Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bias Gender Membius Perempuan

Friday, March 20, 2020 | Friday, March 20, 2020 WIB Last Updated 2023-07-23T02:19:23Z
Oleh : Lisa Aisyah Ashar
 (Mahasiswi FTI USN dan Aktivis BMI Kolaka)

Liputan6.com, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus menyoroti masih sulitnya akses pelayanan kesehatan mendasar bagi perempuan di dunia menjelang Hari Perempuan Internasional. Tedros ingin menggunakan momen Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada Minggu, 8 Maret 2020 untuk mengingatkan bahwa di seluruh dunia, banyak wanita tidak dapat mengakses layanan kesehatan mendasar dan terus menderita dari penyakit yang seharusnya dapat dicegah dan diobati. Namun, menurut dia, Hari Perempuan Internasional merupakan kesempatan untuk tidak hanya mempromosikan dan melindungi kesehatan perempuan, tetapi juga menyoroti peran vital mereka mempromosikan dan melindungi kesehatan semua orang.

Secara global, 70 persen tenaga kesehatan adalah perempuan tetapi hanya 25 persen di antara mereka mampu berperan hingga level manajemen. WHO berkomitmen untuk mempromosikan kesetaraan gender terutama bagi tenaga kesehatan.

"Kami cukup bangga kami telah mencapai kesetaraan gender dalam tim kepemimpinan senior kami di kantor pusat WHO, meskipun kami tahu masih ada yang harus kami lakukan di bagian lain organisasi," ujar Tedros seperti dikutip dari Antara. Menurut dia, perempuan juga memainkan peran vital dalam merespons wabah virus corona.

Mendalami Akar Masalahnya
Kini, perempuan banyak menjadi sorotan dunia. Bahkan memiliki satu hari khusus/spesial yang terimplementasi dalam Peringatan Internasional women's Day (Hari Perempuan Internasional) yang jatuh pada 8 Maret. Namun, masih menunjukkan bahwa peningkatan kesetaraan gender tidak berpengaruh pada penurunan kekerasan terhadap perempuan. 

Ide kesetaraan gender yang digaungkan merupakan alat tempur memperkeruh harmoni dalam keluarga dan masyarakat dengan menanamkan nilai-nilai liberalisasi. Menyajikan solusi kesetaraan gender merupakan pola pikir liberal yang mengundang berbagai masalah baru berupa konflik persoalan disharmoni dalam keluarga dan masyarakat.

Hal ini menjadi dasar pergolakan dalam lingkup perempuan tatkala banyaknya kasus menjerat, sehingga memicu suatu gerakan menyuarakan ide kesetaraan gender agar mampu melepas rantai yang selama ini memasung kebebasan perempuan. Namun seiring dengan sajian ide yang dihidangkan, rupanya bertolak belakang dengan realitasnya, sebab bertentangan dengan kodrat perempuan yang menuntut sepadan dengan laki-laki. Lantas apa yang patut dibanggakan? Apabila kebijakan dan gerakan yang mengangkat kesetaraan gender, nyatanya tidak menyurutkan jumlah dan jenis persoalan yang menjerat kaum perempuan. Justru jumlahnya kian meningkat mulai dari eksploitasi ekonomi, kekerasan seksual, komersialisasi di media, hingga tiadanya jaminan kesehatan.

Komisi Anti Kekerasaan terhadap Perempuan (Komnas kasus kekerasaan terhadap anak perempuan (KTAP). Sepanjang 2019, Komnas mencatat terjadi 2.341 kasus atau naik 65 persen dari tahun sebelumnya sebanyaknya 1.417 kasus. Komisioner Komnas Perempuan Mariana Amiruddin mengatakan kasus kekerasan terhadap anak perempuan yang paling banyak terjadi adalah inses, yakni sebanyak 770. Menyusul berikutnya seksual adalah kasus kekerasan seksual sebanyak 571 kasus dan kekerasan fisik sebanyak 536 kasus. Komnas Nasional (Komnas) Perempuan mencatat kenaikan sebesar 300 persen dalam kasus kekerasaan terhadap perempuan lewat dunia siber yang dilaporkan melalui Komnas Perempuan. Kenaikan tersebut cukup signifikan dari semula 97 kasus pada 2018 menjadi 281 kasus pada tahun 2019 (KOMPAS.com, 6/3/2020).

Dengan demikian, secara nyata mematahkan klaim penggiat gender bahwa feminisasi upaya melindungi perempuan hanya bualan semata. Pasalnya, persoalan perempuan termasuk kerusakan perilaku kesusilan adalah akar dari liberalisme yang tiada lain merupakan nilai-nilai esensial yang terkandung dalam kapitalisme. Paradigma Kapitalisme bertopeng manis yang dibalut ide-ide feminisme yang pada hakikatnya tidak memuliakan perempuan, sebab peran perempuan semata-mata hanya ladang untung bagi bisnis kapitalis dan tak lepas dari kepentingan liberal yang berkedok pemberdayaan perempuan. Amat sukar mengecap keadilan, apabila teguh menggantungkan harapan di sistem kapitalisme yang sejatinya tak pernah ramah menyambut perempuan.

Islam Memuliakan Perempuan
Islam lebih awal hadir memuliakan perempuan tanpa harus menuntut  keadilan dengan kesetaraan gender. Sebagaimana yang telah dituturkan Ali ra. Bahwa Rasulullah saw. Juga pernah bersabda: “Perempuan adalah saudara kandung laki-laki. Tidak memuliakan kaum perempuan kecuali orang mulia dan tidak merendahkan mereka kecuali orang hina.”” (HR. Ahmad at-Tirmidzi dan Ibnu Asakir).

Seruan para penggiat kesetaran gender pada hakikatnya tidak sedang menyetarakan kedudukan laki-laki dan perempuan, melainkan lebih tepatnya menebarkan kebencin ajaran Islam yang dimana Islam telah mengatur perempuan serta relasinya dengan lawan jenis. Bagi para penggiat kesetaraan gender, hal demikian dianggap sebagai ajaran dan aturan yang memasung perempuan. Seringkali aturan patriarki yang dilontarkan menyasar pada tatanan syariah Islam bahwa kedudukan perempuan dianak tirikan. Padahal, dalam Islam laki-laki dan perempuan sama sebagai manusia dan Islam tidak pernah mempersoalkan kesetaraan laki-laki dan perempuan secara berlebihan, dilihat dari banyaknya dalil nas yang memaparkan demikian tanpa membedakan laki-laki dan perempuan. 

Diantaranya Al- Qur’an telah memaparkan. “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.” (QS. An-Nisa:32) .

Istilah kesetaraan tidak pernah termaktub di dalam Islam, istilah dan wacana tersebut justru dilontarkan oleh Barat. Sebab kala itu, mereka telah merenggut hak-hak wanita sebagai manusia. Oleh sebab itu, kaum wanita Barat meminta haknya dengan tuntutan kesetaran gender. Dibalik sudut pandang penggiat kesetaraan gender terselip paham-paham yang jelas bertentangan dengan akidah dan syariah Islam.Dan sikap kita sebagai kaum Muslim hendakya kita tidak terbuai oleh ide kesetaraan gender, bahkan mestinya tidak merespon ide tersebut dengan tangan terbuka. Sebagaiman yang termaktub dalam Al-Quran Surah Al Hasyr Ayat 7, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya”.

Maka, sangat aneh apabila tuntutan kesetaraan gender lebih lantang disuarakan oleh kaum muslim yang hanya mengekor kepada Barat, yang telah nyata merenggut hak asasi kaum wanita. Maka jelas ,Islam tidak mengenal istilah kesetaraan justru lebih tepatnya mengantarkan kepada ketinggian martabat manusia seperti yang termaktub dalam Al-Quran Surah Al-Isra Ayat 70, “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezei dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan sempurna”.”.

Alhasil, tanpa perlu susah payah serta menyalahi Syariah Islam untuk memenuhi hak perempuan, semestinya jalur yang ditempuh para perempuan tak bertumpuh kepada sistem kapitalisme, sekluarisme yang menjadikannya tumbal. Langkah tepat yang diperoleh tiada lain menjadikan Islam sebagai poros hidup. Semua hanya dapat dirasakan kembali, apabila Islam diterapkan secara Kaffah dalam naungan Khilafah. Wallahu a’lam  bi ash-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update