Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tragedi Berdarah di New Delhi, Ke Manakah Kaum Muslim Harus Mengadu?

Thursday, March 19, 2020 | Thursday, March 19, 2020 WIB Last Updated 2020-03-19T03:26:44Z

Oleh : Afra Shafaa Grazielle 
Member Akademik Menulis Kreatif

Belum hilang duka yang menimpa muslim Uighur, baru-baru ini umat Islam dikejutkan dengan pembantaian kaum muslim di New Delhi, India. Pasalnya, pemerintah India mengesahkan Undang-Undang (UU) kewarganegaraan yang mengizinkan pemberian status kewarganegaraan terhadap imigran non muslim asal Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan. Akibat kontroversi tersebut, konflik meletus di pinggiran New Delhi karena UU itu dianggap mendiskriminasi umat Islam.

Untuk kesekian kalinya kaum muslim mendapat perlakuan kekerasan karena mereka beragama Islam. Yasmin, ibu dari tiga anak berusia 35 tahun mendengar para perusuh mengeluarkan ancaman akan membakar toko-toko dan tempat tinggal milik Muslim tetangga mereka.
“Ini adalah pertama kalinya saya melihat konflik seperti itu. Kami selalu menganggap Hindu sebagai saudara kami. [Mehtab] dibunuh karena ia seorang Muslim. Kami diserang karena kami Muslim” ujar Yasmin.

Nehtab adalah buruh muda dari salah satu korban dari sedikitnya 42 orang yang terbunuh dalam insiden rusuh penyerangan umat Hindu di India kepada warga muslim. Kala itu setidaknya 300 orang lainnya terluka parah. Bahkan  layaknya sebuah wabah, rusuh ini merupakan hal  terburuk dari berbagai kekerasan sektarian di sebuah kota besar di India sejak 2002 ketika lebih dari 1.000 orang, terutama muslim, terbunuh dalam kerusuhan di Gujarat. (Republika.co.id, 01/03/2020)

Sungguh sangat menyayat hati, para penguasa negeri muslim hanya bisa mengecam dan mengutuk . Anehnya lagi, ada penguasa muslim yang justru tidak memberikan kecaman sama sekali bahkan meminta untuk menjaga hubungan baik dengan India.
"Kepada semua tokoh dan umat beragama, baik di India maupun di Indonesia, Menag berpesan untuk menahan diri dan tidak terpancing melakukan tindakan emosional," kata Menteri Agama Fachrul Razi  dalam keterangan resminya, Jumat (28/2). (CNN Indonesia, 29/02/2020)

Merespons kejadian itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menyambangi Kedutaan Besar India di Jakarta. Mereka ingin meminta penjelasan kronologi peristiwa sebenarnya. Wakil Sekjen PBNU, Masduki Baidlowi menjelaskan, NU akan meminta kebijakan pemerintah India dalam menyikapi tragedi berdarah tersebut. Hal ini menjadi catatan NU karena selama ini RI dan India punya hubungan yang baik. Maka itu, menurut dia, sikap RI juga diminta jangan sampai menciderai hubungan dan persahabatan dengan India. (VIVAnews, 29/02/2020)

Dilansir oleh Suara Nasional (01/03/2020), Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengecewakan umat Islam karena tidak mengecam pembantaian muslim di India. Demikian dikatakan pengamat politik dan sosial Muhamnad Yunus Hanixs dalam pernyataan kepada suaranasional, Ahad (1/3/2020). “Jokowi harusnya menunjukkan rasa solidaritas muslim di India,” ungkapnya. Menurut Yunus, ada kemungkinan Jokowi takut hubungan dengan India retak akibat mengecam pembantaian muslim di negeri Bollywood,” pungkasnya.

Dominasi Kapitalisme-Sekuler Menjadikan Negeri- Negeri Muslim Tidak Berdaulat

Tidak dipungkiri bahwa kaum muslim saat ini menerapkan Islam dalam kehidupan pribadi semata. Islam diambil dalam perkara aqidah, ibadah dan akhlak saja. Namun, mereka mengambil aturan yang dibuat oleh manusia untuk mengatur pemerintahan, sanksi/hukum, ekonomi, pergaulan, pendidikan dan sebagainya. Ada juga negeri muslim yang menerapkan hukum Islam dalam perkara sanksi, tetapi tidak dalam seluruh lini kehidupannya.

Selama ini, kaum muslim termasuk Indonesia mengalami krisis multidimensi yang seolah tak berujung. Nilai rupiah semakin terpuruk, pengangguran semakin meningkat, utang menumpuk, harga kebutuhan naik, pendidikan semakin mahal dan sebagainya yang berujung pada maraknya tindakan kriminal.  Padahal negeri ini memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah ruah. 

Di belahan bumi yang lain, kaum muslim tidak berdaya ketika menyaksikan saudara-saudara mereka mengalami diskriminasi, penganiayaan dan pembantaian. Padahal jumlah mereka sangat banyak. Nestapa yang menimpa muslim Palestina, Rohingya, Suriya, Uighur dan India, seolah hanya menjadi tontonan layaknya sebuah drama tragedi dengan episode yang sangat panjang. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Negeri-negeri muslim termasuk Indonesia masih menerapkan sistem demokrasi-kapitalisme yang berasal dari barat. Sehingga, sistem ini membuka selebar-lebarnya kerja sama dengan negara-negara asing terutama negara-negara maju. Dalam kesempatan itu, negara-negara maju memberikan utang dan investasi bagi negara-negara berkembang, terutama negeri muslim yang memiliki sumber daya alam berlimpah. Dengan begitu, demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, sangat mudah bagi mereka untuk mengintervensi negeri-negeri muslim. Tidak heran, ada banyak Undang-Undang merupakan intervensi asing yang tidak pro rakyat. 

Dominasi dan intervensi asing itulah yang memiskinkan negeri-negeri muslim. Utang, investasi, dan kerja sama lainnya menjadikan negeri-negeri muslim tidak bisa melakukan apa-apa ketika mereka menyaksikan pembantaian umat Islam di negeri dimana mereka minoritas. Selain itu, ide nasionalisme telah meracuni benak kaum muslim. Mereka memahami bahwa urusan dalam negeri negara lain tidak boleh dicampuri. Oleh karena itu, kaum muslim dan para pemimpinnya hanya bisa mengecam dan mengutuk. Alih-alih mengecam, penguasa di negeri ini justru meminta untuk menjaga hubungan baik dengan India.

Islam Melindungi Kehormatan dan Darah Kaum Muslim

Islam merupakan agama sekaligus sistem kehidupan yang mengatur seluruh perbuatan manusia dalam setiap aspek kehidupan. Islam mampu membawa rahmat bagi seluruh umat manusia jika diterapkan secara kafah. Sungguh celaka jika kaum muslim hanya mengambil Islam dengan sistem tebang pilih. Mereka akan memperoleh kesempitan hidup dan malapetaka yang tidak ada habisnya. Sebagaimana Allah Swt. berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

''Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta''. (Q.S. Thaha:124) 

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud waman a'radla an dzikri yaitu sikap menentang perintah Allah dan apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya, kemudian mengambil aturan/hukum selain dari petunjuk Allah. Sedangkan maisyatan dlanka akni kehidupan yang sempit di dunia, tiada ketenangan baginya dan dadanya tidak lapang, bahkan selalu sempit dan sesak karena kesesatannya.

Islam menjaga harta, kehormatan dan darah kaum muslim. Rasulullah saw. bersabda: 
“sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpakan) dan harta kalian (untuk dirampais) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini” (HR. Bukhari).


Selain itu, menumpahkan darah seorang Muslim tanpa hak adalah kejahatan yang besar dan dosa yang besar. Allah Swt. berfirman:

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Barangsiapa yang membunuh orang beriman dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka jahannam, ia kekal di dalamnya, ia mendapatkan murka Allah, dan laknat Allah atasnya, dan Allah janjikan baginya adzab yang pedih.” (QS. an Nisa: 93)

Demikian juga besarnya dosa menumpahkan darah seorang mukmin, disebutkan dalam hadits-hadits Nabi. Dari Al Barra’ bin ‘Adzib ra.,  Nabi saw. bersabda:

“Sungguh hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya orang Mukmin tanpa hak.” (HR. Ibnu Majah no.2615‏, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah).

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal darah seorang muslim, kecuali karena salah satu dari tiga hal: orang yang berzina padahal ia sudah menikah, membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah (kaum muslimin).” [HR al-Bukhâri dan Muslim]

Secara praktik, Islam pernah diadopsi secara sempurna dalam seluruh lini kehidupan. Sepanjang penerapannya, Islam senantiasa menjaga dan melindungi harta, kehormatan, dan darah kaum muslim. Suatu waktu, dimasa kepemimpinan Rasulullah saw., seorang muslimah telah dilecehkan oleh seorang Yahudi. Ujung jilbabnya diikat dan ketika ia bangkit, auratnya pun tersingkap. Muslimah ini spontan berteriak dan seorang laki-laki muslim yang berada di dekatnya membunuh laki-laki Yahudi itu. Orang-orang Yahudi kemudian membunuhnya.

Kejadian ini membuat Rasulullah saw marah. Rasulullah saw. bersama pasukan kaum muslim berangkat menuju tempat Bani Qainuqa dan mengepung mereka dengan ketat. Yahudi bani Qainuqa ini akhirnya bertekuk lutut dan menyerah setelah dikepung selama 15 hari. Rasulullah saw. memberikan pelajaran bagi Yahudi dengan mengusir sejauh-jauhnya mereka dan tidak boleh tinggal di Madinah.

Tentu saja kita juga masih mengingat kisah pembebasan palestina oleh Salahuddin al-Ayyubi bersama pasukannya, mereka mengahadapi pasukan Salib dengan gagah perkasa. Dengan kekuatan 63.000 pasukan, kaum Muslim berhasil mengalahkan 30.000 pasukan Salib dan menawan 30.000 pasukan lainnya. Kemudian pasukan Muslim mengepung al-Quds, perang pun berkecamuk dan membuat pasukan Salib terpojok. Akhirnya, Pasukan Salib meninggalkan Jerusalem dengan tertunduk dan hina sedangkan pasukan Shalahuddin berhasil membebaskan kota suci tersebut.

Demikianlah, gambaran kekuatan kaum muslim dalam sistem kepemimpinan Islam yakni khilafah. Mereka tak terkalahkan dan tak gentar sedikitpun menghadapi musuh-musuh Islam. Namun, sayang seribu sayang, kekuatan heroik seperti itu kini tidak ada lagi. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan HAM menjadi lumpuh ketika menyaksikan Islam dan kaum muslim didiskriminasi dan ditindas. Persatuan negeri-negeri muslim (OKI) pun tidak berdaya. Oleh karena itu, khilafah merupakan satu-satunya yang harus menjadi arah perjuangan umat muslim saat ini. 

Wallaahu a’lam bishshowaab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update