Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Kesehatan Umat Tergadai dengan Pariwisata

Friday, March 13, 2020 | Friday, March 13, 2020 WIB Last Updated 2020-03-13T04:34:18Z



Oleh: Rati Suharjo
Pegiat Dakwah dan Member Akademi Menulis Kreatif


Data korban Corona setiap hari terus mengalami peningkatan. Dilansir oleh kompas com,10/3/2020, bahwa jumlah korban Corona atau Covid-19 meninggal sebanyak 4000 di seluruh dunia. Sedangkan di Indonesia sendiri ada 19 kasus positif Corona.


Dengan adanya virus Corona atau covid-19 yang belum diketemukan obatnya, maka di berbagai negara melakukan kebijakan diplomatik. Salah satunya membatasi atau melarang warga Cina atau mereka yang pernah melakukan perjalanan ke Cina memasuki negaranya.


Berbeda dengan Indonesia, pemerintah justru membuka pintu selebar-lebarnya atas nama pariwisata. Sebab, dengan kondisi wabah Corona otomatis kunjungan wisata ke Indonesia menjadi sepi. Seperti tempat wisata di Yogyakarta, Bandung, Bali turun sampai 50%. Bahkan, hotel di Bali sampai 70% dalam keadaan kosong.


Masalah tersebut otomatis akan mengurangi devisa negara dan akan menganggu pertumbuhan ekonomi. Presiden segera mencari ide. Dipanggilah influencer untuk mempromosikan pariwisata agar turis manca negara kembali hadir ke Indonesia.


Adapun dana yang digelontorkan untuk influencer sebanyak 72 miliar. Dana tersebut mengambil dari APBN bulan Maret 2020, CNN Indonesia,26/2/2020.
Selain untuk influencer pemerintah juga membayar 103 miliar untuk promosi, 25 miliar untuk kegiatan wisata, 98,5 miliar untuk maskapai dan agen perjalanan.


Wabah penyakit Corona sudah menyebar ke seluruh dunia yang dengan cepat penularannya. Seharusnya pemerintah lebih melindungi rakyatnya dari penyakit Corona dari pada membayar influencer yang belum jelas hasilnya.


Lemahnya ekonomi bukan hanya disebabkan dari virus Corona. Akan tetapi, undang-undang yang diterapkan di Indonesia mayoritas memihak kepada kapitalis penjajah. Sehingga, menyebabkan hutang negara terus meningkat, angka pengangguran, dan angka kemiskinan juga terus meningkat.


Permasalahan tersebutlah yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi terganggu. Pasalnya  tahun 2019 pertumbuhan ekonomi berkisar diangka 5,02% dan tahun 2018 berkisar pada angka 5,17%.


Inilah buktinya bahwa ekonomi melemah bukan dari sektor wisata namun dari sistem  demokerasi sekuler yang terus diemban negeri ini.


Seharusnya ini menjadi persolan yang serius sebab kesehatan adalah faktor utama kebutuhan rakyat yang harus ditanggung pemerintah. Bukan menyerahkan ke lembaga seperti BPJS, yang rakyat sendiri yang harus menanggungnya.


Bukan malah membuka pintu pariwisata sehingga membuat rakyatnya was-was. Apalagi pariwisata tersebut justru menyuburkan kemaksiatan.


Selain itu juga bukankah pemasukan devisa lebih kecil dari pada mengelola sumber daya alam yang sekarang dikuasai kapitalis? Sumber daya alam yang salah kelola inilah yang menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi terus merosot. Sehingga, APBN mengandalkan utang dan pajak.


Selain daripada itu pemerintah juga lalai dalam masalah pendidikan. Seharusnya pemerintah memberikan sarana dan prasarana dalam pendidikan secara gratis. Sehingga, akan melahirkan generasi yang cerdas berintelektual mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.


Masyarakat yang cerdas tadi, akan mampu bersaing dengan negara lain dan pengangguran bisa dihindari. Selain itu juga penyediaan lapangan kerja yang luas, jangan sampai generasi yang cerdas tadi dinikmati oleh negara lain hanya karena tidak dihargai masalah gaji.


Oleh karena itu, jelas bahwa demokrasi adalah sistem yang salah ketika menutupi masalah yang satu maka membuka masalah yang lain. Jadi sudah saatnya kita kembali kepada suri tauladan kita yaitu menerapkan Islam sebagai ideologi negara. 


Sebagaimana Rasullulah saw. mengatasi masalah penyakit menular yaitu kusta.
Dimana waktu itu belum ketemu obatnya. Dalam kasus tersebut Rasullullah saw. menerapkan isolasi atau karantina terhadap penderita.


Ketika itu Rasullulah melarang umatnya untuk mendekati dan melihat-lihat penderita sebagaimana dalam hadis Rasulullah saw.
 لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ

Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta (HR al-Bukhari).


Rasulullah saw. juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda:


إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا


Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu (HR al-Bukhari).


Pada masa kekhalifahan Umar bin al-Khaththab juga pernah terjadi wabah penyakit menular. Diriwayatkan:


أَنَّ عُمَرَ خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ. فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ، فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ‏ ‏إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْه‏.


Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari).


Inilah fakta-fakta yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan sahabatnya ketika menerapkan syariah Islam secara kafah dalam bingkai Daulah Khilafah Rasyidah.


Untuk itu sudah selayaknya kita sebagai umatnya kembali kepada aturan yang dicontohkan. Sehingga, pertumbuhan ekonomi dan kesehatan akan benar-benar dirasakan oleh masyarakat.


Wallahu a'lam bishshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update