Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Banjir dan Pembangunan ala Kapitalistik

Saturday, January 11, 2020 | Saturday, January 11, 2020 WIB
Penulis : Siti Fatimah 
(Pemerhati Sosial dan Generasi)

Banjir lagi, banjir lagi!!! Setiap tahun banjir selalu mendatangi warga ibu kota DKI Jakarta. Laksana kunjungan annual yang sudah menjadi suatu kebiasaan atau rutinitas. Dan kali ini ada yang tidak biasa dari musim banjir seperti yang dialami pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu area genangan air yang meluas hingga 17 kecamatan dan 39 kelurahan dari yang semula hanya 5 kecamatan dan 8 kelurahan per -Januari tahun 2018-2020. Jumlah korban meninggal di DKI yang semula 0 di tahun 2018 menjadi 9 orang, sementara jumlah pengungsi yang semula 0 pun juga berubah menjadi sekitar 11.000 orang lebih.

Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) merilis data terbaru bahwa jumlah korban meninggal akibat banjir di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) sebanyak 30 orang korban. Rincian korban meninggal terbanyak berada di Kabupaten Bogor 11 orang, kemudian Jakarta Timur 7 orang, Kota Bekasi dan Kota Depok masing-masing 3 orang, dan masing-masing 1 orang untuk Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Kabupaten Bekasi, Kota Bogor dan Kota Tangerang (nusantara.rmol.id)

Berbagai macam komentar dari para pejabat negara pun bermunculan. Terutama para pejabat dari daerah terdampak banjir akibat hujan deras yang melanda kota Jakarta dan sekiranya sejak Selasa sore (31/1) hingga Rabu pagi (1/1). 
"Kalau curah hujan tidak ada kaitannya dengan bangunan karena curah hujan datang dari atas toh, tapi pengendalian air yang sudah turun, disitu letak tantangannya,” kata bapak Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan. 

Lain lagi dengan komentar Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi yang menyebutkan bahwa banjir yang terjadi di sejumlah wilayah akibat penggundulan hutan, penyempitan dan pendangkalan sungai hingga pembangunan yang jor-joran tanpa mengindahkan tanah rawa, sawah dan cekungan danau. Maka dari itu, Dedi mengajak semua pihak memperbaiki kesalahan, termasuk membenahi tata ruang dan bangunan.

Bila dipelajari, bahwasanya masalah banjir langganan ini memang bukan semata-mata akibat dari faktor alam berupa intensitas curah hujan yang meningkat. Ataupun karena buruknya drainase, kurangnya dan tidak berfungsinya resapan-resapan air atau pun akibat dari minimnya jumlah kanal, melainkan adanya masalah sistemik yang lahir dari diberlakukannya sistem Kapitalisme. 

Bagaimana hal ini bisa terjadi???
Seperti yang kita ketahui, pembangunan itu sangatlah penting. Ya, amat sangat penting. Namun, perlu memperhitungkan masalah ekosistem alam sekitar. Perlu mempelajari dan memperhatikan karakter daerah yang sedang dibangun, mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan lokasi, serta menyediakan solusi atas masalah yang dimungkinkan akan timbul atas pembangunan yang akan dilakukan tersebut. 

Saat ini pemerintah memang tengah mengadakan pembangunan secara masif, mulai dari infrastruktur mau pun pembangunan berbagai macam gedung yang di lakukan oleh pihak pengembang swasta. Namun sangat disayangkan karena tata kota/pembangunan gedung-gedung serta infrastruktur tersebut diserahkan kepada kemauan para penguasa kapitalis yang hanya berkepentingan dan berorientasi pada kemenangan atas bisnis mereka, mengutamakan profit tanpa memperhatikan faktor pelestarian dan keselamatan lingkungan.

Pembangunan masif tersebut mengurangi jumlah pepohonan yang seharusnya menjadi resapan air terutama di daerah pegunungan dan perbukitan untuk dijadikan hunian dan villa. Pembangunan gedung diatas tanah yang seharusnya menjadi area penampungan air tanpa mempertimbangkan Analysis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
Pembangunan di atas tanah pertanian sehingga jumlah petani dan lahan hijau menjadi berkurang sehingga berimbas pada maraknya kegiatan impor hasil bumi oleh oknum pejabat dan berakibat pada lesunya ekonomi rakyat.

Pembangunan tinggi tanpa diimbangi oleh penyerapan tenaga kerja akibat dari kesepakatan kerjasama pengembang yang mendatangkan tenaga kerja asing berbuntut pada meningkatnya jumlah pengangguran. Pekerjaan yang membutuhkan skill khusus di dominasi oleh Asing sementara pekerjaan kasar diisi oleh pekerja domestik. Hal ini tentu saja mempengaruhi segi pendapatan pekerja lokal yang relatif kecil. Belum lagi masalah kesehatan dan pendidikan yang tidak murah menambah daftar hitam penyebab kemiskinan yang berdampak pada pola hidup yang tidak sehat.

Terlebih harga properti yang cukup mahal mendorong masyarakat kurang mampu untuk hidup di rumah-rumah petak yang kumuh dan membangun gubuk-gubuk kecil di bantaran kali. Bisa dibayangkan bagaimana pola hidup mereka yang bisa jadi memiliki daya kesadaran minim atas penjagaan kebersihan terutama kesadaran untuk tidak membuang sampah di sungai yang dapat menyumbat aliran air sehingga dapat menyebabkan banjir. Rumah-rumah ditepian kali ini pun juga merupakan salah satu penyebab terjadinya banjir dikarenakan semakin menyempitnya saluran air disungai oleh pemukiman warga. Bila hal ini terus dibiarkan maka banjir akan tetap menjadi langgana setia yang akan menjadi momok bagi seluruh penduduk Jakarta dan sekitarnya.

Dari rangkaian problematika diatas dapat diambil satu kesimpulan bahwa masalah banjir bukanlah berasal dari faktor alam saja, juga bukan hanya masalah teknis apalagi masalah siapa pemimpin daerahnya, siapa Gubernur-nya. Masalah banjir merupakan masalah yang bersumber dari sistem, penyelesaiannya tidak cukup hanya melalui perbaikan secara teknis saja tetapi harus menyentuh pada perubahan ideologis. 

Terbukti nyata saat ini bahwa ideologi Kapitalisme melahirkan kerusakan fisik/lahiriah berupa berbagai macam bencana alam akibat kurangnya kepedulian terhadap semesta yang diciptakan oleh Allah SWT dan juga bencana akibat ulah tangan mereka sendiri dengan memicu peperangan didaerah-daerah tertentu, pembuatan pabrik-pabrik dan senjata kimia, peledak nuklir dengan daya hancur yang sangat luar biasa serta polusi yang menyertainya, efek radiasi yang merusak makhluk hidup bahkan gen yang ada pada generasi berikutnya selama kurun waktu yang cukup lama pemulihannya.

Tak hanya fisik, kerusakan mental yang dilahirkan ideologi Kapitalisme dengan mengagungkan kebebasan berfikirnya, kebebasan atas hak milik, kebebasan berbuat dan bertingkah laku membuat manusia menjadi hilang akal dan hati nurani. Tak mengenal halal dan haram, dosa dan pahala serta surga dan neraka. Tak ada ruh dalam setiap gerak langkah dan perbuatan mereka.

Hanya ideologi (mabda) islam yang mampu mengatasi seluruh problematika kehidupan, dengan menerapkan hukum-hukum Allah SWT, mematuhi hukum syara', menerapkan seluruh syariah-Nya dalam setiap sendi kehidupan melalui penegakkan Khilafah 'alaminhajinubuwah. 

Allah SWT berfirman:
وَاَ نِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَآءَهُمْ وَا حْذَرْهُمْ اَنْ يَّفْتِنُوْكَ عَنْۢ بَعْضِ مَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ اِلَيْكَ ۗ فَاِ نْ تَوَلَّوْا فَا عْلَمْ اَنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّصِيْبَهُمْ بِبَـعْضِ ذُنُوْبِهِمْ ۗ وَاِ نَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّا سِ لَفٰسِقُوْنَ
"Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memerdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 49)

Tak heran apabila akhir tahun 2019 dan awal tahun 2020 ini banyak terjadi bencana akibat dari kemaksiatan yang umat manusia lakukan dan ketiadaan atas penerapan hukum Allah SWT. 
Maka dari itu sesuai dengan isi surah Al-maidah tersebut, atas ijin Allah Azza Wajalla, Insyaa Allah Islam akan mampu mengatasi semua masalah termasuk masalah banjir dinegeri ini. Terbukti dengan masih berdiri dengan kokohnya hingga kini bendungan di kota Cordoba peninggalan kejayaan peradaban Islam. Salah satu bendungan tertua peninggalan Islam yang masih berfungsi, terdapat di Sungai Guadalquivir Spanyol. 
Betapa sejarah membuktikan bahwa Islam telah melahirkan generasi penerus yang cerdas dengan teknologi yang tangguh luar biasa pada masanya, dengan mengedepankan kemaslahatan umat dan pengabdianan secara totalitas kepada Sang Khaliq pemberi kehidupan umat manusia.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update