Goresan Pena Abu Mush'ab Al Fatih Bala
(Penulis Nasional & Pemerhati Politik Asal NTT)
Menarik perkataan seorang politisi Barat, mantan Menlu AS, bernama Henry Kissinger bahwa wabah Corona akan mengubah tatanan dunia selamanya. (Mediaumat.news, 9/4/20). Banyak prediksi bermunculan salahsatunya adalah dengan datangnya sistem Islam pada abad ini.
Namanya juga prediksi bisa benar bisa pula salah. Namun tak masalah jika kaum Muslimin berharap bila janji Allah SWT dan Rasul-Nya terjadi dalam waktu dekat. Tanda-tanda persatuan bisa saja terwujudkan dengan adanya Corona sebagai faktor penyebabnya.
Dari wabah Corona Kaum Muslimin belajar banyak hal bahwa ketaatan terhadap Syariah membawa berkah. Misalnya ajaran Lock Down bisa memutus mata rantai penyebaran virus.
Wanita yang memakai jilbab, khimar syar'i dan dilengkapi dengan cadar terbukti di Perancis mampu melindungi tubuh dari sebaran virus. Begitu juga dengan ajaran wudhu yang diyakini menangkal virus.
Social distancing baik langsung mau pun tak langsung menyebabkan tidak adanya ikhtilat (campur baur antara pria dan wanita) merupakan faktor penting penghambat Corona. Itu semua berasal secuil dari ajaran Islam yang sangat bermanfaat.
Social distancing berasal dari sabda Nabi SAW jika engkau melihat wabah berlarilah seperti engkau melihat seekor singa. Dan masih banyak lagi ajaran Islam yang belum diketahui umat seperti kewajiban penguasa untuk menjamin ekonomi dan kesehatan masyarakatnya selama wabah.
Kaum Muslimin jumlahnya 1,7 milliar di dunia ini. Tentunya dengan akidah Islam yang menancap kuat menjadikan setiap Muslim yakin akan kebenaran janji Allah SWT dan rasul-Nya. Kaum Muslimin memiliki rukun Islam dan Iman yang sama sehingga sangat memudahkan untuk bersatu jika ada kemauan.
Allah SWT tahu jika Kaum Muslimin sudah kuat tentu akan mampu memegang kekuasaan. Seperti firman-Nya dalam kitab suci Al Qur'an:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَـــــــا
Allah tak membebani hamba kecuali menurut kemampuannya. [QS Al- Baqarah: 286].
Jika peradaban Islam itu dikehendaki Allah SWT untuk ada zaman sekarang, tugas kita adalah lebih memantapkan diri untuk menyambutnya.
Bukankah banyak kisah pertolongan Allah SWT itu datang ketika logika manusia mengatakan mustahil. Maka perlu bagi manusia kisah Nabi Musa as dan Bani Israil yang dikejar oleh rezim Fir'aun.
Ketika mereka berada di ujung jalan, akal manusia mengatakan mustahil bisa lari dari Fir'aun dan pasukannya. Siapa lah Nabi Musa as? Beliau hanyalah seorang penggembala yang menentang kekuasaan Fir'aun yang menguasai seluruh Mesir.
Tapi dengan kehendak Allah SWT Nabi Musa as memukulkan tongkatnya. Laut merah terbelah dua, Bani Israil lewat dengan selamat namun Fir'aun dan bala tentaranya tewas.
Tatananan dunia baru pun terbentuk. Dunia tanpa Fir'aun, tanpa tirani, tanpa arogansi. Peradaban Mesir tinggal kenangan tak berjaya hingga sekarang. Yang ada setelahnya adalah peradaban tauhid yang secara turun temurun bergantian dibawa para Nabi dan Khalifah.
Sedangkan Kaum Muslimin pernah punya peradaban yang lebih luas selama 14 abad menguasai 2/3 dunia. Menyinari dunia dengan segala kebaikan. Salahsatunya adalah banyaknya mahasiswa asal Eropa yang belajar di Daulah Islam selama masa kegelapan (dark ages). Ketika pulang ke negerinya mereka mengembangkan iptek yang nantinya akan maju pesat setelah masa revolusi industri. Peletak dasarnya adalah sistem Islam.
Secara fisik tidak ada perbedaan antara Kaum Muslimin di zaman sekarang dengan zamannya Nabi SAW. Sama-sama memiliki waktu 24 jam yang sama dan status pekerjaan yang tak jauh berbeda.
Jika sistem Islam datang tinggal dijalankan saja. Seperti menginstal aplikasi baru yang memerlukan habit untuk menguasainya. Orang yang baru memakai smartphone tentu akan berbeda dengan yang sudah terbiasa.
Jika Rasulullah SAW dengan 40 orang sahabatnya mampu menghidupkan peradaban yang besar di Madinah, bagaimana dengan kaum Muslimin yang jumlahnya 1,7 miliar ini?[]
Bumi Allah SWT, 19 April 2020
#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

No comments:
Post a Comment