Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

India Menanti Pembebasan dari Khilafah

Thursday, March 05, 2020 | Thursday, March 05, 2020 WIB Last Updated 2020-03-05T07:28:11Z

By : Nadiya Sidqin 
(Aktivis Muslimah Blitar) 

New Delhi berdarah. Pemicunya adalah protes Muslim atas ketidakadilan undang-undang kewarganegaraan yang mendiskriminasi Muslim India. Tragedi komunal yang menimpa Muslim di India bahkan dinilai yang paling mematikan dalam sejarah India. Muslim diburu, dipukul dan dibantai, rumah dan masjid dibakar. New Delhi porak-poranda.

Supremasi Hindu atas Muslim di India menjadi alasan mendesak di antara alasan-alasan lain yang mengharuskan umat Islam bersatu mewujudkan khilafah. Sejak Rajab 99 tahun Hijriah yang lalu hingga hari ini, khilafahlah solusi yang paling realistis untuk semua persoalan.

Apa yang kita lihat atas berbagai kecaman, aksi protes atas pembantaian, doa, dan sumbangan kebendaan lainnya telah ditunaikan oleh segenap kaum Muslim sebagai wujud "pertolongan". Namun pantang bagi seorang Muslim menolak jihad sebagai "pertolongan" utama dan mumpuni bagi saudara Muslim di India. Namun hal itu tidak mungkin terwujud dalam "agama demokrasi" dan HAM yang diimani Barat dan kafir Hindu India. "Agama" sesat ini telah menular ke negeri-negeri dan para pemimpin berkedok Muslim tetapi tidak merepresentasikan Islam. Itulah alasan mengapa Arab Saudi, Iran, Mesir, Turki, memilih diam dan buang muka. Bisa diprediksikan tindakan maksimal hanyalah mengecam. Seperti yang dilakukan kerumunan OKI.

Bagaimana Indonesia?
Negeri dengan populasi Muslim terbesar ini diprediksi juga setali tiga uang dengan anak didik AS dan Barat lainnya. Suara paling nyaring hanya kecaman. Kesibukannya dalam agenda memerangi radikalisme dan ekstremisme serta membumikan ideologi pancasila membuat negeri ini sulit menoleh  Muslim India. Liyo deso mowo coro (beda tempat, beda pula kebijakan). Lagi pula, tidak ada "rupiah" didapat jika negeri ini angkat bicara, apalagi angkat senjata dan mengirim tentara untuk menolong Muslim India. Maklum, utang sudah maksimum. Lebih baik fokus kepada sumber pemasukan dari pada negara orang.

Jika itu adanya, maka benarlah bahwa Pancasila hanya diperalat. Bukan ideologi sungguhan yang tertanam dalan jiwa dan sanubari anak bangsa, dimana nilai-nilai luhurnya mampu menginspirasi untuk membebaskan manusia dari penjajahan di atas dunia. Karena penjajahan itu tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan ( lihat preambule UUD 1945 alenia pertama). Termasuk penjajahan atas minoritas Muslim di India oleh mayoritas kafir Hindu.

Dunia Internasional di bawah PBB pun bukan tumpuan mewujudkan rasa aman. Bahkan pihak keamanan India sendiri tidak mendapat kepercayaan publik dalam menangani kerusuhan yang terjadi. Persis adegan dalam film Hollywood di televisi. Mereka telah kehilangan rasa malu dengan membiarkan masyarakat sipil "berkelahi" di bawah hidungnya.

Sementara itu Trump dalam lawatan ke negara itu menyatakan dirinya sebagai supporter pada perang perhadap Islam yang dilakukan oleh Perdana Menteri Modi. Ia menyatakan bahwa India dan AS adalah persatuan dalam tekad baja untuk membela warga negara dari ancaman terorisme Islam radikal.

Betapa memalukan ucapan-ucapan para jagal kaum Muslim itu. Mereka menggunakan dan menyalahgunakan bahasa untuk menipu dunia. Sejatinya merekalah yang melakukan teror terhadap Muslim. Merekalah pengemban ekstremisme agama sehingga menganggap Muslim sebagai pengganggu dan harus diburu. Kalau bukan intoleransi, apalagi istilah yang tepat untuk adegan yang sedang merekan pertontonkan di New Delhi? Semua istilah itu selalu mereka tudingan kepada Islam dan umatnya. Tetapi justru mereka sendiri yang kerap menjadi pelakunya. Sekali lagi memalukan!

Sudah tiba waktunya bagi umat Islam untuk meninggalkan kultur demokrasi yang mengajarkan kesesatan toleransi,  ekstrem, dan radikal sepotong-sepotong. Kaum Muslim harus kembali pulang kepada rumah besar mereka yaitu khilafah. Khilafah itulah, yang akan menjadi perisai dan rumah besar umat Islam. Khilafah akan menjaga setiap tetes darah kaum muslimin.

Hari ini tanpa adanya khilafah, darah kaum muslimin begitu mudah tertumpah. Banyak rezim yang menumpahkan darah kaum muslimin tanpa merasa malu dan tanpa takut akan mendapat azab. Rohingnya,  Uighur, Kashmir, Yaman, Palestina, telah lama menanti "pertolongan" khilafah.

Telah bersabda Rasulullah ﷺ,

إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ، فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ، وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’Azza wa Jalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update