Oleh: Mia Agustiani
Sektor pariwisata di Indonesia dianggap sangat potensial untuk menjadi kunci dan solusi dalam menghadapi dampak ekonomi akibat perang dagang yang memanas antara Amerika Serikat dan China. Sejak perang dagang memanas, pariwisata menjadi sektor ekonomi yang tidak berdampak.
Staf ahli Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) bidang sinergi ekonomi dan pembiayaan, Amelia Adininggar meyatakan, ditengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, sektor pariwisata justru mampu mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara.
"Analisa sementara mewujudkan industri pariwisata tidak terpengaruh oleh perang dagang, orang-orang tetap berwisata, " kata Amelia dalam keterangannya. (Republika.co.id, Jum'at 28/6).
Sementara di Sumedang, puluhan orang penari mengalami kesurupan massal. Mereka terlihat menjeri-jerit histeris sambil menari dengan gerakan acak dan tak karuan di Waduk Jatigede, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Selasa 31 Desember 2019.
Kejadian tersebut terjadi saat puluhan orang seniman tersebut sedang mengikuti kegiatan Tari Umbul Kolosal yang diikuti 5.555 orang seniman yang berasal dari seluruh wilayah di Kabupaten Sumedang. Tari Umbul Kolosal tersebut diselenggarakan oleh Pemkab Sumedang. (Notif.id-31/12/2019).
Tradisi adat buang Nahas di kampung Talisayan, Kecamatan Talisayan, dikawasan Pantai Talisay (23/10) lalu. Tradisi adat yang selalu digelar diakhir bulan safar tahun Hijriyah tersebut, bertujuan untuk membuang segala keburukan dan berdoa bersama untuk mendapat keselamatan, kemakmuran dan dijauhkan dari segala bencana.
Namun masyarakat dan panitia pelaksana Buang Nahas tahun ini, sangat kecewa. Kecewa pada Camat Talisayan Mansyur yang disebut tidak merestui adat mereka.
Dikatakan Ketua Panitia Buang Nahas, Karbal Jamrah, Camat Talisayan memang menyampaikan kepada pihaknya bahwa Tradisi Buang Nahas dianggap tidak sesuai dengan akidah dalam Islam. Makanya Camat tidak memberikan restu dan tidak bersedia menghadiri acara adat masyarakat pesisir Berau tersebut. (Prokal.co, 25/10/2019).
Pada dasarnya dalam pandangan Islam, bahwa melakukan suatu aktifitas wisata dan menikmati kekayaan alam dari Allah SWT adalah mubah. Sebagaimana dalam firman Allah: (Al-Ankabut:19-20) Menegaskan bahwa manusia perlu mengadakan perjalanan untuk melakukan penelitian tentang aneka peninggalan sejarah dan kebudayaan manusia. Penelitian ini dapat menyadarkan manusia bahwa ia mahluk Allah yang fana. Dan di surat (Yusuf :109) Secara tegas menganjurkan agar menelusuri berbagai negeri.
Namun sederet fakta yang ada merupakan sejumlah upaya liberalisasi pariwisata yang hanya dijadikan asas manfaat sebagai penghasil devisa negara, sehingga pariwisata dieksploitasi yang berujung hanya untuk dikeruk keuntungan bisnis semata.
Demikian juga konsep penjajahan yang tampak kokoh yang hanya fokus pada aspek non strategis bahkan menyesatkan opini publik dengan menganggap pembangunan pariwisata bisa menghadapi kesulitan ekonomi akibat perang dagang Amerika Serikat dan China. Padahal layaknya dikte sang penjajah mereka mengeruk kekayaan strategis negeri ini dengan sangat leluasa.
Tak habis tujuan liberalisasi hanya matrealisme semata, akidah umat Islam sebagai kunci kekuatan umat pun terancam goyah, dengan adanya invasi ideologi selain Islam. Justru ladang bisnis ini dengan gagahnya menghidupkan kearifan lokal yang ternyata bertentangan dengan akidah.
Islam memiliki dimensi berbeda tentang pariwisata, yaitu pariwisata yang dijadikan ladang dakwah dan juga sarana di'ayah (propaganda). Dimana tujuan wisata adalah untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT. Kedua, pariwisata bukan sebagai penghasil devisa, karena masih ada sumber-sumber penghasilan yang lainnya.
Jauh dari konsep liberalisasi pariwisata, visi negara Islam yaitu konsep Manhaj Khilafah, yakni dengan menerapkan Islam ke seluruh penjuru dunia, amar ma'ruf nahi mungkar yaitu dengan tidak membiarkan kemungkaran dalam dunia pariwisata dan menjaga kemurnian ideologi dan peradaban Islam.
Obyek wisata peradaban Islam yang ada diantaranya masjid-masjid yang memiliki sejarah peradaban Islam, Masjid Aceh misalnya. Masjid Ayya Shopia yang awalnya adalah sebuah gereja yang dirubah menjadi Masjid sebagai saksi peradaban Islam. Justru dengan adanya jejak peradaban Islam maka akan lebih menguatkan keimanan kita kepada Allah SWT dan yakin kalau dahulu peradaban Khilafah pernah ada pada puncak kejayaan.
Adapun obyek wisata yang bertentangan dengan peradaban Islam adalah, misalnya ada tempat ibadah non muslim yang masih digunakan maka akan dibiarkan, sedangkan patung Disney Land yang ada ditempat wisata harusnya dihancurkan karena tidak sesuai dengan Syariat Islam. Wallahua'lam.

No comments:
Post a Comment