Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menyambut Ramadan di Tengah Pandemi Covid-19

Monday, April 20, 2020 | Monday, April 20, 2020 WIB Last Updated 2020-04-19T19:35:19Z


Oleh : Ninik Suhardani
Aktivis Lereng Sindoro dan Member AMK

Tidak terasa kita telah berada di penghujung bulan Sya'ban. Itu artinya tinggal menghitung dengan jari tangan, kita memasuki bulan Ramadan. Ramadan adalah bulan yang senantiasa ditunggu-tunggu kehadirannya oleh setiap kaum muslimin. Kenapa? Sebab, bulan Ramadan merupakan bulan penuh rahmat dan ampunan.

Ramadan juga merupakan bulan turunnya Al-Qur'an, pedoman hidup setiap muslim. Selain itu Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan. Pasalnya, pada bulan itu terdapat satu malam yang nilai pahalanya sama dengan seribu bulan. Dia adalah malam lailatul qodar. 

Dengan berbagai macam bentuk keistimewaan yang ada pada bulan Ramadan. Juga merupakan rahmat masih bisa bertemu dengan Ramadan lagi. Karenanya, kaum muslimin harus penuh sukacita dan bergembira dalam menyambut kedatangannya. Sukacita juga kegembiraan dalam menyambut kedatangan Ramadan merupakan salah satu bentuk keimanan seorang hamba terhadap Rabbnya. 

Di mana Allah Swt. telah berfirman dalam QS. Yunus ayat 58 :

ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ

“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Para ulama dan orang saleh terdahulu, mereka sangat merindukan dan berbahagia jika Ramadan akan datang. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,

ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ

“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal saleh di Ramadan yang lalu) mereka.“

Namun, rasa gembira dalam menyambut Ramadan 1441 H (2020 M) kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, tahun ini terjadi pandemi Covid-19. Covid-19 adalah virus yang asalnya dari Wuhan, China, yang dalam waktu tidak lama berubah menjadi pandemi. Virus ini menyebar ke lebih dari 300 negara di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Menurut perkiraan para ahli pandemi virus ini akan mencapai puncaknya awal sampai minggu ke-2 Mei. Hal ini bertepatan dengan pertengahan puasa. 

Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluk kecil bernama corona. Bagi orang-orang kafir dan munafik yang senantiasa mengingkari kebenaran agama Allah beserta syariat-Nya, mereka menganggap keberadaannya sebagai musibah terburuk sepanjang tahun ini. 

Berbeda dengan orang-orang yang beriman, yang senantiasa meyakini kebenaran akan agama dan aturan Allah. Keberadaan Corona ini, mereka anggap sebagai ujian dar Yang Maha Kuasa. Ikhtiar untuk menangani wabah ini harus sesuai dengan apa yang telah diajarkan Rasulullah, pun harus senantiasa dikerjakan. 

Meskipun pandemi Covid-19 ini masih melanda seluruh belahan dunia. Tidaklah mengurangi kegembiraan kita dalam menyambut bulan suci Ramadan tahun ini atau 1441H. 

Tentu, harapannya pandemi ini segera berlalu. Namun ada atau tidak adanya pandemi ini, Ramadan harus dimaknai sebagai bulan penggemblengan seorang hamba menuju insan bertakwa. Sebagaimana Allah telah berfirman dalam QS. al-Baqarah ayat 183 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.” 

Secara istilah, definisi takwa yang terindah adalah yang diungkapkan oleh Thalq Bin Habib Al’Anazi :

العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكِ مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ

"Takwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap azab Allah."

Agar derajat takwa ini dapat kita raih secara sempurna, maka dalam menyambut datangnya Ramadan butuh persiapan. Persiapan-persiapan itu di antaranya adalah :

Pertama, persiapan fisik dan menjaga stamina. Persiapan fisik sangatlah penting. Mengingat kesehatan merupakan modal utama dalam beribadah. Orang yang sehat dapat melakukan ibadah dengan baik dan penuh semangat. Namun sebaliknya bila seseorang sakit, maka ibadahnya sangat terganggu, bahkan bisa jadi tidak bisa melakukan ibadah. 

Rasulullah pernah  bersabda, “Pergunakanlah kesempatan yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim)

Kedua, persiapan finansial (keuangan). Bulan Ramadan merupakan bulan amal saleh. Di antara amal saleh yang sangat digalakkan pada bulan ini adalah dengan memperbanyak infak dan sedekah. 

Sebagaimana hadis yang diriwayatkan  olah Ibnu Abbas, ia berkata, "Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan sikap kedermawaannya semakin bertambah pada bulan Ramadan ketika malaikat Jibril menemuinya untuk mengajarkan Al-Qur'an kepadanya. Dan biasanya Jibril mendatanginya setiap malam pada bulan Ramadan untuk mengajari Al-Qur’an. Sungguh keadaan Jibril sangat dermawan pada kebaikan melebihi angin yang berhembus." (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang muslim mempersiapkan sebagian hartanya, sebelum kedatangan bulan Ramadan untuk diinfakkan dan disedekahkan pada bulan itu. Bukan berarti di bulan-bulan lain tidak dianjurkan sedekah. 

Ketiga, persiapan jiwa dan mental. Hendaklah kita menyambut bulan Ramadan dengan rasa penuh kegembiraan dan tulus hati serta jiwa yang bersih (taubat). Bertaubat memohon ampunan kepada Allah, agar jiwa kita bersih dari noda dosa. Sekaligus memohon agar pandemi ini segera berakhir. 

Para ulama sangat menganjurkan  sebelum memasuki bulan Ramadan memperbanyak taubat dan istighfar. Semoga di bulan Ramadan bisa menjadi lebih baik. Kejelekan dahulu hendaklah kita tinggalkan dan ganti dengan kebaikan di bulan Ramadan.

Begitu pula kita hendaklah membiasakan diri untuk melakukan ibadah-ibadah sunnah, seperti puasa sunah, shalat sunah serta memperbanyak membaca Al-Qur'an. Sehingga kita terlatih dan terbiasa melakukan ibadah yang optimal.

Keempat, persiapan ilmu. Persiapan ilmu sangat penting, agar ibadah kita menuai manfaat dan tidak asal-asalan. Tentunya ilmu yang berkaitan dengan fikih puasa serta hal-hal yang berkaitan dengan puasa. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” (Al Amru bil Ma’ruf, hal. 15)

Perlu diingat, bahwa dalam melaksanakan suatu ibadah atau suatu perbuatan tidak sekadar ikhlas. Akan tetapi, perbuatan tersebut akan menjadi perbuatan yang baik, manakala diikuti dengan perbuatan yang benar. Benar menurut Allah, bukan menurut kita. Karenanya butuh akan ilmu, sehingga kita dapat mengetahui mana yang benar dan salah menurut Allah. 

Kelima, memberi kabar gembira perihal kedatangan bulan Ramadan kepada umat Islam. Hal ini sesuai dengan Sunah Rasul. Beliau senantiasa memberi taushiah (nasehat) menjelang kedatangan Ramadan dengan memberikan kabar gembira tentang keutamaan bulan Ramadan kepada para sahabat. 

Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah, beliau mengatakan bahwa menjelang kedatangan bulan Ramadan, Rasulullah bersabda, “Telah datang kepada kamu syahrun mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam tersebut, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi)

Masih banyak lagi hadis yang menjelaskan tentang keutamaan Ramadan. Hal ini dilakukan oleh Rasulullah untuk memberi motivasi dan semangat kepada umat Islam untuk memperbanyak beribadah di bulan Ramadan.

Demikian beberapa persiapan yang harus dilakukan dalam menyambut bulan Ramadan. Sambut kedatangan bulan Ramadan dengan sukacita di tengah pandemi Covid-19. Semoga kita dapat meraih keutamaan bulan Ramadan dan mampu menjadikan diri kita insan yang bertakwa in syaa Allah. 

Semoga Ramadan kali ini bukan Ramadan terakhir bagi kita. Menjadi sebuah harapan besar, semoga pandemi Covid-19 segera berakhir. Dengan berakhirnya pandemi Covid-19 berakhir pula sistem batil yang selama ini diterapkan di tengah kehidupan individu, masyarakat, dan bernegara. Akhir dari sistem batil sebagai cahaya terang sistem yang diridai Allah, yakni sistem Islam. 

Wallahu a'lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update