Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Di Balik Diksi Perang-Damai Corona

Monday, May 18, 2020 | Monday, May 18, 2020 WIB Last Updated 2020-05-18T07:33:37Z


Oleh: Dian Puspita Sari 
Ibu Rumah Tangga, Aktivis Muslimah


Beberapa waktu yang lalu, Presiden Jokowi mengeluarkan statement mengejutkan di tengah situasi penanganan penyebaran virus Corona (COVID-19) di Indonesia yang baru genap dua bulan. 

Melalui akun resmi media sosialnya (Twitter) pada hari Kamis (7/5), Jokowi meminta masyarakat untuk bisa berdamai dengan Covid-19 hingga vaksin virus tersebut ditemukan (cnnindonesia.com, 9/5/2020). 

Pernyataan Jokowi itu pun lantas menjadi sorotan publik di media sosial. Sebab, hal itu bertentangan dengan apa yang disampaikannya dalam pertemuan virtual KTT G20 pada bulan Maret lalu. Saat itu, ia mendorong agar pemimpin negara-negara G20 menguatkan kerjasama dalam melawan Covid-19. Terutama aktif dalam upaya menemukan anti virus sekaligus obat Covid-19. 

Diksi perang-damai Corona  presiden ini jelas sangat membingungkan masyarakat. Selain itu, pernyataan tersebut  bisa dimaknai multi-tafsir oleh masyarakat yang dapat membahayakan (merusak) upaya  penanganan Corona di negeri ini. Di saat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan oleh pemerintah provinsi seperti saat ini. 

Di satu sisi, masyarakat diimbau untuk melakukan semua aktivitas di rumah: work from home (WFH), study from home (SFH), beribadah di rumah, dan menjaga jarak dengan "social, physical distancing".  

Walhasil, semua upaya tersebut menjadi "ambyar", sia-sia akibat diksi perang-damai Corona presiden. 

Alih-alih membingungkan, pengamat komunikasi politik, Kunto Adi Wibowo, menyarankan  agar Jokowi dan jajarannya menggunakan pola komunikasi lebih lugas agar tidak merepotkan masyarakat dalam situasi krisis pandemi COVID-19 saat ini. Misalnya, dengan langsung berpesan agar masyarakat hidup normal dengan catatan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada, yaitu : jaga jarak, cuci tangan dengan bersih dari air mengalir, selalu memakai masker, dan protokol kesehatan lainnya. Atau, penegasan langsung ke perilaku yang harus dilakukan publik agar terhindar dari virus Corona. Sebagaimana yang disosialisasikan oleh paramedis. Menurutnya, pesan 'damai' dari Pak Jokowi itu dapat memicu potensi berbahaya terkait Covid-19 apalagi jelang Idul Fitri 1441 H.(www.cnnindonesia.com 09/05/2020)

Diksi perang-damai Corona pemimpin negeri ini menunjukkan inkonsistensi kebijakannya. Selain itu, seruannya untuk berdamai dengan Corona hingga vaksin COVID-19 ditemukan, terkesan sebagai upaya lepas tangan pemerintah dari tanggung jawabnya untuk menangani pandemi wabah COVID-19 di tengah masyarakat hingga tuntas. 

Dalam pandangan Islam, tugas pemimpin negara adalah sebagai _ra'in_, yang berarti : pelayan, pemimpin, penuntun dan pelindung bagi rakyatnya. 

Inilah amal ibadahnya seorang pemimpin  negara kepada Allah dalam Islam. 

Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan khulafaur rasyidin dalam memimpin, melayani, menuntun dan melindungi rakyatnya dalam semua perkara hidupnya di dunia.

Terkait menangani wabah menular, di masa kepemimpinan Rasulullah Saw, pernah terjadi wabah menular semacam penyakit kusta. Dalam menangani wabah ini, sikap Rasulullah Saw, layak dijadikan teladan bagi para pemimpin dunia adalah : 

1. Karantina wilayah (lockdown)

Rasulullah bersabda, "Tha'un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu wa ta'ala untuk menguji hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka, apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu memasuki negeri itu. Apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari darinya." (HR Bukhari Muslim)

2. Isolasi diri (social-physical distancing)

Rasulullah bersabda, "Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat." (HR Bukhari Muslim)

Aktivitas inilah yang dikenal dengan "social-physical distancing" dalam semua aktivitas muamalah, interaksi sosial dengan masyarakat. Yang  bertujuan untuk memutus rantai penyebaran COVID-19. 

Caranya adalah dengan jauhi kerumunan, jaga jarak, dan tinggal di rumah. 

3. Menghindar

Diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim, Rasulullah pernah bersabda, "Larilah dari orang yang sakit lepra. Sebagaimana kamu lari dari singa." 

4. Melayani semua kebutuhan rakyat selama penerapan karantina wilayah dan isolasi diri di daerah yang terpapar virus menular. 

5. Menerapkan pola hidup higienis. 

Gaya hidup sehat dan bersih termasuk upaya preventif, mencegah lebih baik daripada mengobati. Pola hidup sehat akan menjaga imunitas tubuh manusia kuat dan aman dari infeksi virus. Tak heran jika dalam sebuah hadis nabi dikatakan, "Kebersihan/ kesucian sebagian dari iman". Cara menjaga kebersihan, salah satunya, dengan rajin mencuci tangan. 
Rasul juga pernah bersabda, "Barang siapa tidur dan ditangannya terdapat lemak (kotoran bekas makanan) dan dia belum mencucinya, lalu dia tertimpa sesuatu, janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri." (HR Abu Dawud)

6. Berobat 

Jika upaya preventif sudah dilakukan, namun ternyata seseorang tetap terjangkiti virus juga, maka solusi nya adalah berobat. Terbukti, pasien COVID-19 saat ini juga bisa sembuh. Meskipun, belum bisa dikatakan kesembuhan mereka memutus rantai penyebaran Corona.  

Seorang sahabat Rasul pernah berkata, " Aku pernah berada di samping rasulullah Saw. Lalu datang serombongan Arab dusun. Mereka bertanya, 'Wahai Rasulullah, bolehkah kami berobat?' Beliau menjawab, 'Iya, wahai para hamba Allah, berobatlah. Sebab Allah tidak meletakkan suatu penyakit melainkan meletakkan pula obatnya. Kecuali satu penyakit.' Mereka bertanya, 'Penyakit apa itu?' Beliau menjawab, 'Penyakit tua'." (HR Ahmad, Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan at-Tirmidzi)

7. Bersabar 

Rasulullah bersabda, " Tha'un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Kemudian dia jadikan Rahmat kepada kaum mukminin. Tidaklah seorang hamba yang di situ terdapat wabah penyakit, tetap berada di daerah itu dalam keadaan bersabar,  meyakini bahwa tidak ada musibah kecuali atas takdir yang Allah tetapkan, kecuali ia mendapatkan pahala seperti orang mati syahid." (HR Bukhari)

8. Optimis 

Dalam situasi wabah menular, muslim harus optimis bisa sembuh dari sakit dan berprasangka baik kepada Allah. Bahwa penyakit dan kesembuhan itu datang dari Allah. 
Rasulullah bersabda, "Tidaklah Allah  menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia juga yang menawarkan penawarnya." (HR Bukhari)

9. Berdoa

Doa adalah senjata seorang mukmin dalam kondisi apapun. Dalam kondisi sehat terlebih lagi sakit. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa-doa hamba-Nya.  

Itulah, sikap yang ditunjukkan Rasulullah Saw terkait penanganan wabah. 

Kesembilan sikap Rasul  itu juga yang diterapkan khalifah kedua dari khulafa'ur rasyidin, Umar bin Khaththab, saat negeri Syam (Palestina) dilanda wabah Tha'un. Pusat wabah itu berada di kampung kecil bernama Amawas. Hingga wabah saat itu disebut Tha'un Amawas. Kampung itu terletak antara daerah Ramallah dengan Baitul Maqdis. Dalam wabah tersebut, puluhan ribu jiwa, tak terkecuali banyak sahabat Rasulullah, meninggal dunia. Khalifah Umar bin Khaththab mengerahkan segenap upayanya sebagai amirul mukminin untuk mengurusi semua kebutuhan rakyat di area yang terjangkiti oleh virus Tha'un Amawas. Hingga Allah mengangkat wabah tersebut dari negeri Syam. 

Sikap ini pula yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah kita saat ini. Namun, kebijakan yang adil dan amanah hanya dapat terwujud di dalam kepemimpinan sistem Islam, yakni khilafah. 

Semoga pertolongan Allah Swt dan kemenangan Islam, melalui tegaknya khilafah, segera terwujud. Dan, wabah Corona segera diangkat Allah dari bumi ini. Aamiin. 

Wallahu a'lam bishshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update