By : Dian
(Pemerhati Masyarakat)
Ramadhan sudah di penghujung bulan, namun penanganan covid-19 di Indonesia belum juga hilang. Perjuangan dalam melawan virus ini bagaikan perang yang begitu sulit, sebab memerlukan berbagai kesiapan dan perlengkapan yang begitu memadai untuk memenangkan pertempuran ini. Sehingga sangat dibutuhkan peran pemerintah yang memiliki kekuasaan tertinggi dalam menangani wabah virus ini.
Namun hal itu sangat mengejutkan, karena pemerintah justru mengajak masyarakat agar berdamai dengan virus tersebut.
Dilansir, Jakarta, CNNIndonesia — Presiden Joko Widodo mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan di tengah situasi kondisi penanganan dan penyebaran virus corona (covid-19) belum lama ini, yang baru genap dua bulan di Indonesia. Bahkan melalui akun resmi media sosialnya pada hari Kamis, tanggal (7/5/2020) Joko Widodo meminta masyarakat agar bisa berdamai dengan covid-19 hingga vaksin virus ditemukan. Sehingga pernyataan tersebut mendapat sorotan di sosial media, karena sangat bertentangan dengan apa yang disampaikan dalam pertemuan virtual KTT G20 pada Maret lalu.
Adapun pengamat komunikasi politik, Kunto Adi Wibowo menilai, pesan teranyar dari Jokowi itu adalah pesan tersirat kepada masyarakat Indonesia agar dapat lebih disiplin lagi dalam menjaga diri. Dengan istilah berdamai itu seakan-akan melegitimasi perilaku masyarakat yang tidak patuh pada PSBB, kata Kunto saat dihubungi, CNNIndonesia.com, pada hari Jumat, tanggal (8/5/2020).
Kunto juga melihat pemerintahan Jokowi memang kerap memilih diksi dan permainan kata yang cenderung membingungkan masyarakat. Sehingga diksi itu disiratkan dalam kebijakan pemerintah yang terkesan tak seirama. Ia memandang pesan damai tersebut akan memicu potensi berbahaya terkait covid-19 apalagi menjelang Idul Fitri 1441 H. (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200508160745-32-501400/bingung-masyarakat-di-balik-diksi-peran-damai-corona-jokowi)
Mengenai pernyataan Jokowi, membuat Asosiasi Rumah Sakit Swata juga khawatir akan pernyataan tersebut. Sebagaimana dilansir, Kedaipena.com — Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Cabang Bekasi mengaku khawatir dengan pernyataan Presiden Jokowi yang meminta masyarakat untuk hidup berdamai dengan covid-19 sampai vaksin ditemukan.
Ketua ARSSI cabang kota Bekasi, Dokter Eko S. Nugroho mengatakan, kami was-was terhadap pernyataan tersebut, karena takutnya itu diartikan ya sudah kita terima saja ucapnya, kepada wartawan pada hari senin, tanggal (11/5/2020). Eko juga menegaskan bahwa saat ini Indonesia tidak bisa berdamai dengan virus corona lantaran tenaga medis yang menjadi korban, bahkan yang terinfeksi dengan virus tersebut juga semakin banyak.
Ia menjelaskan bisa jadi kita kelelahan, maka daya tahan tubuh kita akan melemah atau menurun, faktor tersebut bisa saja terjadi. Sehingga jika tenaga medis ada di bagian hilir dalam pelayanan kesehatan dan menghadapi pasien yang terkonfirmasi positif yang dirawat di rumah sakit, maka sangat beresiko untuk terpapar lebih tinggi. (https://www.kedaipenaa.com/jokowi-minta-masyarakat-damai-dengan-corona-asosiasi-rumah-sakit-swasta-khawatir/)
Sungguh miris pernyataan yang dikeluarkan pemerintah dalam kebijakannya mengajak masyarakat berdamai dengan virus corona, padahal di tengah kondisi saat ini, korban semakin bertambah dan virus corona semakin meluas di berbagai daerah.
Pemerintah justru mengeluarkan pernyataan yang sangat membingungkan di tengah masyarakat, sebagai kepala negara tertinggi yang melontarkan diksi yang membingungkan dan menegaskan inkosistem dalam kebijakannya. Sehingga dengan pernyataan yang mencla-mencle ini memperlihatkan bahwa kebijakan apapun yang dikeluarkan dari sistem buatan manusia tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan apapun yang terjadi.
Mengenai seruan agar hidup damai dengan corona sebelum ditemukan vaksinnya. Dalam hal ini membuktikan bahwa pemerintah telah gagal fokus dalam penanganan masalah wabah yang semakin meluas, bahkan justru memberi kelonggaran virus tersebut semakin menyebar. Semakin menjelaskan bahwa kebijakan tersebut seakan berlepas tangan untuk penanganan wabah ini, nampak bahwa negara dalam sistem kapitalisme salah mengurus negara.
Dalam kebijakannya di satu sisi pemerintah memberikan kelonggaran dalam beraktivitas, membiarkan pabrik kembali beroprasi, aksesabilitas antar kota juga dilakukan delaksasi, sementara tenaga medis harus berjuang mati-matian digarda terdepan dalam menangani wabah tersebut, bahkan dengan fasilitas yang sangat miris tanpa bekal yang cukup memadai dari negara.
Jika di cermati, selama ini pelaksanaan PSBB dan tempat penyediaan kebutuhan dasar pokok seperti di pasar yang tetap dibuka, bahkan rumah makan juga tetap eksis dengan sejumlah pelayanan deliverynya. Namun ada juga masyarakat lainnya mengalami stress dikarenakan harus memeras otak mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, karena urusan dasar kebutuhan pokok tidak dijamin oleh pemerintah. Bahkan rakyat hanya dibiarkan untuk bertahan sendiri dengan dalih berdamai dengan virus corona.
Alih-alih menekan angka penularan virus corona, dalam relaksasi PSBB yang justru ditenggarai bukan karena kesulitan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Akan tetapi memberikan peluang dan kelonggaran kepada sejumlah pebisnis yang hampir bangkrut. Begitulah cara berfikir pemimpin dalam sistem kapitalisme. Keberadaannya hanya memikirkan aspek-aspek materi dan kepentingan segelintir orang. Sistem kapitalisme ini tentu sangat berbeda dengan sistem Islam.
Kepemimpinan dalam Islam yang berdasarkan syariat-Nya mewajibkan seorang pemimpin memiliki sejumlah kemampuan untuk menyelesaikan sejumlah permasalahan negara.
Seorang pemimpin dalam sistem Islam akan menerapkan karantina wilayah dan menjamin kebutuhan dasar pokok warga negara, sehingga tidak akan ditemui tingkat stress atau berbagai masalah yang akan terjadi.
Dalam sistem Islam pemimpin adalah perisai yang menerapkan aturan Islam dan melindungi hak-hak umat, sehingga tidak akan membiarkan banyaknya nyawa melayang, hanya demi kepentingan materi dan kepentingan segelintir orang.
Kita bisa belajar dari Khalifah yang sudah tercatat dalam sejarah tentang kesuksesannya, yakni Khalifah Umar bin Khattab, Khalifah Umar mampu menyelesaikan serangan wabah yang menimpah rakyatnya dikala itu. Bahkan bukan hanya satu jenis bencana yang dialaminya pada saat itu. Pemerintahan Khalifah Umar juga pernah diuji oleh Allah SWT dengan musibah, yakni salah satunya bencana kekeringan yang terjadi di Madinah.
Imam Ibnu Katsir menceritakan bahwa bencana yang terjadi pada tahun 18 H, dikala itu membuat tanah di kota Madinah menghitam dikarenakan sedikitnya hujan. Hingga para ulama pun menyebutnya sebagai am ramadha atau tahun kekeringan. Meski sekalipun ditimpa bencana besar, namun Khalifah Umar tidak kehilangan kendali, beliau tetap menujukkan karakternya sebagai seorang pemimpin yang bertanggung jawab dengan bersegera menyelesaikan masalah yang dihadapi rakyatnya.
Bencana tersebut dihadapi dengan solusi Islam, karena hanya Islamlah yang mampu menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru lagi. Sungguh sangat indah dan tegasnya seorang pemimpin dalam Islam dalam mengutamakan kepentingan rakyat.
Dengan demikian sudah saatnya umat tersadar bahwa hanya sistem Islamlah satu-satunya yang mampu menyelesaikan problematika umat, mampu memberikan perlindungan dan memberikan kesejahteraan penuh terhadap rakyatnya.
Wallahu Alam Bish-Shawab.
No comments:
Post a Comment