Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dunia Darurat Virus Corona

Wednesday, March 11, 2020 | Wednesday, March 11, 2020 WIB Last Updated 2020-03-11T10:03:41Z


Oleh : Nur Fitriyah Asri
Penulis Opini Bela Islam Akademi Menulis Kreatif

Virus Corona (2019-nCoPV) berasal dari Wuhan, China, disebabkan oleh kelelawar yang dianggap sebagai sumber penyebaran. Gejala terinfeksi corona mirip dengan gejala coronaviros yang lain. Umumnya pasien mengeluhkan suhu tubuh tinggi, batuk kering, nafas pendek atau sulit bernafas. Menurut Peter Daszak, Presiden Eco Health Alliance, yang telah bekerja selama 15 tahun mempelajari bagaimana penyakit berpindah dari hewan ke manusia. Dilansir New York Times (Trubunnews.com, 3/2/2020)

Penyebaran wabah virus corona kemudian disebut covid-19, semakin meluas.
Telah menginfeksi lebih dari 100 ribu orang di 91 negara secara global.

Dalam laporan yang dilansir Agence France Presse (AFP), diklaim berdasarkan informasi dari WHO, jumlah korban tewas akibat virus mematikan tersebut mencapai 3.407 orang. Angka tersebut lahir dari total infeksi mencapai 100.002 kasus. (Jum'at, 6/3/2020)

Sejak menjadi epidemi di Wuhan, China, penyebaran virus corona dinilai masif ke sejumlah negara lain, dengan lonjakan yang meningkat tajam pada beberapa pekan terakhir, terutama di Teheran, Iran yang kemudian menjadi hotspot virus yang mencatat 1.234 kasus baru.

Dari sejumlah angka tersebut China, yang  dideteksi muncul pada tahun 2019, telah mencatatkan 80.552 kasus. Warganya yang meninggal 3.042. AFP mencatat sejak Kamis (5/3) ada 143 infeksi baru dan 30 kematian.

Di luar China, total 19.450 kasus telah tercatat di seluruh dunia sejak epidemi dimulai, termasuk 365 kematian. Negara yang paling terkena dampak setelah China adalah: Korea Selatan (6.284 kasus, 42 kematian), Italia (3.858 kasus, 148 kematian), Iran (4.747 kasus, 124 kematian) dan Prancis (577 kasus, sembilan kematian).

Di Benua Asia, virus corona telah mencatat 88.388 kasus penjangkitan (3.101 kematian). Sementara itu di Eropa 6.284 kasus (165 kematian), Timur Tengah 4.993 kasus (127 kematian), AS dan Kanada 194 kasus (12 kematian), Oceania 68 kasus (dua kematian), Amerika Latin dan Karibia 34 kasus, Afrika 41 kasus.

Virus corona (covid-19), merupakan wabah yang membahayakan dan mematikan. Oleh sebab itu semua negara mengkarantina dirinya sendiri, dengan melarang rakyatnya keluar rumah, apalagi keluar negeri, begitu sebaliknya melarang masuk warga asing ke negaranya. 

Juga berupaya agar penyebarannya tidak semakin meluas, sehingga banyak acara-acara besar atau konser skala internasional yang dibatalkan. Semisal pembatalan konser musik di Korea dan negara-negara Asia. The Korea Times Music Festival yang rencananya digelar di Los Angeles, AS, pada April juga dibatalkan.

Bioskop-bioskop di Italia juga berdampak serangan virus corona. Seventeen pun membatalkan sisa tur dunia Ode to You yang meliputi Eropa dan Asia, setelah tampil di sejumlah kota di AS pada Januari lalu. Banyak idol Korea tak dapat menepati jadwal di AS sampai beberapa bulan ke depan, termasuk NCT 127, EVERGLOW, sampai Changmo. Hingga saat ini, diketahui Korea menjadi negara terdampak virus corona terbesar kedua setelah China.

Pertemuan internasional yang harus batal bertambah banyak akibat wabah virus corona Covid-19. Terbaru, perundingan dagang Indonesia dengan Uni Eropa (I-EU CEPA) yang rencana digelar di Bali terpaksa ditunda dan dijadwalkan ulang.

Setelah dua acara besar Mobile World Congress (MWC 2020) dan Camera and Photo Imaging Show (CP+) 2020 batal diselenggarakan akibat wabah virus corona, kini Facebook mengambil langkah serupa, yaitu membatalkan konferensi tahunan Global Marketing Summit karena ancaman virus corona. Acara ini semula akan digelar pada 9-12 Maret mendatang di Moscone Center, SOMA District, San Fransisco, AS.
Facebook lebih memprioritaskan keselamatan para peserta.(Kompas.com, 18/2/2020)

Dampaknya memang luar biasa, di samping korban jiwa juga menimbulkan kerugian ekonomi di seluruh dunia mencapai US$ 347 miliar atau sekitar Rp 4.962 triliun, dengan asumsi kurs Rp 14.300 per dolar AS. Berdampak memangkas ekonomi global sebesar 0,1%.

Kerugian materi juga menimpa 10 besar orang terkaya (miliarder) di dunia. Jeff Bezos, kehilangan USD 14.1 miliar atau Rp 199,3 triliun dalam sepekan terakhir, menjadikannya sebagai miliarder yang paling merugi. (Versi Forbes, 4/3/2020)

Negara-negara yang terinfeksi virus corona (covid-19) tidak lagi memikirkan kerugian berapapun  besarnya. Tapi, lebih mengutamakan dan memikirkan kesehatan dan keselamatan rakyatnya. Seperti yang dilakukan oleh Arab Saudi, berani menanggung kerugian dengan menyetop umrah selama tahun 2020. Padahal semua tahu berapa besar kerugiannya, jika jumlah yang umrah 7.5 juta x  2.5 juta, artinya rugi sekitar 17 triliun.

Fenomena di atas  justru berbalik, jika dibandingkan dengan di Indonesia yang adem ayem. Apakah tidak punya alat untuk mendeteksi virus atau memang sudah termakan hoaks bahwa virus corona tidak bisa hidup dan berkembang di dataran tropis, serta akan mati dengan sendirinya. Jika benar, maka menunjukkan betapa bahlul (bodohnya) rezim ini, menafikan upaya ikhtiar berupa pencegahan.

Bisa jadi rezim lalai terhadap rakyatnya, terbukti negara Australia, AS dan yang lainnya ada mosi tidak percaya kalau Indonesia bebas dari virus corona. Hingga ada kritikan pedas: 
"Tidak ada negara yang boleh merasa aman, itu fatal sekali. Virus ini punya potensi menjadi pandemi," tegas Ghebreyesus, seperti diberitakan Reuters, Jumat (28/2/2020).

Apakah pernyataan tersebut merupakan sebuah tamparan, sehingga membuat Presiden Jokowi secara resmi pada hari Senin, (2/3/ 2020) mengumumkan ada dua orang Indonesia positif terinfeksi virus corona atau Covid-19. Kemudian pada tanggal 9/3/2020 sudah bertambah menjadi 7 orang. 

Pengumuman resmi tersebut menuai kepanikan luar biasa, warga menyerbu toko-toko memborong barang kebutuhan, sulitnya mencari masker hingga harganya melambung tinggi, ironisnya masker pun kosong.

Itu sebuah bukti bahwa selama ada isu virus corona sejak Desember 2019, rezim bersikap acuh, masa bodoh dan tidak amanah. Seharusnya negara melakukan pencegahan dan memberikan edukasi kepada rakyatnya, sebagaimana yang dilakukan oleh negara-negara di seluruh dunia.

Justru yang dilakukan membuka keran lebar-lebar membiarkan tenaga asing China masuk dengan leluasa dan menggenjot pariwisata dari China. Belakangan mendapat sorotan tajam dari netizen.

Sepandai-pandainya menutupi bangkai,  akhirnya bau busuknya tercium juga. Terbukti kebohongan-kebohongan yang dilakukan rezim terendus pula. Dimana telah terbongkar adanya saling amputasi dalam kabinet Jokowi untuk menutupi kebohongan rezim. Dulu klaim bahwa tenaga kerja asing di Morotai, Maluku, hanya berjumlah 3.000 orang. Kini, menurut Menteri Tenaga Kerja, gara-gara virus korona terbongkar menjadi 40.000 orang TKA. Itu belum di wilayah Indonesia yang lain. Kalau begitu, sesungguhnya janji kampanye membuka lapangan kerja itu untuk siapa? 

Lagi dan lagi alasannya kecolongan. Padahal terjadi kongkalikong dengan China. Hal tersebut sangat membuktikan bahwa rezim lebih memilih mengorbankan rakyatnya, daripada dicap tidak setia kepada tuannya. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Kementerian Keuangan, sejak diberlakukan kebijakan pelanggaran, pemerintah kecolongan 811 warga China masuk ke Indonesia  Padahal mereka di Singapura diusir. http://m.liputan 6.com.

Ditambah pula statemen pejabat yang membuat bingung rakyat. Maunya ingin menenangkan, tidak tahunya justru malah membingungkan. Kata Menteri KesehatanTerawan Agus Putranto, "Publik seharusnya tidak perlu khawatir, tidak usah pakai masker, karena penyakit flu mempunyai angka kematian lebih tinggi daripada virus corona" kenapa bisa hebohnya luar biasa," katanya.

Adapun menurut Ketua WHO, Tedros Adhamon Ghebreyesus, menjelaskan bahwa virus corona lebih mematikan bila dibandingkan dengan flu. Sehingga angka kematian flu hanya di bawah 1 persen, sedangkan yang meregang nyawa akibat virus corona sudah mencapai 3,4 persen. Artinya,  pernyataan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto sesat, menyesatkan dan membahayakan.

Statemen "Indonesia aman-aman saja" menunjukkan rezim pembohong dan sombong. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Menkeu  Sri Mulyani di publik, bahwa brankas sudah kosong, tidak tahu bagaimana mencari jalan keluar untuk kemakmuran. Ditambah lagi China yang menjadi sandaran Indonesia ekonominya terpuruk gara-gara virus corona. Bisa jadi ekonomi Indonesia akan mandeg, sebab sebelum ada virus corona saja sudah memprihatinkan.

Gara-gara virus corona semua negara di dunia mengalami darurat, tidak ada yang membicarakan masalah investasi dan diprediksi berlangsung hingga 10 bulan ke depan.

Bagaimana Islam menyelesaikan virus corona.

Islam adalah agama sekaligus mabda' (ideologi) sebagai petunjuk hidup yang mengatur semua sendi kehidupan baik individu, keluarga, masyarakat maupun negara.

Oleh sebab itu Islam  mewajibkan masing-masing individu berakidah kuat agar taat syariat.

Islam mewajibkan negara untuk meriayah atau mengatur dan mengurus umat dengan syariah kaffah (QS al-Baqarah: 208)

Negara wajib memenuhi kebutuhan pokok (makan) yang cukup, bergizi, halal dan tayib bagi warga negaranya. Agar dapat hidup sehat dan mempunyai ketahanan tubuh terhadap berbagai  penyakit.

Allah berfirman dalam surah al-Maidah ayat 88 berikut:

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepada kalian, dan bertakwalah kepada Allah yang kalian beriman kepada-Nya.”

Negara harus menjadi garda terdepan, bersikap cepat, sigap dalam memberikan bantuan penanganan korban dan antisipatif mengisolasi agar tidak menular ke daerah lain. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.
"Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu," (HR Bukhari).

Tugas negara memberikan edukatif (pendidikan) terhadap warganya terkait makanan, kesehatan, kebersihan, dan perilaku hidup sehat.

Negara wajib memfasilitasi kesehatan untuk rakyatnya secara gratis.

Hanya Islam yang bisa memberikan solusi tuntas dan memuaskan tentang wabah virus corona. Rasulullah saw. bersabda, "Siapa pun yang bertanggung jawab atas urusan umat Islam, dan menarik diri tanpa menyelesaikan kebutuhan, kemiskinan, dan keinginan mereka, Allah menarik diri-Nya pada hari pengadilan dari kebutuhan, keinginan, dan kemiskinannya." (HR Abu Daud)
Wallahu a'lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update