Oleh : Nisa Sitompul
Zaman sekarang, secara tak sadar, di kepala kita ada mindset yang mengatakan bahwa ukuran kemuliaan seseorang berdasarkan pada harta yang ia miliki, bukan pada kadar takwa dan kesalihan atau kedekatannya dengan Allah, bukan pula pada seberapa teguh ia berpegang pada syariat agama Islam.
Mudah saja mengeceknya. Perhatikanlah, bahwa pada umumnya orang yang penampilannya terlihat necis dan berkelas alias mewah akan lebih dihormati dan diutamakan kebutuhannya daripada orang yang penampilannya apa adanya. Baik di perkantoran, di tempat pengurusan administrasi, di mall, restoran, taman, dan lain-lain. Ini sudah menjadi rahasia umum.
Walaupun ternyata orang yang terlihat necis itu bergelimang dengan riba (riba KPR rumah, riba leasing kendaraan/mobil) yang notabene riba itu berarti mengumumkan perang kepada Allah.
Sedangkan orang yang penampilannya sekadarnya saja bisa jadi ia adalah orang yang shalih, bertakwa, dan senantiasa menegakkan syariat Islam serta berpegang teguh kepada Alquran dan Sunnah.
Kebanyakan manusia terlalu mengutamakan harta dan bahkan menyamakannya dengan rezeki. Sedangkan hakikat dari rezeki adalah apa yang dikonsumsi (dimakan) dan yang dimanfaatkan. Sementara harta yang dikumpulkan belum tentu menjadi jatah rezeki.
Dalam hadis dari Abdullah bin Sikhir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
"Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu – wahai manusia – hanyalah apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kami gunakan sampai rusak, dan apa yang kamu sedekahkan, sehingga tersisa di hari kiamat. (HR. Ahmad 16305, Muslim 7609).
Maka sekaya apapun manusia, sebanyak apapun penghasilannya, dia tidak akan mampu melampaui jatah rizkinya.
Bayangkan, ada orang yang punya 1 ton beras. Tentu dia hanya akan makan sepiring saja. Ada orang yang memiliki 100 mobil, dia hanya akan memanfaatkan 1 mobil saja. Orang yang memiliki 100 rumah, dia hanya akan menempati 1 ruangan saja.
Maka, tak perlu iri dengan harta orang lain. Apalagi dengki ketika usahamu ditiru orang lain. Karena rezekimu sudah ditetapkan, dan rezekinya juga demikian. Tidak ada hubungannya antara penghasilanmu yang sedikit dengan usaha orang lain yang serupa denganmu.
Ingatlah bahwa semua yang kita kumpulkan, sudah pasti akan dihisab oleh Allah.
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya dari mana diperolehnya dan kemana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya. (HR. Tirmidzi 2417, ad-Darimi 537, dan dishahihkan al-Albani)
Sesungguhnya yang dihisab oleh Allah tidak hanya harta yang menjadi kebutuhan sekunder atau tersier, termasuk yang menjadi harta kebutuhan primer, dan bahkan makanan yang dikonsumsi seseorang ketika sedang kelaparan.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,
“Pada suatu siang hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar. Kemudian beliau berpapasan dengan Abu Bakar dan Umar. Beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian keluar dari rumah kalian pada saat-saat seperti ini?”
Abu Bakar dan Umar menjawab, “Lapar wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda, “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, yang membuat aku keluar sama seperti yang menyebabkan kalian keluar. Mari berangkat”.
Maka Abu Bakar dan Umar beranjak bersama beliau. Beliau menemui seseorang dari kalangan Anshar, dalam suatu riwayat disebutkan rumah Abu Ayyub al-Anshari, yang ternyata ia tidak berada di rumahnya. Ketika istrinya melihat kedatangan beliau, maka dia berkata, “Marhaban wa ahlan”.
Beliau bertanya, “Dimana suamimu?”
Wanita itu menjawab, “Dia pergi untuk mencari air tawar bagi kami.”
Hingga sahabat pemilik datang. Dia memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua orang rekannya (Abu Bakr & Umar). Dia berkata, “Alhamdulillah…, pada hari ini tidak ada yang mendapatkan tamu-tamu yang lebih mulia selain diri tamuku.”
Lalu sahabat itu beranjak lalu datang lagi sambil membawa tandan yang di dalamnya ada kurma basah dan kurma yang sudah dikeringkan. Dia berkata, “Makanlah hidangan ini”. Lalu dia akan mengambilkan tempat minum.
Beliau bersabda, “Tak perlu engkau memerah air susu.”
Kemudian sahabat itu menyembelih domba, dan mereka semua makan dan minum. Setelah mereka kenyang, beliau bersabda kepada Abu Bakar dan Umar,
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ
“Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, kalian benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari kiamat. Rasa lapar telah membuat kalian keluar dari rumah, kemudian kalian tidak kembali melainkan setelah mendapat kenikmatan ini.” (HR. Muslim 5434).
Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ
“Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan: “Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?” (HR. Tirmidzi no. 3358 dan dishahihkan al-Albani).
Karena itu, semakin banyak pemasukan seseorang, dia akan menjalani hisab yang lebih lama. sehingga menyebabkan dia tertunda masuk surga.
Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ يَسْبِقُونَ الأَغْنِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا
“Sesungguhnya kaum Muhajirin) yang miskin, mereka mendahului masuk surga pada hari kiamat, 40 tahun sebelum orang kaya.” (HR. Ahmad 6735, Muslim 7654, dan Ibnu Hibban 678).
Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ، وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ
“Orang muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang muslim yang kaya dengan selisih setengah hari, yang itu setara dengan 500 tahun.” (HR. Ahmad 8521, Tirmidzi 2528, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).
Mari kita contoh sahabat Abdurrahman bin 'Auf radiyallahu 'anhu yang kaya raya. Harta berlimpah ruah, dengan kekayaannya sehingga tidak ada orang miskin di Madinah di zamannya.
Kekayaan itu juga tidak menjadikannya lupa hak Allah, yakni dengan berbuat sesuai dengan aturan Allah. Tidak melanggar larangan Allah, dan senantiasa menyandarkan segala perbuatannya dengan Alquran. Padahal beliau adalah sahabat yang sudah mendapat jaminan surga.
Lalu bagaimanakah dengan kita? []

No comments:
Post a Comment