Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tiadanya Perisai, Umat Islam Terus Berjatuhan

Friday, January 10, 2020 | Friday, January 10, 2020 WIB Last Updated 2020-01-10T11:50:31Z
Oleh : Zaesa Salsabila
Aktivis Serdang Bedagai

Pembantaian secara biadab tentara China terhadap kaum Muslimin di Uyghur, telah mengingatkan kita pada sabda Rasulullah ﷺ,
 “Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya”.  (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Sangat miris, darah umat muslim terus berjatuhan dengan sangat biadab. Hal ini karena ketiadaan seorang perisai yang mampu melindungi umat dari serangan kafir penjajah. Bahkan sekalipun ada pemimpin muslim yang dengan mayoritas penduduk islam di dunia tidak mampu menghentikan kekejian China pada muslim yang ada di Uyghur, Rohingnya, dan Palestina.

TEMPO.CO. Tindakan keras Pemerintah China terhadap etnis minoritas Muslim Uyghur telah mendapat kecaman internasional. Namun beberapa suara yang sebenarnya signifikan, yakni dari negara-negara Muslim malah nyaris tak terdengar.
Para pengamat mengatakan pemerintah negara-negara Muslim memang tidak dimasukkan ke dalam satu kategori, namun, ada sejumlah kesamaan utama di balik kebisuan mereka, yakni pertimbangan politik, ekonomi dan kebijakan luar negeri. Senin, 24 Desember 2018.

Hal ini juga dikarenakan adanya sekat Nasionalis dan adanya perjanjian ekonomi antar negara. Sehingga pemimpin negeri muslim hanya bisa diam bahkan tak mau ikut campur dengan permasalahan yang terjadi di negeri China tersebut. Jeratan hutang dan berbagai investasi yang ditanamkan China di Indonesia sangat berpengaruh terhadap kebijakan yang akan diambil pemerintah Indonesia. Dalam hal ini termasuk untuk memberikan pertolongan terhadap muslim di Uyghur. 

Jangankan mengirimkan bala tentaranya, sekedar mengecam sajapun lidah pemerintah kita sudah keluh. Bahkan pemerintah menekankan agar rakyat Indonesia tidak turut campur. Sebegitu hebatnya bukan pengaruh ekonomi China terhadap Indonesia.

Bila ada negeri kecil yang jauh di Afrika Barat (Gambia) menunjukkan protes dan menggugat kekejaman Myanmar terhadap Rohingya melalui lembaga dunia, seharusnya menggugah seluruh dunia Islam untuk bersikap lebih baik sebagai manifestasi ukhuwah Islamiyah. Namun posisi Indonesia sebagai pemimpin ASEAN maupun anggota Dewan Keamanan pun tidak berpengaruh terhadap sikap pembelaannnya.

Ini semua menyadarkan kita bahwa para pemimpin di berbagai negeri muslim tidaklah lain merupakan antek asing yang bekerja untuk kepentingan pribadi. Berbeda dengan kepemimpinan islam yang dahulu pernah diterapkan dalam kancah kehidupan.

Pemimpin dalam islam adalah bagai perisai untuk umatnya, dimana umat berlindung kepadanya dari berbagai serangan. Sedangkan saat ini sosok perisai dan periayah itu tidak terlihat pada pemimpin muslim di seluruh dunia. Sebab kepemimpinan mereka bukanlah pemimpin yang berasaskan islam, melainkan kepemimpinan yang bersumberkan dari akidah sekuler yang lahir dari ideologi kapitalis.

Lantas masihkan kita akan berharap melalui sistem kapitalis ini akan mampu membebaskan saudara kita dari segenap kebengisan kafir kepada umat islam. Sudah pasti jawabanya tidak!.

Selama sistem yang diterapkan adalah sistem kufur warisan kafir, maka selamanya umat islam akan terus mengalami penindasan baik dari segi fisik maupun ekonomi. Maka dari itu hanya dengan menerapkan islam kita bisa menyelamtkan saudara kita yang ada di luar negeri. Karena sistem islam yang akan menerapkan aturan Allah, sehingga tidak ada penguasaan asing kepada suatu negeri. Semua terlaksana dalam bingkai negara yang dipimpin oleh seorang Khalifah.

Dengan adanya khalifah, maka umat islam akan mampu disatukan sehingga tidak ada lagi sekat negara. Umat menjadi satu dan kekuatan akan terjaga. Tidak ada lagi musuh islam yang akan bisa menyentuh jiwa kaum muslimin.

Wallahu a’lam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update