By : Masnun
Ah manusia, entah apa yang ia pikirkan sehingga ia bisa terseret dan hanyut dalam buaian dunia dan abai dengan pertanyaan yang Allah berikan. Ia ini tidak tuli, bisu dan juga tidak amnesia tapi hanya pura-pura lupa yeah sebutlah seperti itu, ia berpura-pura lupa akan nikmat yang berjuta-juta Allah SWT berikan kepadanya. Pertanyaan yang sebanyak 31 kali ini Allah tanyakan dalam surah ke 55 (Ar- Rahman), Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ? itulah pertanyaanya. Pertanyaan yang cukup sederhana, namun membutuhkan waktu berjam-jam untuk menjawabnya, kalaupun jawabanya jujur hehehe kalau ngak jujur paling semenit doang pasti jawabanya udah selesai.
Pengertian syukur dan nikmat berasal dari bahasa Arab. Kata syukur berterima kasih, sedangkan kata nikmat artinya Pemberian, Anugrah, Enak, Lezat. Mensyukuri nikmat Allah SWT, maksudnya berterima kasih kepada-Nya dengan cara mengingat atau menyebut nikmat dan mengagungkan-Nya. (sumber : http://web.ipb.ac.id/~kajianislam/pdf/syukur).
Kebanyakan dari kita manusia yang suka pura-pura lupa. So’soan amnesia kalau Allah sudah memberikan nikmat yang saking banyaknya tak bisa terhitung. Baik itu nikmat jasmani mulai dari tempat tinggal yang Allah berikan, makanan dan minuman yang Allah sudah sediakan diatas muka bumi dan lain sebagainya. Allah sengaja menyediakan nikmat itu untuk manusia supaya manusai itu bisa menjalani hidupnya dengan baik, nyaman dan sejahtera kemudian nikmat rohani yaitu mulai dari roh, akal, perasaan, kemudian ilmu pengetahuan, bahasa, dan juga iman dan islam. Tapi nampaknya semua nikmat itu seperti halusinasi bagi kebanyakan manusia, kita menganggap itu hanya hayalan semata yang ketika kita memikirkan sesuatu maka sesuatu itu akan terjadi dan akan hadir dengan sendirinya.
Padahal kita lupa bahwa semua itu adalah wujud kecintaan Allah SWT kepada hambanya, tapi kebanyakan dari kita mendustakan nikmat itu bahkan kita tidak segan-segan bermaksiat dan berbuat dosa kepada Allah setelah semua yang sudah Allah berikan. Kita bahkan dengan santainya mengunakan nikmat itu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat seperti nikmat waktu luang yang kita gunakan untuk nonton biosko,nongkrong bareng teman-teman yang tujuannya ngak jelas kemudian waktu sehat kita yang tidak kita manfaatkan dengan baik, padahal semua itu akan dimintai pertanggung jawaban tapi kita masa bodoh.
Seperti yang sabdakan Rasulullah SAW “ Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. al-Bukhari 6412, dari Ibnu Abbas.)
Allah SWT bahkan mengulang-ulang pertanyaan Maka Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang Kamu Dustakan'? kenapa, Allah menggunakan kata INGKAR dalam pertanyaan ini? Itu karena Allah tau bahwa nikmat-Nya tidak bisa dipungkiri. Namun nikmat yang sudah Allah berikan kepada manusia pada akhirnya diingkari juga. Manusia tau kalau nikmat itu dari Allah walaupun kebanyakan dari kita mendustakannya. Allah menyampaikna dalam Al-Qur’an dalam surah (An-Nahl (16) : 53 bahwa nikmat itu dari Allah.
Artinya : “Dan apa saj nikmt yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).
Kemudian Allah menjelaskan lagi dilain surah bahwa manusia tidak dapat mengitung banyaknya nikmat Allah. Artinya : “Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitungya nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).
Memang kita tau kalau nikmat itu dari Allah, namu yang sering kita lakukan adalah mendustakannya.
Mengapa semua ini terjadi? Karena pertama Mungkin dari kita tidak bisodorkan dengan agaman sejak dini hingga dewasa, sehinggan menjadi kebiasaan seperti kata pepatah “ala bisa karena biasa” karena memang sejak dini sampai dewasa kita sudah terbiasa untuk tidak mensyukuri nikmat yang Allah beriakan kepada kita bahkan kita tidak ingin mencari tau dengan akal yang sudah allah berikan, sehingga sering kali lisan kita mengeluhkan tentang postur tubuh, bentuk wajah, gigi, hidung, kemudian keluarga dan lain sebagainnya. Padahal itu semua adalah nikmat yang sudah Allah berikan. Kedua Lingkunga baik itu lingkungan sekolah, lingkunga keluarga, lingkungan sosial bahkan negara tidak saling mempedulikan dan saling acuh tak acuh. Padahal lingkungan juga sangat berpengaruh untuk memicu perubahan pola pikir manusia, selain dari didikan orang tua, lingkungan sosial dan negara pun sangat berpengaruh terhadap kesadaran masyarakat jika saja lingkungannya itu menerapkan kehidupan islam.
Lalu Apa yang harus kita lakukan? Pertama pelajari tentang siapa kita, apa tujunan hidup kita, dan dari mana kita berasal. Sehingga kita bisa tau kenapa kita dihadirkan didunia ini. Kedua berhenti mengeluh, Memangnya siapa kita sehingga mudah bagi kita untuk mengeluh ? bukankah kita hanya seonggok tulang berbungkus daging dari air yang hina (mani)! Kenapa harus mengeluh dengan jumlah rezeki yang kita punya toh, mengeluh juga tidak bisa merubah kehidupan kita dan bukankah kita dihadirkan dibumi ini tidak memiliki apa-apa, semua yang apa pada kita ini adalah milik Allah. Ketiga Ikhlaslah dalam menjalani hidup ini dan tawadhulah dalam bersikap tawadhu itu adalah bersikap rendah hati, merendahkan diri di hadapanNya, mengakui kelemahan kita sebagai manusia. Dan jadikanlah sifat syukur sebagai penghias selama di berada di bumi Allah SWT.
Wallahu alam…
No comments:
Post a Comment