Oleh : Linda Pusparini
(Ibu Rumah Tangga)
Pemerintah lagi-lagi mengeluarkan kebijakan yang sangat melukai hati rakyat, di tengah adanya Pandemi Covid-19 BPJS resmi dinaikkan. Protes dan kecaman pun berdatangan dari berbagai kalangan. Seperi dilansir dari TribunMataram.com, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono/AHY turut menyayangkan langkah presiden Joko Widodo yang bersikukuh tetap menaikkan iuran BPJS Kesehatan mengingat saat ini rmasyarakat tengah kesulitan di tengah wabah.
Ketidak setujuan juga diungkapkan oleh Syekh Fadhil, sapaan akrab senator muda asal Aceh itu, kepada Serambinews.com, Minggu (17/5/2020).
“Kebijakan ini melukai hati masyarakat. Di tengah wabah Corona seperti sekarang, banyak masyarakat mengalami kesusahan di bidang ekonomi serta PHK terjadi di mana-mana," kata Fadhil Rahmi.
Menurutnya lagi, banyak UMKM serta perusahaan terancam bangkrut, pemerintah justru mengeluarkan kebijakan kenaikan BPJS.
Keputusan pemerintah kembali menaikkan iuran BPJS di masa wabah tidak hanya melanggar keputusan MA, tapi juga menegaskan ketidakpedulian terhadap kondisi masyarakat. Di masa-masa sulit seperti ini dimana gerak masyarakat untuk bekerja menjadi terbatas bahkan sebagian harus dirumahkan sehingga ekonomi memburuk rakyat sangat membutuhkan layanan kesehatan gratis dan berkualitas. Bukan malah menanggung biaya BPJS yang nominalnya tidak kecil.
Memang hal yang lumrah bahwa di bawah sistem kapitalis liberal ini dunia kesehatan berada dalam ranah komersil. Ada uang maka ada obat. Pengelolaannya pun diserahkan kepada swasta. BPJS hanyalah sebagai sarana untuk meraup keuntungan atau bisnis di tengah kesakitan yang dialami setiap warga. Dan ini tentunya memperkuat indikasi bahwa negara tidak turut campur tangan mengurusi kesehatan rakyatnya. Tentunya ini merupakan suatu kedzoliman mengingat bila kita melihat melimpahnya sumber daya alam maka kesehatan bukanlah hal yang perlu dupusingkan masyarakat.
Islam merupakan agama yang sempurna dan paripurna. Islam senantiasa memiliki solusi atas setiap permasalahan termasuk dalam hal kesehatan yang sudah terbukti selama 13 abad. Islam menjadikan kesehatan sebagai kebutuhan rakyat dimana negaralah yang wajib hadir untuk mengurusinya. Negara pulalah yang akan mengelola kas nya dan memberikan fasilitas terbaiknya dalam menjamin kesehatan publik. Disamping itu negara juga menyediakan dokter dan rumah sakit yang memadai. Dan tentunya juga menyediakan obat-obatan yang berkualitas secara gratis. Alhasil tidak ada istilah "orang miskin dilarang sakit". Hal ini dipaparkan salah satu sejarawan berkebangsaan Amerika W. Durant, Rumah Sakit Al Manshuri (683H/1284M) Kairo sebagai berikut :
"...Pengobatan diberikan secara gratis bagi pria dan wanita, kaya dan miskin, budak dan merdeka; dan sejumlah uanh diberikan pada tiap pasien yang sudah bisa pulang agar tidak perlu segera bekerja...." (W. Durant : The Age of Fight; of cit; pp 330-1)
Sejarah telah membuktikan bahwa hanya islam lah yang mampu mensejahterakan masyarakat dengan konsep yang telah dicontohkan oleh Rosulullah saw hingga para khalifah sesudah beliau. Maka pantaskah kita berharap kepada sistem lain selain sistem islam? Padahal Allah telah menyempurnakannya.
"Dan telah sempurna kalimat Rabb-mu (Al Quran), (sebagai kalimat) yang benar dan adil..."(QS. Al An'aam :115).
Waallahua'lam

No comments:
Post a Comment