Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Maraknya Bullying : Stop dengan Islam

Sunday, February 16, 2020 | Sunday, February 16, 2020 WIB Last Updated 2020-02-17T09:14:05Z


Oleh : Nuni Toid
Pegiat Dakwah dan Member Akademi Menulis Kreatif

Seorang anak tidak mau berangkat sekolah karena setiap hari selalu dibullying teman-temannya dengan julukan "Anak miskin…, ga pernah jajan…, anak miskin…, ga pernah jajan….

Tentu saja olok-olokan teman-temannya itu membuat anak tersebut menjadi sedih, malu, minder, dan rendah diri. Dan yang paling fatal bullying tersebut telah membuat luka yang membekas di hatinya dan dia semakin mengurung diri di rumah dan tumbuh menjadi kepribadian yang rapuh,  lemah dan tak percaya diri.

Itu hanyalah sebuah contoh saja. Yang mungkin pada kenyataan memang ada di sekitar kita yang menjadi korban atau bahkan menjadi pelaku bullying tersebut.

Maraknya bullying terhadap anak-anak saat ini sangatlah meresahkan para orang tua. Bukan hal yang aneh bila di suatu tempat terjadi bullying atau perundungan. Bullying adalah suatu tindakan atau perilaku yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok yang lebih kuat kepada seseorang dengan tujuan ingin menyakiti. Baik secara fisik, verbal atau pun emosional.

Dilansir dari Inilah.com (Sabtu, 8/2/2020), KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) mencatat dalam kurun waktu 9 tahun dari tahun 2011 sampai 2019, ada 37.381 pengaduan. Untuk bullying baik di pendidikan maupun sosial media mencapai 2.473 laporan.

Bahkan Januari sampai Februari 2020, setiap hari publik kerap disuguhi berita fenomena kekerasan anak. Seperti siswa yang jarinya harus diamputasi; kemudian siswa yang ditemukan meninggal di gorong-gorong sekolah; serta siswa yang ditendang sampai meninggal. 

"Tentunya ini sangat disadari dan menjadi keprihatinan bersama. Kalau melihat skala dampak yang disebabkan dari tiga peristiwa di atas, memperlihatkan gangguan perilaku yang dialami anak. Gangguan perilaku tersebut perlu diantisipasi sejak awal," kata Komisioner KPAI, Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasa Putra.

Menurut Jasa, pemicu bullying sangat banyak. Seperti tontonan kekerasan, dampak negatif gawai, penghakiman media sosial. "Dan itu kisah yang berulang, karena bisa diputar balik kapan saja oleh anak, tidak ada batasan untuk anak-anak mengkonsumsinya kembali," tuturnya.

Jasa menambahkan, fenomena paparan kekerasan sangat represif masuk ke kehidupan anak dari berbagai media. Tentunya fenomena zaman ini. Perlu menstimulasi sekolah untuk membaca kondisi kejiwaan setiap siswanya. Artinya sangat tidak cukup sekolah hanya memiliki satu guru konseling. "Bahwa ke depan guru konseling bukan profesi sampingan, apalagi dibebankan juga dengan mengajar," tuturnya.

Mencermati maraknya  bullying yang semakin masif di negeri ini menandakan kegagalan pembangunan SDM (Sumber Daya Manusia) karena berlandaskan sekularisme. Begitu pun dengan prestasi yang diraih oleh siswa (anak) bukan menjadi jaminan kemampuan anak mengatasi masalah pribadi dan interaksi dengan lingkungan.

Sekularisme tanpa disadari telah menggerus pemikiran dan pola pandang masyarakat saat ini. Terutama para orangtua yang hanya menekankan prestasi akademik  pada anak saja. Sedangkan pendidikan agama tidak ditanamkan sejak kecil.  Agama hanyalah sebagai keyakinan saja.

Akibatnya anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang kasar, susah diatur, terkesan liar dan pembangkang. Tidak punya karakter yang kuat. Yang ada semakin labil, mudah terpengaruh dengan budaya-budaya Barat. Begitu pun dengan sikapnya yang arogan, suka menyakiti orang lain. 

Maka anak pun akan sulit berinteraksi dengan lingkungan, terkesan hanya berkelompok dengan membuat komunitas sendiri. Bebas melakukan hal-hal yang dilarang agama. Berhura-hura, mengganggu orang lain. Yang tadinya hanya sekadar iseng menjadi kejahatan yang membahayakan keselamatan orang lain. Tak ada kesadaran akan kehidupannya di masa depan. Bahwa kelak di pundaknya  negeri ini akan menjadi tanggung jawabnya.

Beginilah bila peran agama dijauhkan dalam kehidupan. Sekularisme menjadi poros pandang negeri ini. Agama hanyalah sebatas keyakinan ritual individu saja. Tak berhak mengatur kehidupannya. Diperparah dengan kapitalisme yang merongrong negeri ini. Semua aktivitas berdasarkan materi atau keuntungan. Begitu pun dalam penilaian kesalehan seorang anak  dinilai hanyalah sebatas anak punya prestasi saja. Ujung-ujungnya materi juga.

Berbeda jauh dengan Islam. Islam agama yang sempurna yang memiliki seperangkat aturan yang sahih. Bagaimana agar anak tidak terpapar bullying. Maka tugas para orang tua adalah harus bisa mengokohkan keimanan anak-anak sedini mungkin. Mereka tidak bisa dibiarkan ber-Islam tanpa keimanan. Penanaman keimanan pada anak berarti mengurai simpul besar yang terkait dengan kehidupan manusia. Seperti dalam firman-Nya :
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS adz-Dzariyat [51] : 56)

Orang tua selain menanamkan keimanan, pun harus mampu menghadirkan keyakinan pada anak-anak untuk senantiasa dalam melakukan setiap aktivitas haruslah sesuai dengan tuntunan syariat Islam.
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu." (QS al- Baqarah [2] : 208).

Begitu pun kita harus memberikan pemahaman pada anak bahwa setelah penghidupan ini berakhir akan ada penghidupan yang kekal. Dimana setiap amal manusia akan dihisab dan berujung pada surga atau neraka. 

Dengan pola pendidikan seperti ini diharapkan anak-anak  memahami dan akan tertancap dengan kuat pada dirinya kesadaran akan adanya Sang Pencipta, yaitu Allah Swt.  Bahwa Allah Swt. yang menciptakan alam semesta dan semua isi yang ada di dunia ini dan mengatur keberlangsungan kehidupan yang ada di dunia. 

Yang tak kalah pentingnya adalah orangtua harus memberikan pemahaman  bahwa agama Islam bukanlah sekadar agama ritual. Tapi Islam adalah aturan yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja dengan bahasa yang benar dan mudah dipahami oleh anak. Demikian pula dalam penerapannya pun dilakukan dengan cara yang ma'ruf bukan dengan cara kekerasan. 

Begitu pun dengan pendidikan Islam. Dalam sistem pendidikan Islam yang diterapkan dalam negara khilafah, tidak hanya memberikan pendidikan tentang moral Islam,  tapi juga membentuk kepribadian Islam, yaitu memiliki pola pikir dan pola sikap berdasar Islam. Maka anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, kokoh beriman, dan berlandaskan aturan Islam.

Sebagai contoh ketika kekhalifahan Umar bin Khattab, pendidikan adalah salah satu yang menjadi pusat perhatiannya. Kepada setiap panglima perang bila telah berhasil menaklukkan suatu wilayah maka di haruskan membangun masjid di daerah tersebut sebagai pusat ibadah dan pendidikan. Jadi pada masa itu pusat pendidikan adalah di Madinah. 

Begitu pun dengan Umar sendiri. Ia merupakan seorang pendidik yang memberikan penyuluhan di kota Madinah. Umar juga mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk setiap daerah yang ditaklukan. Dan tugasnya adalah mengajarkan kandungan Al-Qur'an dan ajaran Islam kepada penduduk yang baru masuk Islam. 

Metode yang digunakan pada masa kekhilafahan adalah dengan membuat halaqah-halaqah yaitu guru duduk di ruang masjid sedang muridnya melingkarinya. Biasanya setiap halaqah terdiri dari 20 murid. Sang guru menyampaikan pelajaran kata demi kata serta artinya kemudian menjelaskan kandungannya. Sementara murid menyimak, mencatat, dan mengulanginya apa yang dijelaskan oleh gurunya serta berdiskusi.

Untuk tenaga pendidik Umar memberikan honor/gaji yang bersumber  dari baitul mal. Tercatat di masa kekhilafahannya, tenaga pendidik tingkat dasar diberikan gaji sebesar 15 dinar. 1 dinar setara dengan 4,25 gram emas. Jika dinilai dengan harga dinar saat ini yang berharga Rp 2.937.360,- (logam mulia.com), maka guru memperoleh penghasilan sebesar Rp. 44.060.400,-. Jumlah yang luar biasa fantastis. Umar pun dipandang sebagai seorang penggagas terbentuknya ilmu pemerintahan Islam. 

Itulah gambaran betapa negara (khilafah) sangat memperhatikan para generasi Islam agar menjadi cerdas dan saleh. Semua memang tak lepas dari peran orang tua, lingkungan dan negara yang mengayomi dan memberikan pelayanan dengan segala fasilitas dan sarana yang menunjang pendidikan bagi generasi bangsa. 

Menurut Yasmin Malik,   setidaknya terdapat enam konsep penting ketika mendidik generasi, serta membangun dan melindungi identitas Islamnya. (Media Umat, Edisi 193, 17 Maret-6 April 2017). 
Pertama, harus membangun pola pikir kritis. Cara berfikir ini dalam diri anak didik muslim adalah langkah mendasar dalam pembangun keyakinan dalam pikiran dan pendapat Islam.

Kedua, membentuk keyakinan mengenai keberadaan Allah dan kebenaran Al-Qur'an. Sehingga mereka tidak punya sedikit pun keraguan tentang kebenaran Islam.

Ketiga, memelihara sebuah kerinduan tentang surga (jannah). Bahwa sedikitnya kesenangan hidup di dunia dibandingkan dengan kehidupan selanjutnya. 

Keempat adalah memberikan pemahaman bahwa Islam adalah dien dan memahami bahwa pentingnya budaya dan sejarah Islam. Para generasi harus tahu bahwa Islam sebagai solusi untuk semua permasalahan di setiap sendi kehidupan.

Kelima, membongkar iming-iming jalan hidup sekuler liberal. Bahwa setiap permasalahan yang terjadi di dunia adalah karena sistem buatan manusia.

Keenam, membangun rasa tanggung jawab untuk dien mereka, umat dan manusia. Yang tak boleh terlewat harus diajarkan memahami tanggung jawabnya kepada Allah sebagaimana firman-Nya :

Hai orang-orang yang beriman! Penuhilah Allah dan Rasul-Nya, apabila Dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.  (QS an-Anfal [8] :24).

Menurut Yasmin, pendidikan Islam akan berhasil jika menghasilkan anak didik muslim yang menghargai bahwa panggilan Islam adalah kewajiban tertinggi. "Ini berarti Islam tidak akan hanya menjadi bagian dari kehidupan mereka, tapi juga poros hidup mereka.

Maka agar tercipta generasi Islam yang cerdas dan saleh/salehah adalah dengan menegakkan Daulah Khilafah a'la minhajin nubuwwah yang akan memelihara, memfasilitasi, dan melindungi identitas Islam dan generasi umat.

Wallahu a'lam  bishshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update