Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Watak Demokrasi Sekuler : Abaikan Kesehatan Rakyat

Wednesday, April 15, 2020 | Wednesday, April 15, 2020 WIB
Oleh : Bang Sayyid 
(Aktivis Pemuda Islam)

Sejak awal munculnya isu wabah Covid-19 pada akhir Desember 2019 di wilayah Wuhan, China. Yang kemudian mulai menyebar ke berbagai negara. Pemerintah Indonesia seperti mengaggap 'remeh' dan acuh, bahkan ada dari beberap pejabat kementrian yang megeluarkan statemen 'konyol'. Seperti ; Kepala BKPM Bahlil berkelakar didepan Hary Tanoe, "Virus Covid-19 tak masuk Indonesia karena izinnya susah". Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan malah berceloteh : "Corona [Masuk Batam]? Corona kan sudah pergi.... Corona mobil?", Bahkan Menhub RI Budi Karya Sumadi juga sempat bercanda : "kita kebal Corona karena doyan Nasi Kucing". Dan masih banyak lagi celotehan tidak bermutu dan tidak mencerminkan seorang birokrat.

Tak ayal, setelah memasuki bulan Pebruari. Isu wabah Covid-19 masuk ke Indonesia mulai santer. Alih-alih Pemerintah mengambil sikap antisipasi agar virus tidak masuk dan menyebar ke dalam negeri, justru Presiden 'memanjakan' Influencer dengan ikhlas menggelontorkan dana sebesar 72 Milar untuk meredam isu penyebaran virus korona melalui media sosial.

Hal ini sebagaimana dikutip oleh CNN Indonesia (25/02/2020), Pemerintah bakal mengucurkan dana Rp72 miliar  dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 untuk influencer. Dana itu merupakan bagian dari insentif yang diberikan pemerintah untuk sektor pariwisata demi menangkal dampak 'infeksi' virus Corona terhadap ekonomi domestik. 

Isu bahwa indonesia 'bersih' dari virus Corona terus digulingkan, hingga mengundang banyak kritikan dari berbagai pihak. Diantaranya, Mengutip para ahli, Daily Mail menulis, “Sangat tidak mungkin bahwa tidak ada kasus Corona virus di Indonesia, seperti yang diklaim pemerintah.”

Profesor Marc Lipsitch, pakar penyakit di Universitas Harvard, Boston, mengatakan, “Bisa jadi tidak ada (kasus di Indonesia). tetapi itu sangat tidak mungkin, (dan) bisa jadi ada lebih banyak.”

Sebelumnya Gubernur Jakarta Anies Baswedan menyebutkan bahwa 115 orang dalam pemantauan dan 32 pasien dalam pengawasan terkait Corona. Namun, pernyataan ini kemudian dibantah oleh Menkes, Terawan Agus Putranto.

Terawan juga membantah pernyataan Perdana Menteri Australia, Scott Morisson, yang meragukan Indonesia bersih dari Corona. 

Belum sampai 24 jam dari bantahan Terawan tersebut, Presiden Indonesia mengonfirmasi adanya dua warga Indonesia yang positif terkena Covid-19 ini. Dua warga tersebut adalah seorang ibu dan anak. Kedua suspek tersebut sebelumnya bertemu dengan warga negara Jepang yang terdeteksi virus Corona setelah meninggalkan Indonesia.

Dengan cepat, virus itu menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Kita dapat melihat dengan jelas, bagaimana pemerintah begitu 'gugup' menghadapi wabah ini. Entah apa yang mereka hawatirkan, apakah nasib kesehatan dan keselamatan rakyat atau investasi dan pariwisata yang akan terhambat?

Korban dari hari ke hari terus bertambah, bahkan para dokter dan tenaga medis pun tak luput dari 'terkaman' sang virus. Hingga hari ini, tercatat ada 4.839 kasus positif Corona di Indonesia. Jumlah tersebut bertambah 282 dari angka sebelumnya. Jumlah pasien positif ini tersebar di 34 Provinsi di Indonesia. Total ada 459 pasien Corona yang meninggal dunia, bertambah 60 orang dari angka sebelumnya.

Pemerintah pun terlihat kurang serius dan cenderung lamban dalam menganangi wabah virus Corona ini. Mereka hanya memberikan himbauan agar masyarakat diam di rumah saja dan jaga jarak, padahal pemerintah bisa melakukan lebih dari itu. 

Ironisnya ketika masyaralat dihimbau untuk diam di rumah, namun kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi. Para karyawan pabrik di PHK, pedagang gulung tikar. Kepanikan masyarakat pun semakin meluas dan ini menunjukkan  gagalnya pemerintah dalam menjaga kesehatan dan melayani rakyatnya.

Inilah wajah asli Demokrasi sekuler yang jelas lebih mementingkan 'nasib' investor kapitalis asing dan aseng dari pada kesehatan dan kesejahteraan rakyatnya. Rakyat hanya dijadikan komoditas pada saat pemilu atau pilkada saja. Ketika mereka sudah menjabat, rakyat hanya gigit jari dan dilupakan. Bahkan disaat kondisi genting karena wabah Corona seperti saat ini, rakyat diminta 'berjuang' sendiri untuk menghadapinya.

Telah nyata kebobrokan sistem Demokrasi sekuler. Sistem yang memang sudah cacat sejak lahir. Dan sudah sepatutnya kita 'membuangnya', lalu kita ganti dengan sistem yang jauh lebih sempurna dari Dzat Yang Maha Sempurna, yakni Syariah Islam yang kaffah dalam naungan Khilafah.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update