Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kerapuhan Keluarga tanpa Solusi

Monday, March 09, 2020 | Monday, March 09, 2020 WIB Last Updated 2020-03-09T12:16:43Z
By : Rosyidah

Pernikahan menjadi sesuatu yang sangat diinginkan oleh setiap bujang. Banyak perempuan yang memimpikan pesta pernikahan idaman yang meriah megah, tamu berbahagia, keluarga berbahagia. Seperti dalam film dongeng putri “princes” yang selalu happy ending. Impian pernikahan idaman terasa mimpi yg sudah terjadi semalam dan sedikit berlanjut pada bulan madu, setelah itu Lembaga rumah tangga menghadapi realitas. 

Rumah tangga di Indonesia dihadapkan dengan banyak beban. Diantarnya beban pemenuhan pangan, kesehatan, keamanan, dan kesehatan. Dengan beban inflasi dari data BPS 3,49% per Agustus 2018 – Agustus 2019. Sehingga menuntut keterlibatan semua anggota keluarga berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan. 

Progam pemberdayaan wanita (woman empowering) menjadi salah satu yang digadang-gadang menjadi solusi meningkatnya perekonomian nasional, regional maupun internasional. Namun dalam perjalannya program ini menghasilkan residu masalah dalam keluarga yang belum bisa teratasi. Diantaranya kenakalan remaja, kekerasan pada anak dan perempuan, ketidakharmonisan keluarga yang berujung pada perceraian.

Data statistik dari Blackdoctor, menunjukkan, 50 persen pernikahan pertama, 67 persen pernikahan kedua, dan 73 persen pernikahan ketiga lewat sebuah studi di Amerika Serikat kandas pada tahun kelima.dilansir suara.com (12/6/2019) ini banyak terjadi karena alas an pemenuhan ekonomi, pada tahun 5 tahun pertama keluarga baru banyak berfokus pada pemenuhan kebutuhan, sehingga tututan pekerjaan yang tinggi menyebabkan kurangnya komunikasi yang mengarah kepada perceraian. 

Sedangkan di Indonesia kasus perceraian hampir setengah juta pasangan pada tahun 2018. Bersama, dan lainnya (detiknews,28/2/2020). Alasan penyebab terbesar perceraian pada 2018 adalah perselisihan dan pertengkaran terus menerus dengan 183.085 kasus. Faktor ekonomi menempati urutan kedua sebanyak 110.909 kasus. Sementara masalah lainnya adalah suami/istri pergi (17,55%), KDRT (2,15%), dan mabuk (0,85%). Kata data 20/02/2020. Dan ini menyisakan residu permasalahan lain, diantaranya tentang pembagian harta Bersama dan pengasuhan anak.

Dampak yang lebih luasnya karena perceraian banyak kita temukan pada kenakalan remaja (keterlibatan genk, pergaulan bebas, narkoba dll). Dan masa depan bangsa kita terancam. Dengan kondisi anak remaja yang rapuh, sangat dikhawatirkan bertumbuh menjadi orang dewasa yang tidak kuat. 

Yang semestinya menjadi fokus pemerintah dalam menyiapan masa depan adalah dengan menyelamakan generasi remaja kita, dari kerusakan. Kerusakan yang menyerang keluarga kita dapat dicegah dengan mengokohkan Lembaga keluarga dan pemerintah mengkondisikan lingkunan tumbuh kembang anak dengan peraturan yang melindungi tumbuh kembang mereka.

Faktor yang terbesar tentang selisih paham dalam rumahtangga, semestinya dapat teratasi apabila pasangan tersebut mempunyai pemahaman yang setara, senhingga akan sedikit terjadi crash. Kajian pranikah, tidak cukup hanya sebagai symbol lulus tidak lulus, tetapi memang harus memahamkan masing-masing pasangan tentang kewajiban dan haknya sebelum.

Faktor yang kedua yaitu pemenuhan ekonomi, beban ekonomi keluarga di Indonesia yang tinggi, memaksa perempuan ikut turun tangan dalam pemenuhan kebutuhan rumagh tangga. Program womanomic yang dicanangkan di dunia international tidak terbukti memajukan ekonomi keluarga Indonesia ataupun dunia. Program empowering woman yang salah kaprah, mengalihakan tugas pengasuhan privat menjadi klasikal dalam kelas penitipan anak / paud. Dimana pembentukan karakter anak haruslah dimulai dari 0-8 tahun di golden age.

Ibu yang meninggalkan tempat tugas pokoknya, menyambi tugas tambahan membantu pemenuhan kebutuhan keluarga, berakibat pada anak kehilangan perhatian dan pasangan tidak saling memperhatikan sehingga  mulai terjadi selisih pemahaman, dan anak hilang kontrol. 

Rezim sekuler tidak mampu memberi solusi tuntas atas masalah keretakan rumah tangga karena akar masalahnya sistemis dan penyelesaiannya parsial bahkan cenderung kontraproduktif atau memunculkan masalah baru dalam rumah tangga.

Dalam Islam beban yang berat pada keluarga sekarang dapat dikurangi. kepala keluarga hanya dibebani dengan mencari nafkah untuk makan saja. Pemerintah sebagai pengurus urusan umat memberikan jaminan pendidikan, kesehatan, keamanan, ketersediaan lapangan kerja bahkan distribusi barang diatur ke penjuru negeri. Wanita akan kembali fitrahnya. Bekerjanya wanita hanya sebagai aktualisasi diri saja, tidak sebagai pokok penopang ekonomi keluarga. Pembagian beban tersebut, maka keluarga dalam Islam sangat ringan, dan dapat lebih berfokus pada tumbuh kembang generasi sehingga menjadi kuat. Harmonisme keluarga yang hadir, mengokohkan anggota keluarga, yang akan berdampak kepada kokohnya negara.
Allahua’lam bishowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update