Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pornoaksi Berekspektasi “Body Positivity”

Wednesday, March 11, 2020 | Wednesday, March 11, 2020 WIB Last Updated 2020-03-11T11:13:06Z
Oleh : Alfiyah Kharomah

Dalam survei yang melibatkan 2.000 orang dewasa, sekitar 56 persen mengatakan pernah menjadi korban body shaming dalam setahun terakhir. Dari survei yang dilakukan perusahaan kesehatan WW diketahui bahwa berat badan yang kerap jadi target ketika seseorang melakukan body shaming. Paling tidak ada enam dari 10 orang yang pernah mendapatkan komentar buruk tentang badannya. Entah itu terlalu gemuk atau terlalu kurus seperti dikutip dari Liputan.com (6/11/2019).

Selain itu, warna rambut, kulit serta tinggi badan jadi objek lain yang kerap jadi sasaran olok-olok maupun kritik. Bahkan ada juga yang pernah mendapatkan komentar buruk soal ukuran kaki hingga alis. Hal ini menimbulkan kritik dari Direktur Global WW, Zoe Griffiths. “Jelas bahwa ada banyak orang yang berjuang tentang kepercayaan diri terhadap tubuh. Komentar pedas orang-orang soal fisik benar-benar menyedihkan” Katanya.

Sepanjang tahun 2018 saja. Ada 966 kasus penghinaan fisik atau body shaming yang ditangani polisi dari seluruh Indonesia. Sebanyak 374 kasus diantaranya sudah diselesaikan baik melalui penegakan hukum maupun pendekatan mediasi antara korban dan pelaku.

Isu body shaming ini juga yang memantik artis Tara Basro untuk merespon melalui media sosialnya. Ia mengunggah foto dirinya tanpa busana. Lewat foto tersebut ia mengkampanyekan body positivity. Ia mengajak orang untuk mencintai tubuhnya dan percaya dengan dirinya sendiri.

Tak pelak, unggahannya tersebut membuat geram warganet. Tak sedikit yang mengkritik aksi pornonya tersebut. Bahkan banyak warganet yang mengklaim bahwa apa yang dilakukan tak ubahnya sebagai aksi porno saja.

Tara Basro tak sendiri, pembelaan demi pembelaan didapatkan dengan dalil apa yang disampaikan adalah sebuah hal yang positif. Meski Tara Basro sendiri sempat menghapus unggahannya tersebut. Salah satu pembelaan dari Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan Mariana Amiruddin mengatakan apa yang dilakukan Tara Basro sebagai “membangkitkan kepercayaan diri perempuan”. Ia menambahkan bahwa apa yang dilakukan oleh pemeran film pengabdi setan itu tidak ada tujuan untuk membangkitkan hasrat seksual, tapi tujuannya lebih ke bagaimana percaya diri terhadap tubuhnya sendiri.

Dia melanjutkan, kampanye yang digaungkan Tara Basro sekaligus mengkritik konstruksi patriarki yang membentuk budaya yang beranggapan tubuh perempuan sebagai sesuatu yang negatif dan membenci tubuh perempuan.
Komnas Perempuan tak sendiri, Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G Plate menilai unggahan Tara Basro sebagai bentuk seni dan tidak melanggar pasal kesusilaan di undang-undang ITE.

Masih belum hilang dari ingatan, isi poster dari salah satu peserta aksi Women’s March. “Aurat gue bukan urusan lo!”, Agaknya kini menunjukan imbasnya. Para pemuja kebebasan berekspresi tak malu lagi menunjukan jati diri. Mereka sudah terang-terangan melakukan aksi yang masih dianggap tabu di Indonesia ini. Tak salah apabila banyak analis perempuan mengatakan bahwa kampanye penyebaran faham feminisme dilakukan secara massif dan tersetruktur.

Meskipun apa yang disampaikan Tara Basro adalah dalam kerangka stop body shaming. Namun apa yang dilakukannya merupakan bentuk kebebasan berperilaku yang kebablasan. Dengan dalih hak atas tubuh perempuan justru ia menghasilkan respon kontradiktif berupa body shaming dan pornografi/ pornoaksi. Justru ia sedang melakukan tindakan yang menghasilkan penghinaan terhadap perempuan dalam beragam bentuknya. Ini adalah perilaku liberal yang merusak para perempuan itu sendiri.

Ini adalah salah satu pendekatan feminisme liberal yang merupakan pemikiran cabang dari ideologi kapitalisme. Yaitu, pemahaman kebebasan berekspresi yang dianut oleh ideologi kapitalisme. Mereka sepakat tentang hak otonomi tubuh perempuan dan kebebasan ekspresi gender. Teori ini memaksa para penganutnya yang notabene adalah muslim, untuk melakukan interpretasi dari hak otonomi tubuh perempuan dan kebebasan ekspresi gender.

Tentu saja, aksi tersebut merupakan aksi yang menyeret pelakunya ke dalam jurang kehinaan yang dalam. Pemahaman berbahaya tersebut telah mengikis fitrah perempuan. Ini adalah teror berbahaya bagi peradaban. 

Islam sendiri menolak body shaming. Tentu juga sama halnya dengan pornografi maupun pornoaksi. Karena dua hal tersebut adalah wujud perendahan terhadap kehormatan perempuan. Telah jelas bagaimana Islam memuliakan perempuan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering mengingatkan dengan sabda-sabdanya agar umat Islam menghargai dan memuliakan kaum wanita. 

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim)

Islam satu-satunya ideologi yang mampu meletakan posisi perempuan pada posisi yang mulia. Di bawah pemerintah Islam, ulama laki-laki terkemuka menjunjung guru-guru perempuan mereka dalam penghormatan yang tinggi, memuji mereka karena kesalehan mereka, akhlak mulia dan integritasnya. Islam menolak pandangan bahwa perempuan adalah ‘penggoda seksual’ yang membuat orang tersesat.

Memang benar, laki-laki dan perempuan berpotensi untuk saling memprovokasi hasrat seksual satu sama lain. Oleh karena itu, Islam menetapkan hukum dan batasan yang ketat, untuk mengarahkan pemenuhan naluri seksual hanya di dalam akad pernikahan. Islam memfasilitasi kerja sama antara laki-laki dan perempuan dengan memastikan kerja sama yang sehat antara kedua gender tersebut. Di dalam semua bidang. Didasarkan pada sikap saling menghormati dan tidak dirusak oleh gangguan atau godaan seksual. Hal ini penting dilakukan untuk melindungi unit keluarga, hak-hak perempuan, laki-laki dan anak-anak.

Sedang apa yang telah dilakukan oleh para penganut kebebasan, yang serba bebas. Bebas umbar aurat. Bebas upload foto telanjang. Bebas berpose bugil demi seni. Justru telah menuai kekacauan sosial dan moral dalam masyarakat.
Wallahu ‘alam Bisshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update