Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sambut Tahun Baru Dengan dilanda Banjir, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Friday, January 10, 2020 | Friday, January 10, 2020 WIB Last Updated 2020-01-10T11:34:12Z
Oleh: Anis Kamila
Cileungsi, Bogor

Hari demi hari berlalu akhirnya kita tiba pada tahun baru 2020 masehi. Sebagian menyambut dengan gegap gempita perayaan new year, sebagian menyambut dengan doa dan harapan. Yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya adalah Allah memberikan kita kado dengan guyuran hujan sehari semalam tepat dimalam tahun baru. Kemudian terjadilah banjir, tidak hanya di Jakarta namun sampai daerah Jabodetabek lainnya pun yang biasanya tidak banjir, ikut tergenang air. 

Sahabat, banjir itu adalah salah satu cara Allah mengkonfirmasi dua hal; pertama kekuasaanNya, bahwa Dia yang menurunkan hujan dan memberikan kekuatan pada air untuk mengalir dan menggenangi dataran rendah. Kedua, ada kemungkaran yang dilakukan manusia hingga menyebabkan banjir akibat melawan sunnatullah yang ada di alam semesta. 
Allah SWT mendatangkan musibah untuk mengingatkan dan mengembalikan kesadaran spiritualitas manusia akan azab Allah SWT. Allah Ta'ala berfirman:

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ . أَمْ أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

Apakah kalian merasa aman dari (azab) Allah Yang (berkuasa) di langit saat Dia menjungkirbalikkan bumi bersama kalian. Lalu dengan itu tiba-tiba bumi berguncang? Ataukah kalian merasa aman dari (azab) Allah Yang (berkuasa) di langit saat Dia mengirimkan angin disertai debu dan kerikil Lalu kelak kalian akan tahu bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? (QS al-Mulk [67]: 16-17).

Kemungkaran seperti apa sih yang dilakukan manusia sehingga membuat Allah menurunkan teguran untuk manusia?
Pertama, karena tidak diindahkannya hukum-hukum dan aturan Allah. Kemungkaran yang biasa dilakukan masyarakat itu sendiri. Kian hari makin bertambahnya kemaksiatan yang terjadi, perayaan tahun baru yang seharusnya tidak dilakukan oleh kaum muslim namun masih banyak yang melakukannya dengan foya-foya dan pesta. Kurangnya kepedulian terhadap lingkungan, masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Mengotori saluran air dan menyumbatnya. 
Allah Ta’ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

Kedua, kebathilan dalam tata ruang daerah yang saat ini dikelola oleh penguasa dan pengusaha dzolim. Mengapa bathil? Karena Jakarta, juga kota-kota lain di Indonesia tidak ditata dengan semangat ri’ayah atau mengurus umat. Negeri ini, secara keseluruhan, ditata dengan spirit kapitalisme. Semangat mengeruk keuntungan dan kekayaan lalu mempertaruhkan hajat hidup publik seperti ruang hijau, kawasan resapan air, dsb. Bahkan dengan atas nama aneka pajak dan devisa, kepemilikan umum seperti hutan, situ/danau, pantai semua ‘dihajar’. Devisa dan PAD adalah ‘berhala’ pembangunan di tanah air. Itulah konsekuensi kapitalisme sebagai sistem ekonomi.

Datangnya hujan memang semestinya menjadi berkah bagi negeri. Tapi bila pembangunan yang ada minus spirit ri’ayah, diganti dengan jiwa serakah para kapitalis, maka berkah berubah menjadi musibah. Para pengusaha dan penguasa mungkin bergembira manakala keuntungan, PAD dan devisa berlimpah. Tapi di ujung kegembiraan itu ada lorong bencana menanti. Sebagaimana sudah Allah peringatkan jauh-jauh hari:

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.(QS. al-An’am: 44)

Maka program penanggulangan banjir apapun, termasuk rencana pembangunan deep tunnel tidak akan menyelesaikan persoalan. Karena big and essential problem-nya bukanlah pada tata ruang wilayah, akan tetapi pada ideologi yang dianut atau sistem lunak yang dijalankan oleh negeri ini. Persoalan banjir di ibu kota  — dan wilayah manapun – akan terus terjadi bila negara selalu kalah apalagi mengalah pada kaum kapitalis dalam membangun negeri. Negeri dan hajat hidup publik pun tergadaikan.

Dengan adanya musibah kita sebagai kaum muslimin harus menghadapinya dengan sikap sabar dan ridha, selalu berupaya melakukan perbaikan. Dengan musibah, manusia juga diharapkan menyadari betapa lemah dirinya dan betapa terbatas kemampuannya. 
Manusia juga diharapkan kembali menyadari bahwa sebagai makhluk ciptaan dan hamba dari Al-Khaliq tidak selayaknya bermaksiat kepada-Nya, menyimpang atau menyalahi peringatan (wahyu)-Nya serta mendustakan dan mengabaikan hukum-hukum dan syariat-Nya. Sudah saatnya kita kembali kepada aturan Sang pencipta mewarisi apa yang Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bawa. Maka dengan demikian keberkahan yang sesungguhnya pun akan dirasakan seluruh makhluk di bumi, karena Islam adalah Rahmatan Lil Alamin (Rahmat bagi seluruh alam semesta).

Wallahu a'lam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update