Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Corona Bukan Seperti Istrimu, Itu Ibarat Singa Kelaparan

Thursday, May 28, 2020 | Thursday, May 28, 2020 WIB Last Updated 2020-05-28T13:32:28Z

Goresan Pena Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Corona itu penyakit menular dan bisa sampai mematikan. Memandang Corona sebagai sahabat atau pendamping hidup adalah kekeliruan yang sangat besar.

Ingin hidup serumah dengan Corona itu sama seperti ingin hidup dengan demam berdarah, kanker, dan serangan jantung yang sewaktu-waktu bisa mencabut nyawa pengidapnya.

Corona itu ibarat singa yang kelaparan kemudian disuruh hidup dengan manusia. Jika sekandang, akankah hilang rasa lapar sang singa?

Tentu singa bisa membedakan mana manusia dan mana benda mati. Korban pun bisa tercabik-cabik.

Corona itu ibarat api yang siap melahap rerumputan kering. Sekelompok rumput yang padat tentu akan menyulut api yang besar.

Hanya rumput yang saling berjauhan yang selamat. Dan menjadi penyelamat antar rumput. Inilah filosofi social distancing.

Jika ada pelonggaran  itu seperti memadatkan rerumputan kering. Tentu resiko kebakaran besar akan terjadi.

Harusnya Corona itu dianggap sebagai tantangan. Bukankah Allah SWT telah menganugerahkan manusia dengan akal untuk memecahkan masalah?

Lewat Wahyu-Nya, Rasulullah SAW pernah meminta umatnya agar menjauhi penyakit kusta atau wabah. Sehingga menjadi pedoman bagi generasi selanjutnya.

Khalifah Umar bin Khattab ra berhasil menemukan hukum "Lock Down" dan Gubernur Amr bin Ash ra menemukan hukum "Social distancing" pada kasus menyebarnya wabah Tho'un di Kota Amwas, Provinsi Syam berbekal hadis Rasulullah SAW.

Hukum ini kemudian di"copas" oleh negara-negara kapitalis dan komunis seperti China, Taiwan dan Vietnam. Berasal dari semangat kaum Muslimin dulu dalam memerangi wabah walaupun tidak ada pengakuan secara langsung dari negara -negara tersebut.

Namun, dari generasi Islam terdahulu lah kita belajar bukan saja ilmu medis tetapi juga ilmu politik dan ilmu psikologi.

Ilmu politik Rasulullah SAW dan para sahabat rah mengajarkan kepada kita bahwa untuk mengatasi wabah tidak harus dengan mengorbankan rakyat. Lock down kala itu menyelamatkan warga dalam dan luar kota dengan cara memutus rantai penyebaran virus.

Lalu dari mereka kita belajar ilmu psikologi, dimana para pemimpin bukan golongan yang cengeng dan pasrah.

Mereka adalah pemberani yang mengutamakan nyawa rakyat. Mereka tak pernah tunduk akan kekuatan asing dan tidak peduli dengan kepentingan bisnis.

Itulah kemuliaan ajaran Islam. Ketika diterapkan kepada masyarakat, mereka menjadi umat yang paling taat kepada ajaran Islam. Dan ketika diamalkan oleh para pemimpin, mereka menjadi pemimpin yang paling peduli atas urusan umatnya.

Kondisi seperti ini yang sekarang hilang dari masyarakat negeri-negeri Kaum Muslimin. Karena sekularisme, pemimpin menjadi lemah dan egois dan masyarakat pun kurang diedukasi.

Saatnya masyarakat dan penguasanya sadar dan mengembalikan sistem kepemimpinan sesuai dengan sistem Islam yang pernah diamalkan oleh Rasulullah SAW dan para Sahabatnya. []

Bumi Allah SWT, 28 Mei 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update