam adalah satu-satunya harapan dunia. Pembebas dari pandemi Covid-19 yang carut-marut dengan berbagai kebijakan tanpa hasil. Dengan mengimplementasikan  ajaran Islam maka kesehatan dan nyawa manusia yang akan menjadi prioritas utama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia.

Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu.Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatra Barat (Sumbar), Buya Gusrizal Gazahar menilai kebijakan new normal yang diterapkan pemerintah telah lebih dahulu diterapkan dalam ajaran agama Islam, bahkan lebih sempurna jika dibandingkan dengan konsep new normal.

Jika pemerintah hanya mengatur beberapa sisi kehidupan seperti di kantor, pasar, transportasi  tidak secara menyeluruh. Namun dalam Islam jelas diajarkan secara menyeluruh. Seperti mencuci tangan, adab menutup mulut jika bersin dan batuk, makan-makanan yang halal lagi thoyib, selalu mensucikan diri dari hadast/kotoran

Janji Allah pasti benarnya dengan menjadikan Islam sebagai satu-satunya rujukan yang di gunakan untuk mengatasi seluruh permasalahan hidup akan membuat masyarakat sejahtera, karena hanya Islamlah yang dapat mewujudkan nilai materi, spiritual, kemanusiaan, dan moral secara serasi.

Wallahu a"lam bishowaf

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update